Sabtu, 30 April 2016

ANALISA STADION                                                                                                                                                                                                                        1. Analisa Aspek Lingkungan 2. Analisa Kondisi Eksisting Tapak dan Sekitarnya Terdapat beberapa point yang ada disekitar lokasi tapak yang dapat dianalisa. Point-point tersebut yaitu: 1. Kegiatan Sekitar Lingkungan Tapak Jenis kegiatan, peruntukan fungsi dan sarana yang ada diatas tapak dan sekitarnya dapat dilihat pada table berikut ini: Tabel IV.1.1.1. Analisa sekitar tapak di Senayan Posisi Dari Tapak Jenis Kegiatan dan Fungsi Di atas tapak - Bangunan wisma atlet yang tidak di operasionalkan lagi Posisi Utara - Bangunan Mezquita geloran  difungsikan untuk tempat peribadahan umat Islam - Stadion Utama Gelora Bung Karno 54 Posisi Selatan - Lahan kosong - Plaza Senayan Arcadia  (pusat perbelanjaan) Posisi Timur - Hotel Atlet Century  merupakan tempat penginapan bagi atlet - Lapangan baseball senayan - Lapangan golf Posisi Barat - Gedung Koni Pusat  kantor pengelola Gelora Bung Karno 55 - Senayan golf .1. Kegiatan di sekitar tapak   Dari hasil tinjauan Sisi Utara dan Selatan tapak memiliki sudut pandang yang cukup menarik untuk menonjolkan keistimewaan pada bentuk bangunan. Hal ini didukung oleh jalan utama yaitu Jl. Pintu Satu Senayan yang sering dilalui oleh kendaraan. 2. Akses Transportasi dan Lalu Lintas Sekitar Tapak Lokasi tapak berada di jalan Pintu Satu Senayan yang mengarah ke stadion utama GBK. Jalan ini merupakan jalur yang cukup ramai dilalui oleh kendaraan-kendaraan (kendaraan pribadi dan bus trans) Jalan Pintu Satu Senayan terhubung ke jalan Jenderal Sudirman (Barat) dan jalan Asia Afrika (Timur). Perkantoran, Apartemen dan Bank Panin Perkantoran, high rise building Gedung DIKTI, Hotel Atlet Century, Plaza FX Stadion utama GBK, Mesjid Perkantoran koni Lokasi tapak 56 Peta IV.1.1.1. Sirkulasi kendaraan di sekitar tapak keramaian terjadi hampir pada setiap saat karena lokasi ini berdekatan dengan jalan utama. Puncak keramaian dapat terjadi pada saat terdapat event-event tertentu seperti adanya pertandinganpertandingan sepak bola, dll. 3. Ketinggian Bangunan Sekitar Tapak Jumlah lapis atau ketinggian di sekitar tapak cukup bervariasi. Ketinggian bangunan KONI pusat yang ada di sebelah timur tapak mencapai +/- 12 lantai dan bangunan hotel Atlet Century yang berada di sebelah timur tapak mencapai +/- 17 lantai. Gambar IV.1.1.2. Jumlah lapis bangunan di sekitar tapak Sumber Google maps Ketinggian bangunan di sekitar tapak sangat mempengaruhi beberapa faktor seperti pengaruh view bangunan, datangnya angin, dan bayangan cahaya matahari. Aliran angin akan berbelok jika Jl.Pintu Satu Senayan Jl.ManilaKebayoran lama +/-20 Lt +/-20 Lt +/-12 Lt Hotel Century Diknas 1 Wisma atlet yang akan dirancang Koni pusat 57 terdapat objek di depannya. Oleh sebab itulah diperlukan pertimbangan matang dalam perancangan wisma atlet. Simulasi pembayangan pada bangunan yang akan dirancang menggunakan software sketchup, dimana posisi Jakarta terletak pada 6o – 7o LS dan 107o – 108o BT adalah seperti dibawah ini ; Tabel IV.1.1.2. Analisa pembayangan pada wisma atlet di Senayan Pembayangan Tapak Waktu Jam 06.00 WIB Kondisi pembayangan masih belum tampak di lokasi tapak. Jam 09.00 Matahari pagi menyebabkan pembayangan pada bangunan di lokasi tapak Jam 12.00 WIB Posisi matahari berada di atas gedung, menyebabkan pembayangan di sekeliling bangunan Jam 15.00 WIB Posisi matahari berada di Barat menyebabkan posisi bangunan yang menghadap Utara terjadi https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ6g7JvryLVArNn2b8NHc3cq8TO_yvcQMVXfq7aLZV37d-hBwjkpembayangan 58 Jam 18.00 WIB Pembayangan hanya sedikit terjadi pada bagian Barat.  Sumber: Dokumentasi pribadi Kesimpulan dari analisa pembayangan yang terjadi di lokasi wisma atlet – Senayan adalah cahaya matahari yang mengenai tapak tidak terhalang oleh bangunan tinggi di sekitarnya karena pengaruh jarak antar bangunan yang relatif cukup jauh. Pembayangan terjadi hanya karena terdapat objek di atas tapak itu sendiri. Perencanaan dan perancangan jumlah lapis pada wisma atlet di perkirakan mencapai +/- 20 lapis. Pertimbangan ini diambil karena lokasi tapak berada di area bangunan medium rise – high rise. Gambar. Analisa ketinggian wisma atlet  Sumber Google maps IV.1.2. Analisa View 1. View Dari Tapak View dari tapak ke sebelah Utara berupa jalan utama yaitu Jl. Pintu Satu Senayan dan di seberang jalan terdapat view kearah pepohonan hijau yang di sekitarnya terdapat bangunan mesjid Mezquita Geloran, dan view utama dari tapak ke sebelah Utara adalah stadion utama Gelora Bung Karno. 20 lt 59  View ke pintu masuk senayan dan ke stadion utama GBK Sumber : Dokumentasi pribadi dan web googles Perletakan massa bangunan disesuaikan dengan potensi view yang ada. Bangunan wisma atlet  diletakkan pada posisi bangunan yang menghadap ke Utara dan Selatan tapak. Sementara untuk area servis   di sebelah Barat atau Timur. Gambar IV.1.2.1. Respon desain ke view sekitar tapak Sumber : Google maps Pertimbangan (+) dan (-) pada view bangunan di lokasi tapak ditentukan oleh potensi-potensi view yang ada disekeliling tapak. Apakah bangunan yang ada di sekeliling tapak terlalu tinggi sehingga menghalangi view dari dalam ke luar tapak. 2. View Dalam Tapak Dilihat dari bentuk tapak yang hampir membentuk segiempat, maka pertimbangan pada beberapa bagian tapak akan ditanami penghijauan yang mengelilingi tapak, dengan maksud untuk menciptakan penghijauan didalam area tapak. View ke bangunan tinggi View ke beberapa bangunan tinggi View ke lapangan olahraga & RTH View ke stadion utama GBK 60 Gambar IV.1.2.2. Penghijauan di sekeliling tapak .sumber Google maps Selain menciptakan penghijauan, pada area tapak dirancang sebuah plaza dan area publik tempat orang-orang berkumpul, sehingga terdapat aktivitas yang berlangsung di dalam tapak. 3. View Ke Tapak View ke tapak pada saat ini terdapat bangunan wisma atlet fajar. Bangunan ini merupakan bangunan lama yang di redesain atau dibangun kembali. Lokasi tapak berada di tempat yang cukup strategis. Hal ini dikarenakan jalur utama kendaraan yang melalui tapak tersebut. Sehingga dari arah jalan dapat melihat ke dalam tapak. Gambar IV.1.2.3. View ke tapak dari Jl. Pintu Satu Senayan. Kesimpulan dari analisa view ke tapak adalah https://hariskal.files.wordpress.com/2009/05/gbk-2.jpg?w=640    penerapan perancangan lingkungan di lokasi tapak, adalah dengan pembuatan plaza, tempat komunal seperti ruang terbuka hijau dengan tempat duduk. Hal Bangunan lama wisma atlet fajar yang aka dibangun kembali 61 ini dimaksudkan agar view tercipta didalam tapak menjadi lebih menarik dan hidup secara kegiatan. Gambar IV.1.2.4. Perencanaan taman di dalam tapak . Analisa Kebisingan Lokasi tapak yang berdekatan dengan jalan utama menyebabkan kebisingan didalam tapak tidak dapat dihindari. Oleh karena itulah diperlukan solusi dalam mengatasi kebisingan tersebut seperti pengolahan zona ruang pada bangunan. Lantai bawah akan  dimanfaatkan sebagai ruang publik. Ruang-ruang diatasnya difungsikan sebagai tempat hunian dan berbagai fasilitasnya. Selain itu dapat juga dengan pemanfaatan barrel pada bagian depan tapak serta penanaman tanaman untuk mereduksi kebisingan yang berasal dari jalan utama. Solusi lainnya dapat menggunakan material bangunan yang dapat mereduksi suara seperti double glazing dan dinding yang lebih masif. Gambar IV.1.3.1. Penempatan fungsi dan lansekap untuk menghindari kebisingan Sumber : Google maps Unit kamar Ruang aktivitas dan publik Area servis Barrel pepohonan Sumber kebisingan 62 Berdasarkan analisa kebisingan, sumber kebisingan lebih di dominasi dari arah jalan utama yaitu Jl. Pintu Satu Senayan yang banyak dilalui oleh kendaraan. Oleh sebab itulah diperlukan langkah-langkah dalam mengatasi kebisingan tersebut agar tidak menggangu bangunan wisma atlet. Tabel IV.1.3.1. Analisa mengatasi kebisingan Penggunaan tanaman sebagai pemecah kebisingan Memundurkan massa bangunan agar jarak bising tidak sampai ke bangunan Pembagian zoning yang tepat Sumber : Dokumentasi pribadi Berdasarkan dari analisa kebisingan, penentuan peletakan massa bangunan, pengaturan zoning dan pemilihan tanaman pada bagian tapak yang dekat dengan kebisingan, sangat diperlukan sekali agar tidak merusak view bangunan yang tercipta pada lokasi tapak. IV.1.4. Analisa Iklim Menurut analisis dan penelitian menggunakan thermometer di lokasi serta menurut data dari badan Meteorologi dan https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEisN-ryk2NtjP8jh6sL8Yjj4BInzJ4hF-C2NE4cUZOUk-i08NrJUCl7C_Lng98oWIsN7DEtKTU8rVe8xxOwYuM1nejaHnRV6S2A5ZvE95UbcI0GfHCqfdoiJlWJUeA7WmBDcLRfZ9SiYqw/s1600/02.pngGeofisika, hasil yang didapat adalah suhu rata-rata mencapai 30 - 340 C. Kondisi lingkungan tersebut terasa sejuk apabila cuaca sedang mendung dan juga dikarenakan terdapat pepohonan di sekitarnya, jika kondisi cuaca sedang panas kondisi suhu baik di dalam ruangan maupun di luar bangunan akan terasa cukup panas. Foto,  Pepohonan pada sekeliling tapak Sumber : Dokumentasi pribadi privat Semi privat Publik Tanaman 63 Di butuhkan penghijauan untuk menciptakan suhu udara yang nyaman di lokasi tersebut. Selain penghijauan pada tapak, penghijauan pada bangunan juga dapat dilakukan seperti roof garden, green roof, vertical garden dan pembuatan air mancur atau kolam untuk menurunkan suhu panas lingkungan. IV.1.5. Analisa Vegetasi Di sekitar lokasi tapak terdapat cukup banyak penghijauan, karena lokasi Senayan ini selain direncanakan untuk pembangunan juga sebagai paru-paru jakart. Hampir setiap area dipenuhi oleh pepohonan yang sudah cukup lama berada di lokasi tersebut. Di lokasi tapak terdapat beberapa pohon eksisting yang ada di sekeliling tapak. Perancangan pembangunan gedung akn diusahakan tidak menggangu pepohonan yang ada. Jika memang ada yang menggangu view atau struktur maka pepohonan akan di pindahkan. Gambar IV.1.5.1. Pohon eksisting yang ada di tapak Sumber : Google maps Foto IV.1.5.1. Pohon-pohon eksisting yang ada di tapak Sumber : Dokumentasi pribadi 64 IV.1.6. Analisa Sirkulasi Ruang Luar 1. Sirkulasi Manusia Dilihat dari kondisi tapak yang berbentuk memanjang dan pertimbangan-pertimbangan mengenai tapak yang berdekatan dengan jalan Pintu Satu Senayan maka jalur sirkulasi manusia direncanakan dan dirancang mengelilingi tapak. Untuk menjaga keamanan dan privasi dari penghuni wisma atlet ini maka akan dibuat sebuah pemisah antara luar tapak dan dalam tapak. Gambar IV.1.6.1. Sirkulasi manusia Sumber : Google maps Gambar IV.1.6.2. Pemisah atau pembatas kegiatan tapak Sumber : Architectural Graphic Standard Sirkulasi manusia 65 Pemisahan juga dapat berfungsi untuk membatasi dua kegiatan yang berbeda, sehingga tidak menggangu kegiatan orang lain. 2. Sirkulasi Kendaraan Bermotor Sirkulasi kendaraan bermotor dibatasi dengan luasan seminimal mungkin atau sesuai dengan fungsinya. Hal ini dimaksudkan untuk memaksimalkan area pejalan kaki dan ruang terbuka hijau. Penerapannya dapat berupa area-area pedestrian pada tapak yang dipisahkan dengan kendaraan-kendaraan bermotor agar tidak terjadi cross Hasil gambar untuk analisaa tampak stadion gbkantara pejalan kaki dan kendaraan bermotor. Sirkulasi kendaraan bermotor didalam tapak di batasi dengan penyediaan fasilitas tempat parkir dan akses sirkulasi di dalam tapak. hal ini dimaksudkan agar tapak terbebas dari kegiatan kendaraan yang berlebihan sehingga terhindar dari polusi udara. Gambar IV.1.6.3. Pedestrian eksisting pada lokasi tapak Sumber : Dokumentasi pribadi 3. Sirkulasi Matahari Posisi tapak memanjang ke arah Barat dan Timur sehingga orientasi massa bangunan lebih mengarah ke arah Utara dan Selatan. Hal ini memberikan keuntungan tersendiri bagi massa bangunan. Panas matahari tidak akan mengenai langsung ruang-ruang yang ada pada bangunan. Perencanaan ruang pada posisi Barat dan Timur, dimanfaatkan untuk area servis. Hal ini dimaksudkan untuk tidak menggangu para penghuni wisma atlet tersebut. Area parkir ME SE 66 Gambar IV.1.6.4. Sirkulasi matahari pada lokasi tapak Sumber : Google maps Tabel IV.1.6.1. Analisa matahari Bagian Bangunan Yang Terkena matahari Waktu Jam 06.00 WIB Sisi bagian pendek bangunan yang terkena cahaya matahari Jam 09.00 WIB Sisi bagian bangunan yang menghadap Timur yang terkena cahaya matahari Jam 12.00 WIB Posisi matahari berada di posisi atas bangunan dan mengenai atap bangunan Jam 15.00 WIB Cahaya matahari mengenai bangunan yang cenderung lebih menghadap ke arah Selatan T B Bangunan wisma atlet lama yang akan dibangun kembali  peran cahay secon beber skin perm 4. Angi maka berad knot sebag T Kec 2 m/detik Kesehatan penghuni terpengaruh oleh kecepatan angin yang tinggi 2.3 – 4.20 C Sumber : Ilmu fisika          bangunan Berdasarkan data diatas maka kecepatan angin yang paling nyaman bagi manusia adalah 0.25 – 0.5m/detik. Untuk lokasi tapak di Senayan berdasarkan data BMKG yang mengambil lokasi Pondok Betung sebagai lokasi yang paling dekat dengan lokasi Senayan menyatakan bahwa kecepatan angin rata-rata mencapai 0.8 – 1.5m/detik dengan suhu udara tertinggi 350 C dan suhu udara terendah mencapai 250 C - 280 C. Gambar IV.1.6.6. Data BMKG kecepatan angin Sumber : Web BMKG Gambar IV.1.6.7. Data BMKG rata-rata suhu udara Sumber : Web BMKG Kecepatan Masih maksimal nyaman Suhu dapat mencapai 350 C Suhu dapat mencapai 25- 280 C 69 Dari data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kecepatan angin di Senayan khususnya di lokasi tapak cukup kencang pada saat bulan-bulan tertentu dengan suhu udara yang cukup tinggi, sehingga diperlukan solusi pada saat perancangan bangunan wisma atlet, seperti ukuran bukaan jendela dan penanaman pohon untuk membelokan aliran angin serta menciptakan sirkulasi udara yang baik. IV.1.7. Analisa Pencapaian ke Tapak Terdapat dua jalan utama menuju ke lokasi tapak yaitu Jl. Pintu Satu Senayan dan Jl. Manila – Kebayoran Lama. Tabel IV.1.7.1. Analisa pencapaian ke tapak Kelebihan alternatif 1: - Posisi main entrance berada di jalan utama Pintu Satu Senayan. - Side entrance berada pada Jl. Manila – Kemayoran Lama, sehingga dapat menghindari kemacetan jalan utama - Posisi tapak lebih terlihat dari arah jalan utama, sehingga memudahkan sirkulasi keluar masuk tapak. - Servis entrance di letakan pada bagian tapak yang menghadap ke Jl. Manila – Kemayoran Lama. Jalur ini dipilih berdasarkan pertimbangan jalur sirkulasi dari jalan ini yang dapat tembus ke arah Jl. Pintu Satu Senayan. Dan juga untuk menghindari terganggunya kegiatan didalam tapak. Kekurangan alternatif 1 : - Side entrance dan servis entrance berada pada satu jalur keluar, sehingga membuat sirkulasinya lebih padat di ME SE SV ME SE SV 70 dalam tapak. Kelebihan alternatif 2 : - Main entrance dan side entrance berada di Jl. Pintu Satu Senayan yang merupakan jalur utama - Servis entrance berada di Jl. Manila – Kemayoran Lama, sehingga tidak menganggu jalur sirkulasi di dalam tapak. Kekurangan alternatif 2 : - Side entrance berada di jalan utama Pintu Satu Senayan, dapat menyebabkan kemacetan pada jalan utama. - Sirkulasi servis entrance tidak mengelilingi tapak, sehingga lokasi servis hanya ditentukan di beberapa lokasi saja. Sumber : Dokumentasi pribadi dan web google Dari analisa pencapaian ke tapak maka dipilihlah http://www.bolaskor.com/wp-content/uploads/2013/10/GBK.jpgalternatif 1, untuk di terapkan dalam perancangan wisma atlet di Senayan. Alternatif 1 dipilih karena pertimbangan jalur sirkulasi di dalam tapak yang memanfaatkan 2 sirkulasi jalan yang ada di Senayan yaitu Jl. Pintu Satu Senayan dan Jl. Manila – Kemayoran Lama. IV.1.8. Analisa Orientasi Massa Bangunan Orientasi massa bangunan sangat dipengaruhi oleh aspek matahari, arah angin, view, dan letak pintu masuk. ME SV SE servis ME SV SE servis B B Tabel U S U S IV.1.8.1. Ana K - - - - - K - - - K - - T T alisa orientasi m Kelebihan a Massa ba matahari B Tampak terlihat de Senayan d Lama. Keadaan sejuk. View lebih Orientasi menerima karena an arah Selat Kekurangan Posisi ba arah jalan Luasnya b yang terk dan Selat khusus da Diperluka mengatasi menerpa l Kelebihan a Sirkulasi baik pada Posisi terciptany cukup ba massa banguna alternatif 1 : angunan terh Barat dan Ti depan b engan jelas dan Jl. Mani di dalam h menarik bangunan c a arah da ngin bertiup tan ke Utara n alternatif angunan tam n. bidang perm kena cahaya tan, sehing alam menagg an solusi i kecepatan langsung ke alternatif 2 udara dapat a jalur kiri ka bangunan ya sirkulasi aik di dalam an : hindar dari imur. angunan d di Jl. Pintu ila – Kemay ruangan ukup baik d atangnya a p cenderung 1 : mpak datar mukaan bang a matahari gga perlu s gapinya. khusus d n angin bangunan. : t tercipta de anan bangun memungki i manusia tapak. 71 sinar dapat Satu yoran lebih dalam angin dari dari gunan utara solusi dalam yang engan nan. inkan yang 72 - Posisi massa bangunan cukup baik karena massa bangunan yang memiliki penampang yang lebih kecil yang menghadap ke arah datangnya angin, sehingga kecepatan angin yang menerpa massa bangunan dapat dibelokan. Kekurangan alternatif 2 : - Bangunan akan cukup panas karena orientasi massa bangunan menghadap ke http://assets.kompasiana.com/statics/files/14134433931614598544.jpg?t=o&v=700sebelah Barat dan Timur. - Bangunan tidak terlalu terlihat dari arah jalan utama. - Posisi massa bangunan dapat menciptakan tornado angin pada bagian area tapak dan juga dapat menyebabkan tidak adanya sirkulasi udara diantara bangunan tersebut, dikarenakan terhalang oleh 2 – 3 massa bangunan. Sumber : Dokumentasi pribadi dan web google IV.2. Analisa Aspek Manusia IV.2.1. Analisa Pelaku Kegiatan Pelaku kegiatan dibagi menjadi 4 kelompok yang memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda : 1. Penyewa Wisma Atlet Pelaku kegiatan pada wisma atlet ini adalah penghuni atau para atlet yang menyewa wisma atlet. Para atlet menyewa wisma atlet untuk tinggal dan mempersiapkan pertandingan-pertandingan yang akan dilaksanakan. Target pengunjung lainnya adalah pada saat 73 terdapat event-event pertandingan seperti pertandingan sepak bola, karate, badminton dan tenis. 2. Staf Pengelola - Administrasi Staf pengelola adalah orang yang bertugas mengurus administrasi penyewaan unit hunian pada bangunan wisma atlet. Staf pengelola administrasi meliputi orang-orang yang bekerja dalam kantor pengelolaan, dan staf yang terlibat langsung dengan tamu. 3. Staf Pengelola – Servis Staf pengelola – servis adalah meliputi koki, housekeeping, teknisi, perawatan gedung, dan keamanan. Biasanya untuk housekeeping terdapat jalur khusus untuk kesetiap lantai. 4. Pelaku bisnis Sedangkan pelaku bisnis adalah orang-orang yang menjalankan usahanya seperti membuka toko-toko, retail shop, dan kios-kios. Pelaku bisnis ini biasanya menyewa ruang-ruang yang ada di lantai dasar untuk membuka usaha. Adapun syarat-syarat dan fasilitas-fasilitas yang harus dimiliki wisma atlet agar para pengunjung merasa cukup nyaman dalam melaksanakan aktivitasnya : 1. Wisma atlet harus dapat memberikan kenyamanan thermal, verbal, visual, dan spasial. 2. Wisma atlet menyediakan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan dalam menjalankan aktivitasnya. 3. Wisma atlet menyediakan cukup ruang untuk menampung atau mewadahi berbagai aktivitas pengunjung. 4. Area servis harus diperhatikan persyaratan-persyaratannya seperti kebersihan, agar tidak menganggu pengunjung atau penghuni kamar. 5. Wisma atlet harus dapat memberikan atau menciptakan keamanan dan privasi bagi penghuninya. IV.2.2. Analisa Penghuni (Atlet) Pengguna dari wisma atlet ini adalah atlet-atlet baik nasional maupun internasional. Selain untuk atlet, wisma atlet ini juga di sewa 74 untuk pelajar maupun masyarakat umum untuk menunjang produktivitas jangka panjang pada bangunan wisma atlet. Wisma http://assets.kompasiana.com/statics/files/1413446742415208141.jpg?t=o&v=700      atlet akan diperuntukan bagi atlet-atlet yang akan mengikuti pertandingan. Berikut adalah kegiatan atlet sepanjang hari. Tabel IV.2.2.1. Jadwal kegiatan atlet Pukul Kegiatan Pukul Kegiatan 04.00-05.30 Bangun, Gosok Gigi, Mandi, BersihBersih, sarapan 14.00-18.00 Latihan fisik (barbel, skipping, sit up, push up, benchpress, legpress, shoulder rising, dll) 05.30-07.00 Latihan fisik 18.00-19.00 Istirahat, Duduk 07.00-11.00 Sekolah 19.00-21.00 Sekolah 11.00-14.00 Istirahat, Makan, Tidur 21.00-04.00 Istirahat, Tidur, Duduk Sumber : Analisa aktivitas atlet dari jadwal kegiatan pada wisma atlet ragunan. IV.2.3. Analisa Jenis dan Kebutuhan Ruang 1. Rencana Program Ruang Wisma Atlet Gambar IV.2.3.1. Skema program ruang Sumber : Dokumentasi pribadi 2. Kegiatan Tamu Khusus Penghuni Wisma Atlet Plaza/lobby Parkir Hunian R.Penunjang K.Pengelol Taman Servis Main entrance securit 75 Gambar IV.2.3.2. Skema kegiatan tamu Sumber : Dokumentasi pribadi 3. Kegiatan Tamu Khusus Staf Pengelola Wisma Atlet Gambar IV.2.3.3. Skema kegiatan staff pengelola Sumber : Dokumentasi pribadi 4. Analisa kebutuhan ruang/unit hunian untuk 2 orang Tabel IV.2.3.1. Kebutuhan ruang untuk 2 orang No Kebutuhan Ruang Elemen Ruang Dimensi Ruang Sumber 1 Kamar tidur 1 Tempat tidur, Lemari pakaian, meja 17 m2 Survey 2 Kamar mandi Shower, kloset, wastafel 4 m2 Survey Berkunjung ke unit hunian yang dituju Parkir security Keluar masuk hunian melalui main & side entrance Pengelola R.Pengelola Entrance Cek security Parkir Kegiatan lain 76 3 Balkon Tempat duduk 3 m2 Survey TOTAL 24m2 Sumber : Dokumentasi pribadi a. Konfigurasi ruang/unit hunian pada wisma atlet Gambar IV.2.3.4. Skema program ruang unit hunian https://bym71.files.wordpress.com/2013/10/kompleks-gelora-bung-karno-senayan.jpg      Sumber : Dokumentasi pribadi b. Kegiatan penghuni wisma atlet pada unit hunian Gambar IV.2.3.5. Skema kegiatan pada unit hunian Sumber : Dokumentasi pribadi c. Kegiatan penghuni wisma atlet pada bangunan K. Tidur Balkon Km. Mandi Tidur Bersantai, duduk, mengobrol, Keluar/masuk Mck Balkon 77 Gambar IV.2.3.6. Skema kegiatan penghuni wisma atlet Sumber : Dokumentasi pribadi Berikut adalah kegiatan-kegiatan yang ada pada wisma atlet : a. Kegiatan penghuni wisma atlet Tabel IV.2.3.2. Kegiatan penghuni wisma atlet Ruang Kegiatan Pengguna Sifat Ruang Kamar tidur Beristirahat, Tidur Penghuni Privat, Tertutup Pantry/Dapur Masak, Cuci piring, Makan Penghuni, Pengunjung Servis, Terbuka Ruang Jemur Menjemur Pakaian Penghuni, Pengunjung Publik,Tertutup Kamar mandi Buang air besar & kecil, Mandi Penghuni, Pengunjung Privat, Tertutup Ruang bersama Duduk, Nonton, Bersosialisasi Penghuni, Pengunjung publik,Tertutup Taman Hijau Bermain, bersosialisasi, relaksasi Penghuni, Pengunjung Publik, Terbuka Sumber : Dokumentasi pribadi b. Kegiatan pengunjung wisma atlet Hunian Keluar masuk melalui main & side entrance Parkir security Toko, kios/retail Fasilitas umum R. Pengelola Istirahat, mandi, tidur, bekerja, beraktivitas 78 Tabel IV.2.3.3. Kegiatan pengunjung wisma atlet Ruang Kegiatan Pengguna Sifat Ruang Plaza Sirkulasi manusia, bersosialisasi Penghuni, pengunjung, pengelola Publik,Terbuka Ruang Komunal Bersosialisasi, berkumpul, penyelenggaraan acara Penghuni, Pengunjung, Pengelola Publik,Terbuka Kamar mandi Buang air besar & kecil, Mandi Penghuni, Pengunjung Privat, Tertutup Taman Hijau Bersosialisasi, relaksasi Penghuni, Pengunjung, Pengelola Publik,Terbuka Sumber : Dokumentasi pribadi c. Kegiatan pengelola wisma atlet Tabel IV.2.3.4. Kegiatan pengelola wisma atlet Ruang Kegiatan Pengguna Sifat Ruang Ruang Administrasi & Keuangan Pengurusan masalah administrasi dan keuangan Staff administrasi & keuangan Publik, tertutup Ruang Bulding Management Mengelola management gedung Staff Pengelola gedung Semi privat, tertutup Ruang unit pelayanan dan utilitas Mengelola sistem pengoperasian, pemeliharaan rutin dan preventif Staff pengelola teknis gedung Semi privat, Tertutup Ruang kepala pengelola gedung Diskusi dan rapat laporan bulanan Staff pengelola Semi privat, tertutup Kamar Mandi Buang air besar & kecil Staff pengelola Servis, tertutup Sumber : Dokumentasi pribadi d. Kegiatan pengelola – servis pada wisma atlet Tabel IV.2.3.5. Kegiatan pengelola – servis wisma atlet Ruang Kegiatan Pengguna Sifat Ruang Pos Keamanan Menjaga Keamanan 24 Jam Staff Keamanan Servis, Tertutup 79 Ruang ME & Genset Penempatan Mekanikal & Elektrikal, genset Staff Servis, tertutup Gudang Penyimpanan barang barang servis Staff Servis, Tertutup Sumber : Dokumentasi pribadi e. Kegiatan penunjang wisma atlet Tabel IV.2.3.6. Kegiatan fasilitas penunjang wisma atlet Ruang Kegiatan Pengguna Sifat Ruang Ruang serba guna Acara formal dan non formal Penghuni, pengunjung dan pengelola Publik, tertutup Ruang Komersil/ Retail Kegiatan jual beli kebutuhan sehari hari Penghuni, pengunjung dan pengelola Publik Musholla Beribadah Penghuni, pengunjung dan pengelola Publik, Tertutup Lapangan Serba guna Berolahraga, beraktifitas sosial Penghuni, pengunjung dan pengelola Publik, terbuka Ruang Terbuka Hijau Rekreasi, bermain, bersosialisasi Penghuni, pengunjung, pengelola Publik, terbuka Ruang Komunal Bersosialisasi, berkumpul santai Penghuni, pengunjung dan pengelola Publik, terbuka Sumber : Dokumentasi pribadi IV.2.4. Program Ruang Tabel IV.2.4.1. Program ruang wisma atlet di Senayan Jenis Kebutuhan Ruang Standart Sumber Jumlah Ruang Luas Ruang Hunian Hall/Lobby 250 m2 AS 1 250 m2 R.Penjaga 13m2 AS 2 26 m2 Unit kamar 24 m2 - 1000 24.000m2 Ruang bersama 0.05 m2 / room NAD 1 / lantai 0.05 x 500 x 20 = 500 m2 Total Luas Pelayanan Hunian 24.776 m2 80 Sumber : Data arsitektur dan Amerika standar https://cdn.tmpo.co/data/2015/10/12/id_444977/444977_620.jpg   Perhitungan regulasi jumlah kamar : ƒ Tapak proyek ini memiliki luas 10.891,18m2 . ƒ KDB = 20% ƒ Luas lantai dasar yang boleh dibangun = 20% x 10.891,18 = 2.178.24m2 . Jenis Kebutuhan Ruang Standart Sumber Kapasitas/ Jumlah Luas Ruang Kantor Pengelola R.Administrasi 2 m2 /orang NAD 3 12 m2 R.Keuangan 2 m2 /orang NAD 2 8 m2 R.Maintenance 2 m2 /orang NAD 2 12 m2 Toilet 9 m2 AS 2 18 m2 R. Marketing 2 m2 /orang AS 2 8 m2 R. Meeting 1,5 m2 /orang AS 12 18 m2 Total Luas Pelayanan Kantor Pengelola 76 m2 Jenis Kebutuhan Ruang Standart Sumber Kapasitas/ Jumlah Luas Ruang Penunjang Retail Kios 0.2 m2 / room NAD 4 0.2x500 x5=500 m2 Ruang Serba Guna 1 m2 /orang TS 175 175 m2 Mushola 11 m2 AS 8 88 m2 Toilet Umum 20 m2 NAD 5 100 m2 Gudang Perlengkapan 25 m2 AS 1 25 m2 Gymansium/fitnes 0.9 m2 /room NAD 135 121.5m2 Restauran 0.6 m2 /room NAD 500 300 m2 Kolam renang 58 m2 NAD 20 1160 m2 Laundry dan linen 0.7 m2 / room NAD 500 350 m2 Total Luas Pelayanan Ruang Penunjang 2819.5 m2 Jenis Kebutuhan Ruang Standart Sumber Kapasitas/ Jumlah Luas Ruang Servis R.Genset 100 m2 AS 1 100 m2 R.Panel 80 m2 AS 2 160 m2 R.Pompa 122 m2 AS 2 244 m2 Area Penampungan Shaft 36 m2 AS 4 144 m2 TPS 80 m2 AS 1 80 m2 Gudang 22 m2 AS 1 22 m2 Total Luas Pelayanan Ruang Servis 750m2 81 ƒ Perencanaan jumlah lantai = 20 lapis. ƒ KLB = 2,5. ƒ Luas total bangunan yang boleh dibangun=2,5 x 10.891,18= 27.227,95 m2 ƒ Sirkulasi 30% = 27.227,95 x 30% = 8168,385 m2 ƒ Luas total – sirkulasi = 27.227,95 – 8168,385 = 19059,565 m2 ƒ Hasil luas total dan sirkulasi : luas kamar : jumlah lantai : jumlah bangunan = 19059,565 : 24 : 20 : 2 = 20 unit kamar/lantai/bangunan. • Analisa jumlah parkir : Kebutuhan luas 1 mobil + sirkulasi = 25 m² Kebutuhan luas 1 motor + sirkulasi = 3 m² Kebutuhan parkir mobil service + sirkulasi = 35 m² • Mobil Skala ratio 5:1 Jumlah kamar 617 Jumlah mobil = 617 : 5 = 123 mobil Kebutuhan luas parkir mobil = 123 x 25 m² = 3.075 m² • Motor Kapasitas = 100 motor Kebutuhan luas parkir motor = 100 x 3 m² = 300 m² Total luas parkir penghuni = 3.375 m² • Bus Asumsi 1 bus berisi 50 orang. Jumlah unit kamar = 800. Jumlah bus = 800 : 50 = 16 bus. Di sediakan 8 tempat parkir bus yang sisanya akan diparkir di GBK (Gelora Bung Karno). Total luas parkir bus = 8 x 35 m² = 280 m² • Kendaraan servis Asumsi jumlah truck servis = 2 truck Total luas parkir truck servis = 2 x 35 m² = 70 m² Perhitungan Plumbing : • Kebutuhan air bersih Unit kamar 2 orang/unit = 135 x 1.234 orang = 166.590L Restaurant = 70 x 200 orang = 14.000L 82 Total = https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg7KsmWrv17i5jIeXOdIYPxB5yYxD5Ry7ijAd-QNNFoJoe-8qsluTSDL-rfylvxHL6-WKhfALHiLD7yiLjIR5_spIQ4K8XPwquaI50n1Qx_Zw6qzV2lYb_-r6vk7XhsdVOD-h6gWU91sNE/s640/www.108jakarta.com.jpeg166.590+14.000 = 180.590L • Kebutuhan air panas Unit kamar 2 orang/unit = 135 x 1.234 orang = 166.590L Kolam renang = 45 L x 20 orang = 900L Laundry = 20L x 617kmx 3 kg = 37.020L Restaurant = 2,5L x 200orang = 5000L Total = 209.510L • Pencegahan kebakaran Jumlah sprinkler = luas bangunan/25 = 27.227,95/25 = 1089 sprinkler Air sprinkler = jumlah sprinkler x 18x30L = 1089 x 18 x 30L = 588.060L Jumlah hidran = L. bangunan x2/800 = 27.227,95 x2/800 = 68 Jumlah air hidran = jumlah hidran x 40 x 30 = 68 x 40 x 30 = 81.600L Total = 588.060L + 81.600L = 669.660L Kebutuhan air bersih = volume air dingin + air hangat + air kebakaran = 180.590L+ 209.510L+ 669.660L= 1.059.760L Volume tangki bawah tanah = 40% x volume total = 40% x 1.059.760L = 423.904L = 450 m3 = 10m x 9m x 5m Volume reservoir atas = 15% x volume total = 15% x 1.059.760L = 158.964L = 160 m3 = 8m x 5m x 4m Perkiraan volume STP = 9m x 9m x 9m. Dimensi pipa pembuangan air hujan 5” dan volume sumur resapan min. 32m3 . IV.3. Analisa Aspek bangunan IV.3.1. Analisa Pola Sirkulasi Bangunan Sistem sirkulasi dalam bangunan dapat dibedakan menjadi sirkulasi horizontal dan sirkulasi vertikal. Sirkulasi horizontal berguna untuk menghubungkan ruangan yang masih berada dalam satu level sedangkan horzontal untuk menghubungkan ruangan antar level. 83 • Sirkulasi Horizontal Tabel IV.3.1.1. Sirkulasi horizontal Jenis Sirkulasi Kelebihan Kekurangan Linier • Menerus • Bertekuk • Berpotongan • Bercabang • Berbelok • Melingkar • Radial • sesuai dengan bangunan Wisma Atlet dalam hal efisiensi ruang • cocok untuk bangunan yang mengutamakan perjalanan arsitektur • cocok untuk bangunan dengan banyak klasifikasi ruang • sesuai dengan bangunan Wisma Atlet dengan banyak unit hunian dan fasilitas • cocok untuk bangunan yang mengutamakan perjalanan arsitektur • cocok untuk bangunan pameran atau museum • memusatkan kegiatan/ orientasi • mudah untuk mencapai ke titik tertentu • cenderung statis • tidak efisien pada koridor wisma atlet • tidak cocok dengan bentuk Wisma Atlet yang memanjang • perlunya penunjuk arah yang jelas • membentuk suasana yang patah/terhenti • Sulit memberi aksen pada jenis ruang • Cocok diterapkan pada bangunan fungsi ruang seragam Sumber : Dokumentasi pribadi dan web google Pola sirkulasi yang akan digunakan pada bangunan wisma atlet ini adalah pola sirkulasi menerus dan pola linear berbelok. Hal ini 84 dimaksudkan untuk memberi kemudahan bagi pengunjung untuk mengakses ke tempat-tempat hunian serta ke beberapa fasilitas penunjangnya. Sedangkan untuk sistem koridor yang digunakan adalah double loaded. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pengaturan jumlah tempat hunian dan pengaturan view ke pemandangan luar lebih maksimal. Dalam hal ini bangunan akan cenderung lebih memipih dan memanjang ke samping. • Sirkulasi Vertikal Berikut tabel perbandingan beberapa sistem sirkulasi vertikal : Tabel IV.3.1.2. Analisa sirkulasi vertikal Jenis sirkulasi Kelebihan Kekurangan Tangga Eskalator Lift Ramp • tidak menggunakan listrik • fleksibel dan murah, sesuai dengan bangunan wisma atlet • dapat dipakai setiap saat • berguna di saat kebakaran • fleksibel diletakkan di mana saja • perjalanan arsitektur lebih baik • efisien • daya angkut yang besar • tidak https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR6DZFGcI4EOlRVf2FKPipFWVgVYTW9Os9ie9MPi6SCZzPdPUGymelelahkan • cocok untuk wisma atlet saat mengangkut perabotan besar ke lantai atas • bernilai estetika • efisien bagi trolley • melelahkan bagi pengguna • butuh listrik dan space besar, tidak efisien bagi wisma atlet • butuh listrik dan waktu tunggu • butuh space besar, tidak efisien bagi wisma atlet Sumber : Panduan sistem bangunan tinggi Menginat bangunan ini berfungsi sebagai wisma atlet, maka sirkulasi vertikal yang digunakan adalah tangga dan lift. Penggunaan tangga dianggap lebih baik untuk menghemat penggunaan energi listrik. Sedangkan penggunaan lift dikarenakan bangunan wisma atlet ini IV.3 tergolong berupa k bangunan seterusny konsums pa tangga d gempa bu .2. Analisa B Variasi B g medium r ombinasi an n wisma atle ya akan men i energi listr ada sirkulas arurat sebag umi, dll. Bentuk Ban Bentuk Ban Su rise. Sirkula ntara penggu et akan meng nggunakan li rik. i vertikal, b gai akses ev ngunan Tabel IV.3.2 ngunan - - - - - - - - umber : F.C.K. si vertikal p unaan tangga ggunakan tan ift. Hal ini b bangunan wi vakuasi peng 2.1. Analisa va Kelebiha Lebih fung Layout lebih mud baik Dapat memaksim ruang Bentuk dinamis Layout lebih mud baik Bangunan secara konstruksi gempa Bentuk bangunan kaku Relatif indah estetik . Ching. Bentu pada bangu a dan lift. L ngga, sedang bertujuan unt isma atlet ju ghuni bila te ariasi bentuk ba an gsional ruang dah & malkan - lebih ruang dah & - - n stabil i/ tahan - - tidak lebih secara - - uk, ruang dan ta nan wisma Lantai 1 – 4 gkan lantai 4 tuk penghem uga menyedi erjadi kebak angunan Kekuranga Bentuk cenderung statis Layout r cenderung s Sulit dipad dengan be lain Layout w atlet ku efisien Sulit dipad dengan be lain Sulit d penataan la Sulit dipad dengan be lain atanan 85 atlet pada 4 dan matan iakan karan, an ruang sulit dukan entuk wisma urang dukan entuk dalam ayout dukan entuk 86 Dari keempat bentuk dasar massa bangunan yang akan diterapkan dalam bangunan wisma atlet adalah bentuk segiempat dan bentuk lengkung. Hal ini berdasarkan pertimbangan fungsi, efisien dan estetika dalam pengolahan suatu bangunan agar dapat berfungsi secara maksimal. Tabel IV.3.2.2. Analisa bentuk bangunan berdasarkan arah datang angin Bentuk Massa keterangan Bentuk Massa Persegi Bangunan yang bermassa kotak atau persegi cenderung terkena terpaan angin yang lebih kencang. Hal ini dikarenakan posisi bangunan yang lebih lurus dan memanjang sehingga bidang permukaan yang terkena terpaan angin lebih banyak. Bentuk Massa Lengkung Bentuk massa lengkung lebih memiliki kemampuan dalam membelokan arah datang angin sehingga kondisi terpaan angin ke massa bangunan relatif lebih baik dibandingkan dengan bentuk kotak. Sumber : Dokumentasi pribadi Tabel IV.3.2.3. Analisa bentuk bangunan berdasarkan Pembayangan Matahari Bulan Jam Januari 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00 WIB Massa kotak Massa lengkung Udara tidak dapat dibelokan karena pengaruh massa bangunan. Arah datang angin Arah datang angin Proses pembelokan angin 87 Februari 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00 WIB Massa kotak Massa lengkung Maret 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00 WIB Massa kotak Massa lengkung April 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00 WIB Massa kotak Massa lengkung Mei 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00 WIB Massa kotak 88 Massa lengkung Juni 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00 WIB Massa kotak Massa lengkung Juli 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00 WIB Massa kotak Massa lengkung Agustus 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00 WIB Massa kotak Massa lengkung September 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00 WIB 89 Massa kotak Massa lengkung Oktober 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00 WIB Massa kotak Massa https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ7_UxVZuLK-F5MlPZ6guZ8fT_CShaMfDFIzS5g9_w0HWdvvI2V lengkung November 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00 WIB Massa kotak Massa lengkung Desember 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00 WIB Massa kotak 90 Massa lengkung Sumber : Dokumentasi pribadi Berdasarkan analisa perbandingan antara bentuk persegi dengan bentuk lengkung, dilihat dari segi arah datangnya angin menunjukkan bahwa bentuk lengkung lebih memiliki kemampuan dalam membelokan arah datangnya angin sehingga terpaan angin yang terjadi pada massa bangunan lengkung lebih baik dibandingkan dengan bentuk persegi. Sedangkan analisa perbandingan antara bentuk massa persegi dan bentuk massa lengkung dengan menggunakan software sketchup memberikan hasil bahwa bentuk massa lengkung dapat menciptakan pembayangan yang lebih banyak pada area tapak dibandingkan dengan bentuk massa persegi ( penelitian berdasarkan software sketchup dari bulan Januari – Desember). Berdasarkan analisa bentuk bangunan maka dipilihlah bentuk massa lengkung sebagai konsep dalam mendesain massa bangunan wisma atlet fajar di Senayan. IV.3.3. Analisa Zoning Bangunan 1. Zoning Vertikal Tabel IV.3.3.1. Alternatif zoning vertikal Variasi Zoning Kelebihan Kekurangan Area servis mudah dijangkau dari setiap unit ruangan, Susunan zoning lebih terarah. Terdapat sebagian area publik yang dekat dengan area servis Area publik yang cukup banyak Setiap area publik dan privat berdekatan dengan area servis Privat Publik Servis Sumber : Dokumentasi pribadi Berdasarkan penentuan zoning vertikal yang dikaitakan dengan fungsi, kegiatan yang ada didalamnya maka dipilihlah alternatif 1. Hal 91 ini juga ditentukan dari orientasi massa bangunan yang menghadap ke Utara dan Selatan sehingga sisi Timur dan Barat baik untuk area servis. 2. Zoning Horizontal a. Analisa zoning lantai 1 – 4 Gambar IV.3.3.1. Analisa zoning horizontal Lt 1 - 4 Sumber : Dokumentasi pribadi b. Analisa zoning lantai 5 – 20 Gambar IV.3.3.2. Analisa zoning horizontal Lt 5 - 20 Sumber : Dokumentasi pribadi IV.3.4. Analisa Sistem Struktur Bangunan Sistem struktur dapat mempengaruhi ketahanan dan lamanya massa bangunan dan ketahanannya terhadap elemen-elemen perusak bangunan seperti gempa bumi, bencana angin topan, faktor biologis (hewan perusak), dan sebagainya. Sistem struktur bangunan dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu : • Sub Structure (Struktur bawah) Merupakan bagian struktur bawah yang menahan beban yang bekerja dari atas kebawah. Berikut tabel perbandingan beberapa jenis pondasi : Tabel IV.3.4.1. Analisa sub structure Jenis Pondasi Kelebihan Kekurangan Tiang Pancang • waktu pelaksanaan cepat • Relatif murah • cocok untuk menahan beban vertikal • memerlukan banyak sambungan dan ketelitian yang tinggi, kurang ekonomis bagi Publik Publik Unit Hunian servis R.ber sama Unit Hunian servis R.ber sama Area penunj ang Area penunj ang Servis Servis 92 wisma atlet tapi bagi hotel ekonomis • menimbulkan bising dan getaran Bored Pile • pemasangan tidak berdampak buruk bagi lingkungan, cocok dengan konsep wisma atlet • memiliki kekuatan yang cukup untuk bangunan bertingkat tinggi • cocok untuk segala jenis tanah • waktu pelaksanaan lebih lama • jika kadar air tinggi pengecoran akan beresiko Pondasi Rakit http://jakartapedia.bpadjakarta.net/index.php?action=ajax&title=-&rs=SecureFileStore::getFile&f=/Pembangunan_GBK.jpg (basement) • tahan gempa • ruang pada pondasi dapat difungsikan sebagai basement/efisiensi lahan • kedalaman sebesar volume yang dipindahkan • boros dalam pemakaian bahan, kurang efisien bagi Wisma Atlet • pelaksanaan sulit Sumber : Panduan sistem bangunan tinggi Berdasarkan analisa sub structure pada tabel diatas, maka Wisma Atlet ini menggunakan kombinasi pondasi tiang pancang dan bored pile. Pondasi tiang pancang dan bored pile dipilih karena relatif murah, pengerjaan cepat, dan bersih, juga karena kemampuannya untuk menahan beban yang cukup besar dan juga dalam tahap pengerjaannya tidak mengganggu keadaan sekitar atau gangguan relatif kecil. • Upper Structure (Struktur atas) Upper-structure merupakan struktur utama yang bertugas untuk menerima seluruh beban hidup atau beban lateral yang diterimanya untuk diterukan pada pondasi. Berikut tabel perbandingan beberapa jenis sistem upper structure : 93 Tabel IV.3.4.2. Analisa upper structure Jenis Struktur Kelebihan Kekurangan Portal (kolom dan balok) • kekakuan cukup • fleksibel dalam penataan interior unit wisma atlet • struktur sederhana dan ringan • dimensi relatif besar untuk bentang lebar • trafe kolom relatif kecil Dinding pemikul • kekakuan tinggi • material beton pada bidang datar dapat mereduksi suara • Memipih sesuai ruang (efisiensi) • Waktu pemasangan cepat • Biaya yang cukup besar • Harus terjadi banyak penyesuaian dengan barang dari pabrik Struktur baja (balok, rangka, grid, dan slab) • pemakaian bahan sedikit dan berupa prefab • waktu pengerjaan cepat • dapat digunakan untuk bentang lebar • bahan baja kuat tarik relatif kurang ekonomis bagi wisma atlet • korosi Sumber : Panduan sistem bangunan tinggi Untuk struktur atas, penggunaan sistem struktur portal dan baja (truss). Struktur portal dipilih karena bentangan pada wisma atlet relatif pendek, mengingat fungsi dari bangunan ini adalah hunian. Struktur portal juga tergolong sederhana dan mudah pengerjaannya. Sedangkan baja dipilih karena kemampuan bentangannya yang dapat mencapai 18 – 24m. terdapat beberapa bagian yang membutuhkan sistem struktur baja untuk memperoleh bentangan yang lebar tanpa terhalang kolom, seperti hall/ruang serba guna. 94 IV.3.5. Analisa Material Bangunan Tabel IV.3.5.1. Analisa material bangunan Lantai Kelebihan Kekurangan Keramik - harga ekonomis - Mudah didapat - Pilihan banyak - Mudah pecah Marmer - Kuat/keras - Elegant - Harga relatif mahal - Pemasangan cenderung sulit Granit - Kuat/keras - Elegant - Pilihan banyak - Harga relatif mahal - Pemasangan cenderung sulit Dinding Kelebihan Kekurangan Batu bata - Tahan panas - Kuat - Harga ekonomis - Pemasangan lama - Boros bahan baku seperti semen Batako - harga ekonomis - Mudah didapat - Ringan - Kurang kuat - Mudah rusak Bata ringan - Mudah didapat - Hemat bahan baku - Pemasangan cepat - Harga relatif mahal Pelapis Dinding Kelebihan Kekurangan Cat - harga ekonomis - Mudah didapat - Banyak pilihan warna - Mudah pudar/rontok - Tidak tahan lama Wallpaper - Banyak corak - Sulit diperbaiki jika 95 - Pemasangan cepat rusak - Harga relatif mahal Softboard - harga ekonomis - Pemasangan cepat & mudah - Perawatan sulit - Tidak tahan cuaca Plafond Kelebihan Kekurangan Triplek - Pemasangan cepat - Ringan - Mudah didapat - Tidak tahan cuaca - Bahaya rayap - Kurang menarik Gypsum - Kedap suara - Lebih hemat bahan - Elegant - Harga mahal - Pemasangan lama GRC Board - harga ekonomis - Kedap suara - Tahan cuaca - Berat - Kurang menarik Sumber : Dokumentasi pribadi dan web google Kesimpulan dari analisa material yang ada maka material yang dipakai pada perancangan wisma atlet adalah : Tabel IV.3.5.2. Penggunaan material bangunan Lantai Dinding Pelapis Dinding Plafond Granit Hebel Cat Gypsum Sumber : Dokumentasi pribadi IV.3.6. Analisa Sistem Utilitas Sistem utilitas merupakan sistem penunjang suatu bangunan dalam beroperasional. Sistem utilitas pada bangunan terdiri dari : 1. Analisa Penghawaan Konsumsi energi terbesar pada bangunan atau gedung-gedung di Indonesia adalah penggunaan AC untuk mencapai https://winnerfirmansyah.files.wordpress.com/2011/01/denah-ncam.jpg  kenyamanan thermal pada manusia 24.50 C – 270 C. Penggunaan energi listrik tersebut dapat mencapai 60% - 70% dari seluruh konsumsi energi listrik pada bangunan. Penghawaan terbagi menjadi 2 macam yaitu penghawaan alami dan penghawaan buatan. 96 a. Penghawaan Alami Penghawaan dengan mengandalkan sirkulasi udara pada ruangan dalam bangunan. Sirkulasi udara itu dapat terjadi jika terdapat bukaan-bukaan yang mendukung terciptanya ventilasi silang dalam ruangan, seperti jendela, pintu, jalusi. Gambar IV.3.6.1. Variasi inlet – outlet Sumber : Climate Responsive Architecture, Arvand Krishan Tabel IV.3.6.1. Variasi inlet - outlet Variasi Kelebihan Kekurangan 1 aliran udara lebih bebas didalam ruangan. Aliran udara sulit mencapai area sudut ruangan 2 Penempatan furniture dapat dimaksimalkan dengan baik Terdapat sisi bidang yang menghalangi aliran udara ke sebagian ruangan 3 Sirkulasi udara dapat mengalir dengan bebas Posisi inlet – outlet harus berada pada posisi silang tidak boleh sejajar dengan inlet udara 4 Sirkulasi udara dapat terjadi dengan baik karena terdapat ventilasi yang cukup banyak Sulit dalam penempatan furniture ruangan Sumber : Dokumentasi pribadi Aliran udara dipengaruhi selain dari bukaan-bukaan juga dipengaruhi oleh penempatan tanaman-tanaman di sekitarnya. 1 2 3 4 97 Udara akan berbelok jika mengenai tanaman-tanaman yang menghalangi sirkulasi udara. Gambar IV.3.6.2. Pembelokan aliran udara Sumber : Bangunan tropis Kenyamanan thermal pada ruangan dipengaruhi oleh peningkatan suhu ruangan yang diakibatkan oleh radiasi matahari yang mengenai dinding bangunan. Oleh sebab itulah pemilihan bahan material dan orientasi massa bangunan perlu untuk dipertimbangkan dengan baik. Tabel IV.3.6.2. Data karakteristik bahan bangunan terhadap panas Sumber : Ilmu fisika bangunan Terdapat beberapa cara dalam mengatasi permasalahan radiasi matahari pada bangunan, yaitu : a. Sun shading Gambar IV.3.6.3. Variasi sun shading 98 Sumber : Norbert Lechner – Heating, Cooling, Lighting b. Vertikal Garden atau Pepohonan Untuk menghalangi radiasi matahari langsung dapat menggunakan tanaman pohon atau tanaman rambat untuk bangunan tinggi. Gambar . Variasi tanaman sebagai penahan radiasi matahari Sumber : Norbert Lechner – Heating, Cooling, Lighting c. Teknologi Menggunakan bahan-bahan seperti Styrofoam dalam lapisan dinding. Prosesnya adalah setelah pemasangan dinding maka dinding dilapisi dengan bahan-bahan Styrofoam atau lapisan polystyrene. Penggunaan lapisan polystyrene atau bahan Styrofoam dapat menahan radiasi matahari sehingga suhu didalam ruangan dapat terjaga dengan baik. Gambar IV.3.6.5. Material dinding yang dapat menahan radiasi matahari 99 Sumber : Web google Pada bangunan tinggi, ruangan-ruangan pada bagian atas puncak bangunan sering kali terasa panas dikarenakan cahaya matahari mengenai langsung bagian atas bangunan. Untuk permasalahan tersebut dapat diatasi dengan roof garden atau green roof dan kolam air. Gambar IV.3.6.6. Variasi atap sebagai penahan radiasi matahari Sumber : Dasar-dasar arsitektur ekologis Penggunaan kolam air pada atap bangunan memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah dapat menahan radiasi matahari untuk masuk ke dalam ruangan. Kerugiaannya adalah berat air yang mempengaruhi konstruksi bangunannya. b. Penghawaan Buatan Penghawaan buatan adalah penggunaan Air Conditioner (AC). Penggunaan AC ini hanya digunakan pada ruanganruangan pada wisma atlet. Penghawaan buatan pada wisma atlet hanya akan digunakan 2 jenis AC yaitu AC split dan AC central. Penggunaan AC split pada wisma atlet dimaksudkan untuk jangka panjang, seperti pada unit huniannya atau kamar-kamar. Untuk penggunaan AC central relatif untuk waktu yang singkat. Penggunaan AC split pada massa bangunan hunian dalam jangka waktu panjang http://haryoprast.files.wordpress.com/2013/07/sam_1758.jpgmenghemat ruang AHU, chiller dan 100 cooling tower. Sehingga bisa dioperasionalkan sesuai dengan penghuni yang ada. AC split hanya digunakan pada ruang kamar tidur saja, tidak untuk digunakan pada ruangan lain. Gambar IV.3.6.7. AC split Sumber : Panduan sistem bangunan tinggi Penggunaan AC spilt harus memperhatikan peletakan outdoor unit agar tidak merusak estetika fasad bangunan. Gambar IV.3.6.8. Solusi penempatan outdoor unit AC Sumber : Panduan sistem bangunan tinggi Penggunaan AC central digunakan pada ruang-ruang bersama yang penggunaannya bersifat sementara atau dalam waktu singkat seperti ruang serba guna. Hal ini dimaksudkan untuk penghematan penggunaan energi listrik yang dikonsumsi oleh AC. Gambar IV.3.6.9. Pengoperasian AC central Sumber : Web google 101 Pengukuran Suhu Pada Lokasi Tapak - Senayan. Berdasarkan hasil pengukuran suhu dengan menggunakan thermometer digital pada ruangan wisma atlet fajar (yang merupakan lokasi tapak), diperoleh suhu rata-rata pada ruangan 30.50 C dan 34.50 C pada luar bangunan. Posisi bangunan menghadap Utara dan Selatan Dalam pengukuran suhu ruangan, penulis mengambil contoh satu ruangan kamar pada wisma atlet untuk dilakukan pengukuran suhu ruangan dan suhu di luar ruangan. Gambar IV.3.6.10. Suhu kamar wisma atlet di Senayan Sumber : Dokumentasi pribadi Dalam penerapan rancangan wisma atlet harus dapat menurunkan suhu yang ada pada ruangan sampai pada suhu ratarata inlet 28.50 C - 29.50 C dan outlet 300 C - 330 C. Untuk mencapai kenyamanan thermal penghuni wisma atlet yaitu atlet. Hal ini dapat dicapai dengan menciptakan ventilasi silang dalam ruangan, penggunaan sun shading, vertikal garden, material yang tidak atau dapat meminimalkan radiasi matahari pada bangunan. In 30.60 C In 30.90 C Out 34.50 C In 30.90 C In 30.90 C In 30.90 C 102 Gambar IV.3.6.11. Analisa suhu ruangan Sumber : Ilmu Fisika Bangunan 2. Analisa Pencahayaan Pada iklim tropis, radiasi matahari cukup tinggi. Pemanfaatan cahaya matahari alami harus dioptimalkan pada siang hari untuk menghemat penggunaan lampu yang dapat memboroskan energi listrik. Pemanfaatan itu dapat berupa bukaan-bukaan jendela, skylight. Pemanfaatan overstek dapat menghindari radiasi matahari langsung, yang dapat meningkatan suhu dalam ruangan. Gambar IV.3.6.12. Cahaya matahari yang masuk kedalam ruangan Sumber : Norbert Lechner – Heating, Cooling, Lighting Jarak antar bangunan juga harus dipertimbangkan dengan baik agar cahaya matahari yang masuk ke dalam bangunan tidak terhalang oleh bangunan yang lain di sekitarnya. 3. Analisa Sistem Proteksi Kebakaran Bangunan dapat menggunakan konstruksi yang tahan api untuk melindungi penghuninya jika terjadi kebakaran minimal dalam waktu 2 jam. Setiap bagian bangunan dapat menggunakan sistem ini dan biasanya sistem ini digunakan pada tangga dan lift. 103 Berdasarkan peraturan bangunan tinggi jarak jangkauan tangga tidak boleh lebih dari 30 meter. Pada jalan buntu tangga harus di tempatkan pada jarak 12 meter dari pintu paling ujung. Gambar IV.3.6.13. Tangga https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4DCotMvK1vJjoX-K5kL0h0m2ctn36YcWrsZvJLY97P-HAjCTxvycnTRrGWz-ucbwSxxgRlw2lMaDnrFIGXEXskkZ-I6fOs8En74OKnDXLrxbiOKDW18iFMgc7Ge3Q2GWqRjikLHfjjLU/s1600/gbkskybox.jpeg   darurat Sumber : Panduan sistem bangunan tinggi Selain itu sistem deteksi asap seperti smoke detector dan sprinkler di tempatkan pada setiap unit kamar dan koridor gedung untuk mengantisipasi apabila terjadi kebakaran. Foto IV.3.6.1. Smoke detector dan sprinkler Sumber : Dokumentasi pribadi hidran juga perlu disediakan pada setiap bangunan. Hidran dalam biasanya ditempatkan di dekat atau di dalam tangga darurat, dan biasanya dilengkapi dengan selang, katup, tabung pemadam, serta alarm atau tombol panggil. Air yang digunakan diambil dari menara air, yang memang sebagian isinya dicadangkan untuk keperluan darurat. Hidran luar berupa kepala hidran dan selang. Sumber airnya dari sistem hidran kota. Foto IV.3.6.2. Hidran air di sekitar bangunan Sumber : Dokumentasi pribadi 104 4. Analisa Instalasi Listrik Instalasi listrik di salurkan dari PLN ke gardu dan dari gardu di salurkan lagi ke panel-panel pada bangunan. Selain listrik dari PLN, pada bangunan juga disiapkan generator yang berfungsi sebagai listrik cadangan apabila terjadi pemadaman lampu dari PLN. Biasanya peletakan ruang panel dan generator atau genset diletakan pada ruangan tertentu baik di basement maupun di ruangruang yang jauh dari aktivitas manusia. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kebisingan yang terjadi akibat suara mesin genset. Gambar IV.3.6.14. Ruang panel dan genset Sumber : Panduan sistem bangunan tinggi Jaringan listrik masuk ke lokasi tapak melalui tiang listrik yang ada di sekeliling tapak. Foto IV.3.6.3. Lokasi tiang listrik Sumber : Dokumentasi pribadi Pada perancangan bangunan wisma atlet, genset akan diletakan di semi basement agar tidak menggangu kegiatan manusia di sekitar bangunan wisma atlet di Senayan. 5. Analisa Pengolahan air bersih dan Pembuangan Limbah Pipa pada bangunan atau gedung terdiri dari 2 pipa yaitu air bersih dan air kotor. Sistem air bersih dapat berasal dari PAM dan air Tiang listrik 105 tanah. Air yang dialiri dari PAM akan di tampun di reservoir bawah yang kemudian akan di tarik/sedot ke reservoir atas atau di tangki penampungan yang berada pada dak atas bangunan. Setelah di tamping di reservoir atas air kemudian dialirkan ke setiap kamar mandi, dapur/pantry. Pipa buangan limbah kamar mandi harus di letakan pada tempat yang mudah di akses. Biasanya pipa tersebut di letakkan dekat dinding koridor yang telah dipersiapkan shaft-shaftnya agar mudah untuk memperbaiki apabila terjadi kerusakan. Gambar http://image.slidesharecdn.com/bahaninformasiacarakompasiana-edit1-140508050901-phpapp02/95/indonesia-berbagi-jalan-mengucapkan-terima-kasih-kepada-kementerian-pu-10-638.jpg?cb=1399526795IV.3.6.15. Alternatif perletakan shaft kamar mandi Sumber : Panduan sistem bangunan tinggi Limbah padat pada kamar mandi dapat di salurkan dari pipa kamar mandi menuju SPT sehingga dapat diolah dengan baik tanpa mencemari lingkungan. Limbah cair dapat di salurkan ke sumur resapan, kemudian diolah kembali dan di tampung di bak penampungan bawah yang kemudian dapat digunakan kembali untuk menyirami tanaman. Gambar IV.3.6.16. Skematik sumur resapan dan biopori aliran air Sumber : Panduan sistem bangunan tinggi dan web google 106 Air hujan sebaiknya di tampung ke dalam tangki-tangki atau bak yang dibuat untuk menampung air hujan rainwater harvesting. Hasil tampungan dapat dimanfaatkan untuk menyiram tanaman, dan kebutuhan air kamar mandi. Gambar IV.3.6.17. Tangki penampungan air hujan Sumber : Web google 6. Analisa Pengolahan dan Pembuangan Sampah Sistem pengolahan sampah pada bangunan tinggi dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu cara door to door, Petugas kebersihan mangambil sampah pada setiap unit-unit ruangan yang kemudian akan di tampung di TPS. Cara yang ke dua yaitu dapat dilakukan dengan shaft pembuangan sampah yang di sediakan pada setiap unit kamar. Tabel IV.3.6.3. Sistem pembuangan sampah Sistem Pembuangan Sampah Kelebihan Kekurangan Door to door Tidak perlu menciptakan shaft khusus sampah, Pemeriksaan sampah lebih teliti pada setiap unit kamar Tidak praktis, Membutuhkan petugas kebersihan yang banyak Shaft pembuangan Praktis, Petugas kebersihan tidak perlu terlalu banyak Perlu menciptakan shaft khusus, Tidak bersih Sumber : Dokumentasi pribadi 107 Gambar IV.3.6.18. Sistem pembuangan sampah Sumber : Panduan sistem bangunan tinggi 7. Analisa Penangkal Petir Bangunan yang memiliki fungsi publik, harus memiliki sistem keamanan gedung. Tidak hanya di dalam gedung saja, bagian luar gedung juga harus memiliki sistem keamanan bagi orang-orang yang berada di luar gedung. Salah satu sistem keamanan luar gedung adalah penangkal petir. Sistem penangkal petir yang digunakan adalah sistem Thomas. Sistem ini mempunyai jangkauan perlindungan yang luas, daerah bangunan yang terlindungi dalam radius 60 m dan luas lahan yang terlindungi dalam kerucut perlindungannya dalam radius 125 m. sistem ini sangat cocok untuk digunakan pada bangunan tinggi karena dapat melindungi area publik pada bangunan itu sendiri, bangunan-bangunan di sekitarnya dan pepohonan pada area sekitar gedung. Gambar IV.3.6.19. Sistem penangkal petir Sumber : Panduan sistem bangunan tinggi Sampah Shaft Sampah TPS TPA 108 IV.4. Analisa Sustainable – Green Design IV.4.1. Analisa Green Design Green design adalah topik yang saya ambil untuk perancangan Wisma Atlet ini. Prinsip-prinsip green design yang diambil adalah hemat energi listrik. Beberapa analisa sebelumnya, diketahui bahwa penggunaan energi listrik yang paling besar adalah penggunaan AC untuk penghawaan. Oleh karena itulah diperlukan beberapa solusi yang dapat digunakan untuk menghemat penggunaan energi listrik untuk penghawaan yaitu : • Dengan mengoptimalkan penghawaan alami misalnya pada koridor, tangga darurat, ruang bersama, dan kamar mandi bila asumsi koridor dari sebuah lantai adalah 30% maka berarti sudah bisa menghemat di atas 30% dari penggunaan penghawaan buatan. • Pencahayaan alami pada unit-unit https://amru277.files.wordpress.com/2011/03/senayan.jpg?w=256yang menggunakan single loaded. Selain itu penggunaan cahaya alami pada double louded juga dapat diterapkan dengan memberikan bukaan-bukaan berupa jendela dan objek transparan agar cahaya dapat masuk ke dalam gedung. • Pemanfaatan vertikal garden dapat mereduksi radiasi matahari pada bangunan. Penggunaan tanaman pada fasad bangunan dapat menciptakan oksigen pada ruangan dan lingkungan sekitar bangunan wisma atlet. Menurut penelitian Aep Syaepul Rohman menyatakan bahwa dalam sejam satu lembar daun memproduksi oksigen sebanyak 5 ml. Bila rata-rata jumlah daun per pohon 200 lembar dan terdapat 10 pohon, maka pohon-pohon yang ada di wisma atlet dan sekitarnya akan menyumbang oksigen sebanyak 10 x 100 x 200 x 5 ml = 1.000 liter per jam. Angka ini setara dengan jumlah kebutuhan oksigen untuk pernapasan sebanyak 18 orang (kebutuhan oksigen untuk satu orang bernapas adalah 53 liter per jam). • Penggunaan Overhang, sun shading pada bangunan terutama pada bagian jendela memiliki fungsi sebagai penghalang atau lebih 109 tepatnya untuk mengurangi jumlah sinar/radiasi matahari yang masuk melalui jendela. Overhang dan sun shading ini juga berfungsi untuk menghalangi percikan air masuk pada saat hujan Gambar IV.4.1.1. Overhang untuk menahan radiasi dan air hujan Sumber : Web google • Penggunaan skylight merupakan salah satu cara untuk memasukan cahaya matahari ke dalam bangunan. Penggunaan skylight biasanya diletakan pada bagian paling atas bangunan, agar cahaya matahari dapat masuk ke dalam bangunan. Penggunaan skylight harus mempertimbangkan berapa intensitas cahaya matahari yang masuk ke dalam bangunan karena apabila intensitas yang masuk terlalu banyak maka dapat menyebabkan naiknya suhu dalam bangunan. Gambar IV.4.1.2. Alternatif skylight Sumber : Web google • Bukaan Pada Bangunan Bukaan pada bangunan dapat diartikan sebagai bagian bangunan yang dapat memasukan aliran udara ke dalam bangunan, seperti jendela, jalusi, selain itu jarak antar bangunan juga dapat 110 menciptakan aliran udara di antara jarak bangunan. Memasukan aliran udara ke dalam bangunan bertujuan untuk memenuhi kenyamanan thermal penghuni sehingga kerja AC dapat diminimalkan dan dapat menghemat konsumsi energi listrik. Gambar IV.4.1.3. Aliran udara yang masuk melalui bukaan pada bangunan Sumber : Dasar-dasar arsitektur ekologis Penerapan green design pada perancangan bangunan wisma atlet diharapkan dapat mengatasi konsumsi energi listrik yang besar untuk penggunaan AC sebagai salah satu penunjang kenyamanan thermal bagi penghuni wisma atlet. Meskipun pada dasarnya penggunaan AC tetap diterapkan dalam bangunan wisma atlet. Dengan menerapkan kenyamanan thermal dengan ventilasi alami diharapkan dapat meringankan kerja AC sehingga konsumsi energi listrik tidak terlalu besar.
>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar