ANALISA STADION
1. Analisa Aspek Lingkungan 2. Analisa Kondisi Eksisting Tapak
dan Sekitarnya Terdapat beberapa point yang ada disekitar lokasi tapak yang
dapat dianalisa. Point-point tersebut yaitu: 1. Kegiatan Sekitar Lingkungan
Tapak Jenis kegiatan, peruntukan fungsi dan sarana yang ada diatas tapak dan
sekitarnya dapat dilihat pada table berikut ini: Tabel IV.1.1.1. Analisa
sekitar tapak di Senayan Posisi Dari Tapak Jenis Kegiatan dan Fungsi Di atas
tapak - Bangunan wisma atlet yang tidak di operasionalkan lagi Posisi Utara -
Bangunan Mezquita geloran difungsikan
untuk tempat peribadahan umat Islam - Stadion Utama Gelora Bung Karno 54 Posisi
Selatan - Lahan kosong - Plaza Senayan Arcadia
(pusat perbelanjaan) Posisi Timur - Hotel Atlet
Century merupakan tempat penginapan bagi
atlet - Lapangan baseball senayan - Lapangan golf Posisi Barat - Gedung Koni
Pusat kantor pengelola Gelora Bung Karno
55 - Senayan golf .1. Kegiatan di sekitar tapak Dari hasil tinjauan Sisi Utara dan Selatan
tapak memiliki sudut pandang yang cukup menarik untuk menonjolkan keistimewaan
pada bentuk bangunan. Hal ini didukung oleh jalan utama yaitu Jl. Pintu Satu
Senayan yang sering dilalui oleh kendaraan. 2. Akses Transportasi dan Lalu
Lintas Sekitar Tapak Lokasi tapak berada di jalan Pintu Satu Senayan yang
mengarah ke stadion utama GBK. Jalan ini merupakan jalur yang cukup ramai
dilalui oleh kendaraan-kendaraan (kendaraan pribadi dan bus trans) Jalan Pintu
Satu Senayan terhubung ke jalan Jenderal Sudirman (Barat) dan jalan Asia Afrika
(Timur). Perkantoran, Apartemen dan Bank Panin Perkantoran, high rise building
Gedung DIKTI, Hotel Atlet Century, Plaza FX Stadion utama GBK, Mesjid
Perkantoran koni Lokasi tapak 56 Peta IV.1.1.1. Sirkulasi kendaraan di sekitar tapak
keramaian terjadi hampir pada setiap saat karena lokasi ini berdekatan dengan
jalan utama. Puncak keramaian dapat terjadi pada saat terdapat event-event
tertentu seperti adanya pertan
dinganpertandingan sepak bola, dll.
3. Ketinggian Bangunan Sekitar Tapak Jumlah lapis atau ketinggian di sekitar
tapak cukup bervariasi. Ketinggian bangunan KONI pusat yang ada di sebelah
timur tapak mencapai +/- 12 lantai dan bangunan hotel Atlet Century yang berada
di sebelah timur tapak mencapai +/- 17 lantai. Gambar IV.1.1.2. Jumlah lapis
bangunan di sekitar tapak Sumber Google maps Ketinggian bangunan di sekitar
tapak sangat mempengaruhi beberapa faktor seperti pengaruh view bangunan,
datangnya angin, dan bayangan cahaya matahari. Aliran angin akan berbelok jika
Jl.Pintu Satu Senayan Jl.ManilaKebayoran lama +/-20 Lt +/-20 Lt +/-12 Lt Hotel
Century Diknas 1 Wisma atlet yang akan dirancang Koni pusat 57 terdapat objek
di depannya. Oleh sebab itulah diperlukan pertimbangan matang dalam perancangan
wisma atlet. Simulasi pembayangan pada bangunan yang akan dirancang menggunakan
software sketchup, dimana posisi Jakarta terletak pada 6o – 7o LS dan 107o –
108o BT adalah seperti dibawah ini ; Tabel IV.1.1.2. Analisa pembayangan pada
wisma atlet di Senayan Pembayangan Tapak Waktu Jam 06.00 WIB Kondisi
pembayangan masih belum tampak di lokasi tapak. Jam 09.00 Matahari pagi
menyebabkan pembayangan pada bangunan di lokasi tapak Jam 12.00 WIB Posisi
matahari berada di atas gedung, menyebabkan pembayangan di sekeliling bangunan
Jam 15.00 WIB Posisi matahari berada di Barat menyebabkan posisi bangunan yang
menghadap Utara terjadi
pembayangan 58 Jam 18.00 WIB
Pembayangan hanya sedikit terjadi pada bagian Barat. Sumber: Dokumentasi pribadi Kesimpulan dari
analisa pembayangan yang terjadi di lokasi wisma atlet – Senayan adalah cahaya
matahari yang mengenai tapak tidak terhalang oleh bangunan tinggi di sekitarnya
karena pengaruh jarak antar bangunan yang relatif cukup jauh. Pembayangan
terjadi hanya karena terdapat objek di atas tapak itu sendiri. Perencanaan dan
perancangan jumlah lapis pada wisma atlet di perkirakan mencapai +/- 20 lapis.
Pertimbangan ini diambil karena lokasi tapak berada di area bangunan medium rise
– high rise. Gambar. Analisa ketinggian wisma atlet Sumber Google maps IV.1.2. Analisa View 1.
View Dari Tapak View dari tapak ke sebelah Utara berupa jalan utama yaitu Jl.
Pintu Satu Senayan dan di seberang jalan terdapat view kearah pepohonan hijau
yang di sekitarnya terdapat bangunan mesjid Mezquita Geloran, dan view utama
dari tapak ke sebelah Utara adalah stadion utama Gelora Bung Karno. 20 lt 59 View ke pintu masuk senayan dan ke stadion
utama GBK Sumber : Dokumentasi pribadi dan web googles Perletakan massa
bangunan disesuaikan dengan potensi view yang ada. Bangunan wisma atlet diletakkan pada posisi bangunan yang menghadap
ke Utara dan Selatan tapak. Sementara untuk area servis di
sebelah Barat atau Timur. Gambar IV.1.2.1. Respon desain ke view sekitar tapak
Sumber : Google maps Pertimbangan (+) dan (-) pada view bangunan di lokasi
tapak ditentukan oleh potensi-potensi view yang ada disekeliling tapak. Apakah
bangunan yang ada di sekeliling tapak terlalu tinggi sehingga menghalangi view
dari dalam ke luar tapak. 2. View Dalam Tapak Dilihat dari bentuk tapak yang
hampir membentuk segiempat, maka pertimbangan pada beberapa bagian tapak akan
ditanami penghijauan yang mengelilingi tapak, dengan maksud untuk menciptakan
penghijauan didalam area tapak. View ke bangunan tinggi View ke beberapa
bangunan tinggi View ke lapangan olahraga & RTH View ke stadion utama GBK
60 Gambar IV.1.2.2. Penghijauan di sekeliling tapak .sumber Google maps Selain
menciptakan penghijauan, pada area tapak dirancang sebuah plaza dan area publik
tempat orang-orang berkumpul, sehingga terdapat aktivitas yang berlangsung di
dalam tapak. 3. View Ke Tapak View ke tapak pada saat ini terdapat bangunan
wisma atlet fajar. Bangunan ini merupakan bangunan lama yang di redesain atau
dibangun kembali. Lokasi tapak berada di tempat yang cukup strategis. Hal ini
dikarenakan jalur utama kendaraan yang melalui tapak tersebut. Sehingga dari
arah jalan dapat melihat ke dalam tapak. Gambar IV.1.2.3. View ke tapak dari
Jl. Pintu Satu Senayan. Kesimpulan dari analisa view ke tapak adalah
penerapan perancangan lingkungan di lokasi
tapak, adalah dengan pembuatan plaza, tempat komunal seperti ruang terbuka
hijau dengan tempat duduk. Hal Bangunan lama wisma atlet fajar yang aka
dibangun kembali 61 ini dimaksudkan agar view tercipta didalam tapak menjadi
lebih menarik dan hidup secara kegiatan. Gambar IV.1.2.4. Perencanaan taman di
dalam tapak . Analisa Kebisingan Lokasi tapak yang berdekatan dengan jalan
utama menyebabkan kebisingan didalam tapak tidak dapat dihindari. Oleh karena
itulah diperlukan solusi dalam mengatasi kebisingan tersebut seperti pengolahan
zona ruang pada bangunan. Lantai bawah akan dimanfaatkan sebagai ruang publik. Ruang-ruang
diatasnya difungsikan sebagai tempat hunian dan berbagai fasilitasnya. Selain
itu dapat juga dengan pemanfaatan barrel pada bagian depan tapak serta
penanaman tanaman untuk mereduksi kebisingan yang berasal dari jalan utama.
Solusi lainnya dapat menggunakan material bangunan yang dapat mereduksi suara
seperti double glazing dan dinding yang lebih masif. Gambar IV.1.3.1.
Penempatan fungsi dan lansekap untuk menghindari kebisingan Sumber : Google
maps Unit kamar Ruang aktivitas dan publik Area servis Barrel pepohonan Sumber
kebisingan 62 Berdasarkan analisa kebisingan, sumber kebisingan lebih di
dominasi dari arah jalan utama yaitu Jl. Pintu Satu Senayan yang banyak dilalui
oleh kendaraan. Oleh sebab itulah diperlukan langkah-langkah dalam mengatasi
kebisingan tersebut agar tidak menggangu bangunan wisma atlet. Tabel IV.1.3.1.
Analisa mengatasi kebisingan Penggunaan tanaman sebagai pemecah kebisingan
Memundurkan massa bangunan agar jarak bising tidak sampai ke bangunan Pembagian
zoning yang tepat Sumber : Dokumentasi pribadi Berdasarkan dari analisa
kebisingan, penentuan peletakan massa bangunan, pengaturan zoning dan pemilihan
tanaman pada bagian tapak yang dekat dengan kebisingan, sangat diperlukan
sekali agar tidak merusak view bangunan yang tercipta pada lokasi tapak.
IV.1.4. Analisa Iklim Menurut analisis dan penelitian menggunakan thermometer
di lokasi serta menurut data dari badan Meteorologi dan
Geofisika, hasil yang didapat
adalah suhu rata-rata mencapai 30 - 340 C. Kondisi lingkungan tersebut terasa
sejuk apabila cuaca sedang mendung dan juga dikarenakan terdapat pepohonan di
sekitarnya, jika kondisi cuaca sedang panas kondisi suhu baik di dalam ruangan
maupun di luar bangunan akan terasa cukup panas. Foto, Pepohonan pada sekeliling tapak Sumber :
Dokumentasi pribadi privat Semi privat Publik Tanaman 63 Di butuhkan
penghijauan untuk menciptakan suhu udara yang nyaman di lokasi tersebut. Selain
penghijauan pada tapak, penghijauan pada bangunan juga dapat dilakukan seperti
roof garden, green roof, vertical garden dan pembuatan air mancur atau kolam
untuk menurunkan suhu panas lingkungan. IV.1.5. Analisa Vegetasi Di sekitar
lokasi tapak terdapat cukup banyak penghijauan, karena lokasi Senayan ini
selain direncanakan untuk pembangunan juga sebagai paru-paru jakart. Hampir
setiap area dipenuhi oleh pepohonan yang sudah cukup lama berada di lokasi
tersebut. Di lokasi tapak terdapat beberapa pohon eksisting yang ada di
sekeliling tapak. Perancangan pembangunan gedung akn diusahakan tidak menggangu
pepohonan yang ada. Jika memang ada yang menggangu view atau struktur maka
pepohonan akan di pindahkan. Gambar IV.1.5.1. Pohon eksisting yang ada di tapak
Sumber : Google maps Foto IV.1.5.1. Pohon-pohon eksisting yang ada di tapak
Sumber : Dokumentasi pribadi 64 IV.1.6. Analisa Sirkulasi Ruang Luar 1.
Sirkulasi Manusia Dilihat dari kondisi tapak yang berbentuk memanjang dan
pertimbangan-pertimbangan mengenai tapak yang berdekatan dengan jalan Pintu
Satu Senayan maka jalur sirkulasi manusia direncanakan dan dirancang
mengelilingi tapak. Untuk menjaga keamanan dan privasi dari penghuni wisma
atlet ini maka akan dibuat sebuah pemisah antara luar tapak dan dalam tapak.
Gambar IV.1.6.1. Sirkulasi manusia Sumber : Google maps Gambar IV.1.6.2.
Pemisah atau pembatas kegiatan tapak Sumber : Architectural Graphic Standard
Sirkulasi manusia 65 Pemisahan juga dapat berfungsi untuk membatasi dua
kegiatan yang berbeda, sehingga tidak menggangu kegiatan orang lain. 2.
Sirkulasi Kendaraan Bermotor Sirkulasi kendaraan bermotor dibatasi dengan
luasan seminimal mungkin atau sesuai dengan fungsinya. Hal ini dimaksudkan
untuk memaksimalkan area pejalan kaki dan ruang terbuka hijau. Penerapannya
dapat berupa area-area pedestrian pada tapak yang dipisahkan dengan
kendaraan-kendaraan bermotor agar tidak terjadi cross
antara
pejalan kaki dan kendaraan bermotor. Sirkulasi kendaraan bermotor didalam tapak
di batasi dengan penyediaan fasilitas tempat parkir dan akses sirkulasi di
dalam tapak. hal ini dimaksudkan agar tapak terbebas dari kegiatan kendaraan
yang berlebihan sehingga terhindar dari polusi udara. Gambar IV.1.6.3.
Pedestrian eksisting pada lokasi tapak Sumber : Dokumentasi pribadi 3.
Sirkulasi Matahari Posisi tapak memanjang ke arah Barat dan Timur sehingga
orientasi massa bangunan lebih mengarah ke arah Utara dan Selatan. Hal ini
memberikan keuntungan tersendiri bagi massa bangunan. Panas matahari tidak akan
mengenai langsung ruang-ruang yang ada pada bangunan. Perencanaan ruang pada
posisi Barat dan Timur, dimanfaatkan untuk area servis. Hal ini dimaksudkan
untuk tidak menggangu para penghuni wisma atlet tersebut. Area parkir ME SE 66
Gambar IV.1.6.4. Sirkulasi matahari pada lokasi tapak Sumber : Google maps
Tabel IV.1.6.1. Analisa matahari Bagian Bangunan Yang Terkena matahari Waktu
Jam 06.00 WIB Sisi bagian pendek bangunan yang terkena cahaya matahari Jam
09.00 WIB Sisi bagian bangunan yang menghadap Timur yang terkena cahaya
matahari Jam 12.00 WIB Posisi matahari berada di posisi atas bangunan dan
mengenai atap bangunan Jam 15.00 WIB Cahaya matahari mengenai bangunan yang
cenderung lebih menghadap ke arah Selatan T B Bangunan wisma atlet lama yang
akan dibangun kembali peran cahay secon
beber skin perm 4. Angi maka berad knot sebag T Kec 2 m/detik Kesehatan
penghuni terpengaruh oleh kecepatan angin yang tinggi 2.3 – 4.20 C Sumber :
Ilmu fisika bangunan Berdasarkan
data diatas maka kecepatan angin yang paling nyaman bagi manusia adalah 0.25 –
0.5m/detik. Untuk lokasi tapak di Senayan berdasarkan data BMKG yang mengambil
lokasi Pondok Betung sebagai lokasi yang paling dekat dengan lokasi Senayan
menyatakan bahwa kecepatan angin rata-rata mencapai 0.8 – 1.5m/detik dengan
suhu udara tertinggi 350 C dan suhu udara terendah mencapai 250 C - 280 C.
Gambar IV.1.6.6. Data BMKG kecepatan angin Sumber : Web BMKG Gambar IV.1.6.7.
Data BMKG rata-rata suhu udara Sumber : Web BMKG Kecepatan Masih maksimal
nyaman Suhu dapat mencapai 350 C Suhu dapat mencapai 25- 280 C 69 Dari data
tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kecepatan angin di Senayan khususnya di
lokasi tapak cukup kencang pada saat bulan-bulan tertentu dengan suhu udara yang
cukup tinggi, sehingga diperlukan solusi pada saat perancangan bangunan wisma
atlet, seperti ukuran bukaan jendela dan penanaman pohon untuk membelokan
aliran angin serta menciptakan sirkulasi udara yang baik. IV.1.7. Analisa
Pencapaian ke Tapak Terdapat dua jalan utama menuju ke lokasi tapak yaitu Jl.
Pintu Satu Senayan dan Jl. Manila – Kebayoran Lama. Tabel IV.1.7.1. Analisa
pencapaian ke tapak Kelebihan alternatif 1: - Posisi main entrance berada di
jalan utama Pintu Satu Senayan. - Side entrance berada pada Jl. Manila –
Kemayoran Lama, sehingga dapat menghindari kemacetan jalan utama - Posisi tapak
lebih terlihat dari arah jalan utama, sehingga memudahkan sirkulasi keluar
masuk tapak. - Servis entrance di letakan pada bagian tapak yang menghadap ke Jl.
Manila – Kemayoran Lama. Jalur ini dipilih berdasarkan pertimbangan jalur
sirkulasi dari jalan ini yang dapat tembus ke arah Jl. Pintu Satu Senayan. Dan
juga untuk menghindari terganggunya kegiatan didalam tapak. Kekurangan
alternatif 1 : - Side entrance dan servis entrance berada pada satu jalur
keluar, sehingga membuat sirkulasinya lebih padat di ME SE SV ME SE SV 70 dalam
tapak. Kelebihan alternatif 2 : - Main entrance dan side entrance berada di Jl.
Pintu Satu Senayan yang merupakan jalur utama - Servis entrance berada di Jl.
Manila – Kemayoran Lama, sehingga tidak menganggu jalur sirkulasi di dalam
tapak. Kekurangan alternatif 2 : - Side entrance berada di jalan utama Pintu
Satu Senayan, dapat menyebabkan kemacetan pada jalan utama. - Sirkulasi servis entrance
tidak mengelilingi tapak, sehingga lokasi servis hanya ditentukan di beberapa
lokasi saja. Sumber : Dokumentasi pribadi dan web google Dari analisa
pencapaian ke tapak maka dipilihlah
alternatif
1, untuk di terapkan dalam perancangan wisma atlet di Senayan. Alternatif 1
dipilih karena pertimbangan jalur sirkulasi di dalam tapak yang memanfaatkan 2
sirkulasi jalan yang ada di Senayan yaitu Jl. Pintu Satu Senayan dan Jl. Manila
– Kemayoran Lama. IV.1.8. Analisa Orientasi Massa Bangunan Orientasi massa
bangunan sangat dipengaruhi oleh aspek matahari, arah angin, view, dan letak
pintu masuk. ME SV SE servis ME SV SE servis B B Tabel U S U S IV.1.8.1. Ana K
- - - - - K - - - K - - T T alisa orientasi m Kelebihan a Massa ba matahari B
Tampak terlihat de Senayan d Lama. Keadaan sejuk. View lebih Orientasi menerima
karena an arah Selat Kekurangan Posisi ba arah jalan Luasnya b yang terk dan
Selat khusus da Diperluka mengatasi menerpa l Kelebihan a Sirkulasi baik pada
Posisi terciptany cukup ba massa banguna alternatif 1 : angunan terh Barat dan
Ti depan b engan jelas dan Jl. Mani di dalam h menarik bangunan c a arah da
ngin bertiup tan ke Utara n alternatif angunan tam n. bidang perm kena cahaya
tan, sehing alam menagg an solusi i kecepatan langsung ke alternatif 2 udara
dapat a jalur kiri ka bangunan ya sirkulasi aik di dalam an : hindar dari imur.
angunan d di Jl. Pintu ila – Kemay ruangan ukup baik d atangnya a p cenderung 1
: mpak datar mukaan bang a matahari gga perlu s gapinya. khusus d n angin
bangunan. : t tercipta de anan bangun memungki i manusia tapak. 71 sinar dapat
Satu yoran lebih dalam angin dari dari gunan utara solusi dalam yang engan nan.
inkan yang 72 - Posisi massa bangunan cukup baik karena massa bangunan yang
memiliki penampang yang lebih kecil yang menghadap ke arah datangnya angin,
sehingga kecepatan angin yang menerpa massa bangunan dapat dibelokan.
Kekurangan alternatif 2 : - Bangunan akan cukup panas karena orientasi massa
bangunan menghadap ke
sebelah Barat dan Timur. -
Bangunan tidak terlalu terlihat dari arah jalan utama. - Posisi massa bangunan
dapat menciptakan tornado angin pada bagian area tapak dan juga dapat
menyebabkan tidak adanya sirkulasi udara diantara bangunan tersebut,
dikarenakan terhalang oleh 2 – 3 massa bangunan. Sumber : Dokumentasi pribadi
dan web google IV.2. Analisa Aspek Manusia IV.2.1. Analisa Pelaku Kegiatan
Pelaku kegiatan dibagi menjadi 4 kelompok yang memiliki karakteristik dan
kebutuhan yang berbeda : 1. Penyewa Wisma Atlet Pelaku kegiatan pada wisma atlet
ini adalah penghuni atau para atlet yang menyewa wisma atlet. Para atlet
menyewa wisma atlet untuk tinggal dan mempersiapkan pertandingan-pertandingan
yang akan dilaksanakan. Target pengunjung lainnya adalah pada saat 73 terdapat
event-event pertandingan seperti pertandingan sepak bola, karate, badminton dan
tenis. 2. Staf Pengelola - Administrasi Staf pengelola adalah orang yang
bertugas mengurus administrasi penyewaan unit hunian pada bangunan wisma atlet.
Staf pengelola administrasi meliputi orang-orang yang bekerja dalam kantor
pengelolaan, dan staf yang terlibat langsung dengan tamu. 3. Staf Pengelola –
Servis Staf pengelola – servis adalah meliputi koki, housekeeping, teknisi,
perawatan gedung, dan keamanan. Biasanya untuk housekeeping terdapat jalur
khusus untuk kesetiap lantai. 4. Pelaku bisnis Sedangkan pelaku bisnis adalah
orang-orang yang menjalankan usahanya seperti membuka toko-toko, retail shop,
dan kios-kios. Pelaku bisnis ini biasanya menyewa ruang-ruang yang ada di
lantai dasar untuk membuka usaha. Adapun syarat-syarat dan fasilitas-fasilitas
yang harus dimiliki wisma atlet agar para pengunjung merasa cukup nyaman dalam
melaksanakan aktivitasnya : 1. Wisma atlet harus dapat memberikan kenyamanan
thermal, verbal, visual, dan spasial. 2. Wisma atlet menyediakan fasilitas
untuk memenuhi kebutuhan dalam menjalankan aktivitasnya. 3. Wisma atlet
menyediakan cukup ruang untuk menampung atau mewadahi berbagai aktivitas
pengunjung. 4. Area servis harus diperhatikan persyaratan-persyaratannya
seperti kebersihan, agar tidak menganggu pengunjung atau penghuni kamar. 5.
Wisma atlet harus dapat memberikan atau menciptakan keamanan dan privasi bagi
penghuninya. IV.2.2. Analisa Penghuni (Atlet) Pengguna dari wisma atlet ini
adalah atlet-atlet baik nasional maupun internasional. Selain untuk atlet,
wisma atlet ini juga di sewa 74 untuk pelajar maupun masyarakat umum untuk
menunjang produktivitas jangka panjang pada bangunan wisma atlet. Wisma
atlet akan diperuntukan bagi atlet-atlet
yang akan mengikuti pertandingan. Berikut adalah kegiatan atlet sepanjang hari.
Tabel IV.2.2.1. Jadwal kegiatan atlet Pukul Kegiatan Pukul Kegiatan 04.00-05.30
Bangun, Gosok Gigi, Mandi, BersihBersih, sarapan 14.00-18.00 Latihan fisik
(barbel, skipping, sit up, push up, benchpress, legpress, shoulder rising, dll)
05.30-07.00 Latihan fisik 18.00-19.00 Istirahat, Duduk 07.00-11.00 Sekolah
19.00-21.00 Sekolah 11.00-14.00 Istirahat, Makan, Tidur 21.00-04.00 Istirahat,
Tidur, Duduk Sumber : Analisa aktivitas atlet dari jadwal kegiatan pada wisma
atlet ragunan. IV.2.3. Analisa Jenis dan Kebutuhan Ruang 1. Rencana Program
Ruang Wisma Atlet Gambar IV.2.3.1. Skema program ruang Sumber : Dokumentasi
pribadi 2. Kegiatan Tamu Khusus Penghuni Wisma Atlet Plaza/lobby Parkir Hunian
R.Penunjang K.Pengelol Taman Servis Main entrance securit 75 Gambar IV.2.3.2.
Skema kegiatan tamu Sumber : Dokumentasi pribadi 3. Kegiatan Tamu Khusus Staf
Pengelola Wisma Atlet Gambar IV.2.3.3. Skema kegiatan staff pengelola Sumber :
Dokumentasi pribadi 4. Analisa kebutuhan ruang/unit hunian untuk 2 orang Tabel
IV.2.3.1. Kebutuhan ruang untuk 2 orang No Kebutuhan Ruang Elemen Ruang Dimensi
Ruang Sumber 1 Kamar tidur 1 Tempat tidur, Lemari pakaian, meja 17 m2 Survey 2
Kamar mandi Shower, kloset, wastafel 4 m2 Survey Berkunjung ke unit hunian yang
dituju Parkir security Keluar masuk hunian melalui main & side entrance
Pengelola R.Pengelola Entrance Cek security Parkir Kegiatan lain 76 3 Balkon
Tempat duduk 3 m2 Survey TOTAL 24m2 Sumber : Dokumentasi pribadi a. Konfigurasi
ruang/unit hunian pada wisma atlet Gambar IV.2.3.4. Skema program ruang unit
hunian
Sumber : Dokumentasi pribadi b. Kegiatan
penghuni wisma atlet pada unit hunian Gambar IV.2.3.5. Skema kegiatan pada unit
hunian Sumber : Dokumentasi pribadi c. Kegiatan penghuni wisma atlet pada
bangunan K. Tidur Balkon Km. Mandi Tidur Bersantai, duduk, mengobrol,
Keluar/masuk Mck Balkon 77 Gambar IV.2.3.6. Skema kegiatan penghuni wisma atlet
Sumber : Dokumentasi pribadi Berikut adalah kegiatan-kegiatan yang ada pada
wisma atlet : a. Kegiatan penghuni wisma atlet Tabel IV.2.3.2. Kegiatan
penghuni wisma atlet Ruang Kegiatan Pengguna Sifat Ruang Kamar tidur
Beristirahat, Tidur Penghuni Privat, Tertutup Pantry/Dapur Masak, Cuci piring,
Makan Penghuni, Pengunjung Servis, Terbuka Ruang Jemur Menjemur Pakaian
Penghuni, Pengunjung Publik,Tertutup Kamar mandi Buang air besar & kecil,
Mandi Penghuni, Pengunjung Privat, Tertutup Ruang bersama Duduk, Nonton,
Bersosialisasi Penghuni, Pengunjung publik,Tertutup Taman Hijau Bermain,
bersosialisasi, relaksasi Penghuni, Pengunjung Publik, Terbuka Sumber :
Dokumentasi pribadi b. Kegiatan pengunjung wisma atlet Hunian Keluar masuk
melalui main & side entrance Parkir security Toko, kios/retail Fasilitas
umum R. Pengelola Istirahat, mandi, tidur, bekerja, beraktivitas 78 Tabel
IV.2.3.3. Kegiatan pengunjung wisma atlet Ruang Kegiatan Pengguna Sifat Ruang
Plaza Sirkulasi manusia, bersosialisasi Penghuni, pengunjung, pengelola
Publik,Terbuka Ruang Komunal Bersosialisasi, berkumpul, penyelenggaraan acara
Penghuni, Pengunjung, Pengelola Publik,Terbuka Kamar mandi Buang air besar
& kecil, Mandi Penghuni, Pengunjung Privat, Tertutup Taman Hijau
Bersosialisasi, relaksasi Penghuni, Pengunjung, Pengelola Publik,Terbuka Sumber
: Dokumentasi pribadi c. Kegiatan pengelola wisma atlet Tabel IV.2.3.4.
Kegiatan pengelola wisma atlet Ruang Kegiatan Pengguna Sifat Ruang Ruang
Administrasi & Keuangan Pengurusan masalah administrasi dan keuangan Staff
administrasi & keuangan Publik, tertutup Ruang Bulding Management Mengelola
management gedung Staff Pengelola gedung Semi privat, tertutup Ruang unit
pelayanan dan utilitas Mengelola sistem pengoperasian, pemeliharaan rutin dan
preventif Staff pengelola teknis gedung Semi privat, Tertutup Ruang kepala
pengelola gedung Diskusi dan rapat laporan bulanan Staff pengelola Semi privat,
tertutup Kamar Mandi Buang air besar & kecil Staff pengelola Servis,
tertutup Sumber : Dokumentasi pribadi d. Kegiatan pengelola – servis pada wisma
atlet Tabel IV.2.3.5. Kegiatan pengelola – servis wisma atlet Ruang Kegiatan
Pengguna Sifat Ruang Pos Keamanan Menjaga Keamanan 24 Jam Staff Keamanan
Servis, Tertutup 79 Ruang ME & Genset Penempatan Mekanikal &
Elektrikal, genset Staff Servis, tertutup Gudang Penyimpanan barang barang
servis Staff Servis, Tertutup Sumber : Dokumentasi pribadi e. Kegiatan
penunjang wisma atlet Tabel IV.2.3.6. Kegiatan fasilitas penunjang wisma atlet
Ruang Kegiatan Pengguna Sifat Ruang Ruang serba guna Acara formal dan non
formal Penghuni, pengunjung dan pengelola Publik, tertutup Ruang Komersil/
Retail Kegiatan jual beli kebutuhan sehari hari Penghuni, pengunjung dan
pengelola Publik Musholla Beribadah Penghuni, pengunjung dan pengelola Publik,
Tertutup Lapangan Serba guna Berolahraga, beraktifitas sosial Penghuni,
pengunjung dan pengelola Publik, terbuka Ruang Terbuka Hijau Rekreasi, bermain,
bersosialisasi Penghuni, pengunjung, pengelola Publik, terbuka Ruang Komunal
Bersosialisasi, berkumpul santai Penghuni, pengunjung dan pengelola Publik,
terbuka Sumber : Dokumentasi pribadi IV.2.4. Program Ruang Tabel IV.2.4.1.
Program ruang wisma atlet di Senayan Jenis Kebutuhan Ruang Standart Sumber
Jumlah Ruang Luas Ruang Hunian Hall/Lobby 250 m2 AS 1 250 m2 R.Penjaga 13m2 AS
2 26 m2 Unit kamar 24 m2 - 1000 24.000m2 Ruang bersama 0.05 m2 / room NAD 1 /
lantai 0.05 x 500 x 20 = 500 m2 Total Luas Pelayanan Hunian 24.776 m2 80 Sumber
: Data arsitektur dan Amerika standar
Perhitungan regulasi jumlah kamar : Tapak proyek ini memiliki luas 10.891,18m2 . KDB = 20% Luas lantai
dasar yang boleh dibangun = 20% x 10.891,18 = 2.178.24m2 . Jenis Kebutuhan
Ruang Standart Sumber Kapasitas/ Jumlah Luas Ruang Kantor Pengelola
R.Administrasi 2 m2 /orang NAD 3 12 m2 R.Keuangan 2 m2 /orang NAD 2 8 m2
R.Maintenance 2 m2 /orang NAD 2 12 m2 Toilet 9 m2 AS 2 18 m2 R. Marketing 2 m2
/orang AS 2 8 m2 R. Meeting 1,5 m2 /orang AS 12 18 m2 Total Luas Pelayanan
Kantor Pengelola 76 m2 Jenis Kebutuhan Ruang Standart Sumber Kapasitas/ Jumlah
Luas Ruang Penunjang Retail Kios 0.2 m2 / room NAD 4 0.2x500 x5=500 m2 Ruang
Serba Guna 1 m2 /orang TS 175 175 m2 Mushola 11 m2 AS 8 88 m2 Toilet Umum 20 m2
NAD 5 100 m2 Gudang Perlengkapan 25 m2 AS 1 25 m2 Gymansium/fitnes 0.9 m2 /room
NAD 135 121.5m2 Restauran 0.6 m2 /room NAD 500 300 m2 Kolam renang 58 m2 NAD 20
1160 m2 Laundry dan linen 0.7 m2 / room NAD 500 350 m2 Total Luas Pelayanan
Ruang Penunjang 2819.5 m2 Jenis Kebutuhan Ruang Standart Sumber Kapasitas/
Jumlah Luas Ruang Servis R.Genset 100 m2 AS 1 100 m2 R.Panel 80 m2 AS 2 160 m2
R.Pompa 122 m2 AS 2 244 m2 Area Penampungan Shaft 36 m2 AS 4 144 m2 TPS 80 m2
AS 1 80 m2 Gudang 22 m2 AS 1 22 m2 Total Luas Pelayanan Ruang Servis 750m2 81 Perencanaan jumlah lantai = 20 lapis.
KLB = 2,5. Luas total bangunan yang boleh
dibangun=2,5 x 10.891,18= 27.227,95 m2 Sirkulasi
30% = 27.227,95 x 30% = 8168,385 m2 Luas total
– sirkulasi = 27.227,95 – 8168,385 = 19059,565 m2
Hasil luas total dan sirkulasi : luas kamar : jumlah lantai : jumlah bangunan =
19059,565 : 24 : 20 : 2 = 20 unit kamar/lantai/bangunan. • Analisa jumlah
parkir : Kebutuhan luas 1 mobil + sirkulasi = 25 m² Kebutuhan luas 1 motor +
sirkulasi = 3 m² Kebutuhan parkir mobil service + sirkulasi = 35 m² • Mobil
Skala ratio 5:1 Jumlah kamar 617 Jumlah mobil = 617 : 5 = 123 mobil Kebutuhan
luas parkir mobil = 123 x 25 m² = 3.075 m² • Motor Kapasitas = 100 motor
Kebutuhan luas parkir motor = 100 x 3 m² = 300 m² Total luas parkir penghuni =
3.375 m² • Bus Asumsi 1 bus berisi 50 orang. Jumlah unit kamar = 800. Jumlah
bus = 800 : 50 = 16 bus. Di sediakan 8 tempat parkir bus yang sisanya akan
diparkir di GBK (Gelora Bung Karno). Total luas parkir bus = 8 x 35 m² = 280 m²
• Kendaraan servis Asumsi jumlah truck servis = 2 truck Total luas parkir truck
servis = 2 x 35 m² = 70 m² Perhitungan Plumbing : • Kebutuhan air bersih Unit
kamar 2 orang/unit = 135 x 1.234 orang = 166.590L Restaurant = 70 x 200 orang =
14.000L 82 Total =
166.590+14.000 = 180.590L •
Kebutuhan air panas Unit kamar 2 orang/unit = 135 x 1.234 orang = 166.590L
Kolam renang = 45 L x 20 orang = 900L Laundry = 20L x 617kmx 3 kg = 37.020L
Restaurant = 2,5L x 200orang = 5000L Total = 209.510L • Pencegahan kebakaran
Jumlah sprinkler = luas bangunan/25 = 27.227,95/25 = 1089 sprinkler Air
sprinkler = jumlah sprinkler x 18x30L = 1089 x 18 x 30L = 588.060L Jumlah
hidran = L. bangunan x2/800 = 27.227,95 x2/800 = 68 Jumlah air hidran = jumlah
hidran x 40 x 30 = 68 x 40 x 30 = 81.600L Total = 588.060L + 81.600L = 669.660L
Kebutuhan air bersih = volume air dingin + air hangat + air kebakaran =
180.590L+ 209.510L+ 669.660L= 1.059.760L Volume tangki bawah tanah = 40% x
volume total = 40% x 1.059.760L = 423.904L = 450 m3 = 10m x 9m x 5m Volume
reservoir atas = 15% x volume total = 15% x 1.059.760L = 158.964L = 160 m3 = 8m
x 5m x 4m Perkiraan volume STP = 9m x 9m x 9m. Dimensi pipa pembuangan air
hujan 5” dan volume sumur resapan min. 32m3 . IV.3. Analisa Aspek bangunan
IV.3.1. Analisa Pola Sirkulasi Bangunan Sistem sirkulasi dalam bangunan dapat
dibedakan menjadi sirkulasi horizontal dan sirkulasi vertikal. Sirkulasi
horizontal berguna untuk menghubungkan ruangan yang masih berada dalam satu
level sedangkan horzontal untuk menghubungkan ruangan antar level. 83 •
Sirkulasi Horizontal Tabel IV.3.1.1. Sirkulasi horizontal Jenis Sirkulasi
Kelebihan Kekurangan Linier • Menerus • Bertekuk • Berpotongan • Bercabang •
Berbelok • Melingkar • Radial • sesuai dengan bangunan Wisma Atlet dalam hal
efisiensi ruang • cocok untuk bangunan yang mengutamakan perjalanan arsitektur
• cocok untuk bangunan dengan banyak klasifikasi ruang • sesuai dengan bangunan
Wisma Atlet dengan banyak unit hunian dan fasilitas • cocok untuk bangunan yang
mengutamakan perjalanan arsitektur • cocok untuk bangunan pameran atau museum •
memusatkan kegiatan/ orientasi • mudah untuk mencapai ke titik tertentu •
cenderung statis • tidak efisien pada koridor wisma atlet • tidak cocok dengan
bentuk Wisma Atlet yang memanjang • perlunya penunjuk arah yang jelas •
membentuk suasana yang patah/terhenti • Sulit memberi aksen pada jenis ruang •
Cocok diterapkan pada bangunan fungsi ruang seragam Sumber : Dokumentasi
pribadi dan web google Pola sirkulasi yang akan digunakan pada bangunan wisma
atlet ini adalah pola sirkulasi menerus dan pola linear berbelok. Hal ini 84
dimaksudkan untuk memberi kemudahan bagi pengunjung untuk mengakses ke
tempat-tempat hunian serta ke beberapa fasilitas penunjangnya. Sedangkan untuk
sistem koridor yang digunakan adalah double loaded. Hal ini dimaksudkan untuk
memudahkan pengaturan jumlah tempat hunian dan pengaturan view ke pemandangan luar
lebih maksimal. Dalam hal ini bangunan akan cenderung lebih memipih dan
memanjang ke samping. • Sirkulasi Vertikal Berikut tabel perbandingan beberapa
sistem sirkulasi vertikal : Tabel IV.3.1.2. Analisa sirkulasi vertikal Jenis
sirkulasi Kelebihan Kekurangan Tangga Eskalator Lift Ramp • tidak menggunakan
listrik • fleksibel dan murah, sesuai dengan bangunan wisma atlet • dapat
dipakai setiap saat • berguna di saat kebakaran • fleksibel diletakkan di mana
saja • perjalanan arsitektur lebih baik • efisien • daya angkut yang besar •
tidak
melelahkan • cocok untuk wisma
atlet saat mengangkut perabotan besar ke lantai atas • bernilai estetika •
efisien bagi trolley • melelahkan bagi pengguna • butuh listrik dan space
besar, tidak efisien bagi wisma atlet • butuh listrik dan waktu tunggu • butuh
space besar, tidak efisien bagi wisma atlet Sumber : Panduan sistem bangunan
tinggi Menginat bangunan ini berfungsi sebagai wisma atlet, maka sirkulasi
vertikal yang digunakan adalah tangga dan lift. Penggunaan tangga dianggap
lebih baik untuk menghemat penggunaan energi listrik. Sedangkan penggunaan lift
dikarenakan bangunan wisma atlet ini IV.3 tergolong berupa k bangunan seterusny
konsums pa tangga d gempa bu .2. Analisa B Variasi B g medium r ombinasi an n
wisma atle ya akan men i energi listr ada sirkulas arurat sebag umi, dll.
Bentuk Ban Bentuk Ban Su rise. Sirkula ntara penggu et akan meng nggunakan li
rik. i vertikal, b gai akses ev ngunan Tabel IV.3.2 ngunan - - - - - - - -
umber : F.C.K. si vertikal p unaan tangga ggunakan tan ift. Hal ini b bangunan
wi vakuasi peng 2.1. Analisa va Kelebiha Lebih fung Layout lebih mud baik Dapat
memaksim ruang Bentuk dinamis Layout lebih mud baik Bangunan secara konstruksi
gempa Bentuk bangunan kaku Relatif indah estetik . Ching. Bentu pada bangu a
dan lift. L ngga, sedang bertujuan unt isma atlet ju ghuni bila te ariasi
bentuk ba an gsional ruang dah & malkan - lebih ruang dah & - - n
stabil i/ tahan - - tidak lebih secara - - uk, ruang dan ta nan wisma Lantai 1
– 4 gkan lantai 4 tuk penghem uga menyedi erjadi kebak angunan Kekuranga Bentuk
cenderung statis Layout r cenderung s Sulit dipad dengan be lain Layout w atlet
ku efisien Sulit dipad dengan be lain Sulit d penataan la Sulit dipad dengan be
lain atanan 85 atlet pada 4 dan matan iakan karan, an ruang sulit dukan entuk
wisma urang dukan entuk dalam ayout dukan entuk 86 Dari keempat bentuk dasar
massa bangunan yang akan diterapkan dalam bangunan wisma atlet adalah bentuk
segiempat dan bentuk lengkung. Hal ini berdasarkan pertimbangan fungsi, efisien
dan estetika dalam pengolahan suatu bangunan agar dapat berfungsi secara
maksimal. Tabel IV.3.2.2. Analisa bentuk bangunan berdasarkan arah datang angin
Bentuk Massa keterangan Bentuk Massa Persegi Bangunan yang bermassa kotak atau persegi
cenderung terkena terpaan angin yang lebih kencang. Hal ini dikarenakan posisi
bangunan yang lebih lurus dan memanjang sehingga bidang permukaan yang terkena
terpaan angin lebih banyak. Bentuk Massa Lengkung Bentuk massa lengkung lebih
memiliki kemampuan dalam membelokan arah datang angin sehingga kondisi terpaan
angin ke massa bangunan relatif lebih baik dibandingkan dengan bentuk kotak.
Sumber : Dokumentasi pribadi Tabel IV.3.2.3. Analisa bentuk bangunan
berdasarkan Pembayangan Matahari Bulan Jam Januari 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00
WIB Massa kotak Massa lengkung Udara tidak dapat dibelokan karena pengaruh
massa bangunan. Arah datang angin Arah datang angin Proses pembelokan angin 87
Februari 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00 WIB Massa kotak Massa lengkung Maret 09.00
WIB 12.00 WIB 15.00 WIB Massa kotak Massa lengkung April 09.00 WIB 12.00 WIB
15.00 WIB Massa kotak Massa lengkung Mei 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00 WIB Massa
kotak 88 Massa lengkung Juni 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00 WIB Massa kotak Massa
lengkung Juli 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00 WIB Massa kotak Massa lengkung Agustus
09.00 WIB 12.00 WIB 15.00 WIB Massa kotak Massa lengkung September 09.00 WIB
12.00 WIB 15.00 WIB 89 Massa kotak Massa lengkung Oktober 09.00 WIB 12.00 WIB
15.00 WIB Massa kotak Massa
lengkung November 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00
WIB Massa kotak Massa lengkung Desember 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00 WIB Massa
kotak 90 Massa lengkung Sumber : Dokumentasi pribadi Berdasarkan analisa
perbandingan antara bentuk persegi dengan bentuk lengkung, dilihat dari segi
arah datangnya angin menunjukkan bahwa bentuk lengkung lebih memiliki kemampuan
dalam membelokan arah datangnya angin sehingga terpaan angin yang terjadi pada
massa bangunan lengkung lebih baik dibandingkan dengan bentuk persegi.
Sedangkan analisa perbandingan antara bentuk massa persegi dan bentuk massa
lengkung dengan menggunakan software sketchup memberikan hasil bahwa bentuk
massa lengkung dapat menciptakan pembayangan yang lebih banyak pada area tapak
dibandingkan dengan bentuk massa persegi ( penelitian berdasarkan software
sketchup dari bulan Januari – Desember). Berdasarkan analisa bentuk bangunan
maka dipilihlah bentuk massa lengkung sebagai konsep dalam mendesain massa
bangunan wisma atlet fajar di Senayan. IV.3.3. Analisa Zoning Bangunan 1.
Zoning Vertikal Tabel IV.3.3.1. Alternatif zoning vertikal Variasi Zoning
Kelebihan Kekurangan Area servis mudah dijangkau dari setiap unit ruangan,
Susunan zoning lebih terarah. Terdapat sebagian area publik yang dekat dengan
area servis Area publik yang cukup banyak Setiap area publik dan privat
berdekatan dengan area servis Privat Publik Servis Sumber : Dokumentasi pribadi
Berdasarkan penentuan zoning vertikal yang dikaitakan dengan fungsi, kegiatan
yang ada didalamnya maka dipilihlah alternatif 1. Hal 91 ini juga ditentukan
dari orientasi massa bangunan yang menghadap ke Utara dan Selatan sehingga sisi
Timur dan Barat baik untuk area servis. 2. Zoning Horizontal a. Analisa zoning
lantai 1 – 4 Gambar IV.3.3.1. Analisa zoning horizontal Lt 1 - 4 Sumber : Dokumentasi
pribadi b. Analisa zoning lantai 5 – 20 Gambar IV.3.3.2. Analisa zoning
horizontal Lt 5 - 20 Sumber : Dokumentasi pribadi IV.3.4. Analisa Sistem
Struktur Bangunan Sistem struktur dapat mempengaruhi ketahanan dan lamanya
massa bangunan dan ketahanannya terhadap elemen-elemen perusak bangunan seperti
gempa bumi, bencana angin topan, faktor biologis (hewan perusak), dan
sebagainya. Sistem struktur bangunan dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu : •
Sub Structure (Struktur bawah) Merupakan bagian struktur bawah yang menahan
beban yang bekerja dari atas kebawah. Berikut tabel perbandingan beberapa jenis
pondasi : Tabel IV.3.4.1. Analisa sub structure Jenis Pondasi Kelebihan
Kekurangan Tiang Pancang • waktu pelaksanaan cepat • Relatif murah • cocok untuk
menahan beban vertikal • memerlukan banyak sambungan dan ketelitian yang
tinggi, kurang ekonomis bagi Publik Publik Unit Hunian servis R.ber sama Unit
Hunian servis R.ber sama Area penunj ang Area penunj ang Servis Servis 92 wisma
atlet tapi bagi hotel ekonomis • menimbulkan bising dan getaran Bored Pile •
pemasangan tidak berdampak buruk bagi lingkungan, cocok dengan konsep wisma
atlet • memiliki kekuatan yang cukup untuk bangunan bertingkat tinggi • cocok
untuk segala jenis tanah • waktu pelaksanaan lebih lama • jika kadar air tinggi
pengecoran akan beresiko Pondasi Rakit
(basement) • tahan gempa • ruang pada pondasi
dapat difungsikan sebagai basement/efisiensi lahan • kedalaman sebesar volume
yang dipindahkan • boros dalam pemakaian bahan, kurang efisien bagi Wisma Atlet
• pelaksanaan sulit Sumber : Panduan sistem bangunan tinggi Berdasarkan analisa
sub structure pada tabel diatas, maka Wisma Atlet ini menggunakan kombinasi
pondasi tiang pancang dan bored pile. Pondasi tiang pancang dan bored pile dipilih
karena relatif murah, pengerjaan cepat, dan bersih, juga karena kemampuannya
untuk menahan beban yang cukup besar dan juga dalam tahap pengerjaannya tidak
mengganggu keadaan sekitar atau gangguan relatif kecil. • Upper Structure
(Struktur atas) Upper-structure merupakan struktur utama yang bertugas untuk
menerima seluruh beban hidup atau beban lateral yang diterimanya untuk
diterukan pada pondasi. Berikut tabel perbandingan beberapa jenis sistem upper
structure : 93 Tabel IV.3.4.2. Analisa upper structure Jenis Struktur Kelebihan
Kekurangan Portal (kolom dan balok) • kekakuan cukup • fleksibel dalam penataan
interior unit wisma atlet • struktur sederhana dan ringan • dimensi relatif
besar untuk bentang lebar • trafe kolom relatif kecil Dinding pemikul • kekakuan
tinggi • material beton pada bidang datar dapat mereduksi suara • Memipih
sesuai ruang (efisiensi) • Waktu pemasangan cepat • Biaya yang cukup besar •
Harus terjadi banyak penyesuaian dengan barang dari pabrik Struktur baja
(balok, rangka, grid, dan slab) • pemakaian bahan sedikit dan berupa prefab •
waktu pengerjaan cepat • dapat digunakan untuk bentang lebar • bahan baja kuat
tarik relatif kurang ekonomis bagi wisma atlet • korosi Sumber : Panduan sistem
bangunan tinggi Untuk struktur atas, penggunaan sistem struktur portal dan baja
(truss). Struktur portal dipilih karena bentangan pada wisma atlet relatif
pendek, mengingat fungsi dari bangunan ini adalah hunian. Struktur portal juga
tergolong sederhana dan mudah pengerjaannya. Sedangkan baja dipilih karena
kemampuan bentangannya yang dapat mencapai 18 – 24m. terdapat beberapa bagian
yang membutuhkan sistem struktur baja untuk memperoleh bentangan yang lebar
tanpa terhalang kolom, seperti hall/ruang serba guna. 94 IV.3.5. Analisa
Material Bangunan Tabel IV.3.5.1. Analisa material bangunan Lantai Kelebihan
Kekurangan Keramik - harga ekonomis - Mudah didapat - Pilihan banyak - Mudah
pecah Marmer - Kuat/keras - Elegant - Harga relatif mahal - Pemasangan
cenderung sulit Granit - Kuat/keras - Elegant - Pilihan banyak - Harga relatif
mahal - Pemasangan cenderung sulit Dinding Kelebihan Kekurangan Batu bata -
Tahan panas - Kuat - Harga ekonomis - Pemasangan lama - Boros bahan baku
seperti semen Batako - harga ekonomis - Mudah didapat - Ringan - Kurang kuat -
Mudah rusak Bata ringan - Mudah didapat - Hemat bahan baku - Pemasangan cepat -
Harga relatif mahal Pelapis Dinding Kelebihan Kekurangan Cat - harga ekonomis -
Mudah didapat - Banyak pilihan warna - Mudah pudar/rontok - Tidak tahan lama
Wallpaper - Banyak corak - Sulit diperbaiki jika 95 - Pemasangan cepat rusak -
Harga relatif mahal Softboard - harga ekonomis - Pemasangan cepat & mudah -
Perawatan sulit - Tidak tahan cuaca Plafond Kelebihan Kekurangan Triplek -
Pemasangan cepat - Ringan - Mudah didapat - Tidak tahan cuaca - Bahaya rayap -
Kurang menarik Gypsum - Kedap suara - Lebih hemat bahan - Elegant - Harga mahal
- Pemasangan lama GRC Board - harga ekonomis - Kedap suara - Tahan cuaca -
Berat - Kurang menarik Sumber : Dokumentasi pribadi dan web google Kesimpulan
dari analisa material yang ada maka material yang dipakai pada perancangan
wisma atlet adalah : Tabel IV.3.5.2. Penggunaan material bangunan Lantai
Dinding Pelapis Dinding Plafond Granit Hebel Cat Gypsum Sumber : Dokumentasi
pribadi IV.3.6. Analisa Sistem Utilitas Sistem utilitas merupakan sistem
penunjang suatu bangunan dalam beroperasional. Sistem utilitas pada bangunan
terdiri dari : 1. Analisa Penghawaan Konsumsi energi terbesar pada bangunan
atau gedung-gedung di Indonesia adalah penggunaan AC untuk mencapai
kenyamanan thermal pada manusia 24.50 C – 270
C. Penggunaan energi listrik tersebut dapat mencapai 60% - 70% dari seluruh
konsumsi energi listrik pada bangunan. Penghawaan terbagi menjadi 2 macam yaitu
penghawaan alami dan penghawaan buatan. 96 a. Penghawaan Alami Penghawaan
dengan mengandalkan sirkulasi udara pada ruangan dalam bangunan. Sirkulasi
udara itu dapat terjadi jika terdapat bukaan-bukaan yang mendukung terciptanya
ventilasi silang dalam ruangan, seperti jendela, pintu, jalusi. Gambar
IV.3.6.1. Variasi inlet – outlet Sumber : Climate Responsive Architecture,
Arvand Krishan Tabel IV.3.6.1. Variasi inlet - outlet Variasi Kelebihan
Kekurangan 1 aliran udara lebih bebas didalam ruangan. Aliran udara sulit
mencapai area sudut ruangan 2 Penempatan furniture dapat dimaksimalkan dengan
baik Terdapat sisi bidang yang menghalangi aliran udara ke sebagian ruangan 3
Sirkulasi udara dapat mengalir dengan bebas Posisi inlet – outlet harus berada
pada posisi silang tidak boleh sejajar dengan inlet udara 4 Sirkulasi udara
dapat terjadi dengan baik karena terdapat ventilasi yang cukup banyak Sulit
dalam penempatan furniture ruangan Sumber : Dokumentasi pribadi Aliran udara
dipengaruhi selain dari bukaan-bukaan juga dipengaruhi oleh penempatan tanaman-tanaman
di sekitarnya. 1 2 3 4 97 Udara akan berbelok jika mengenai tanaman-tanaman
yang menghalangi sirkulasi udara. Gambar IV.3.6.2. Pembelokan aliran udara
Sumber : Bangunan tropis Kenyamanan thermal pada ruangan dipengaruhi oleh
peningkatan suhu ruangan yang diakibatkan oleh radiasi matahari yang mengenai
dinding bangunan. Oleh sebab itulah pemilihan bahan material dan orientasi
massa bangunan perlu untuk dipertimbangkan dengan baik. Tabel IV.3.6.2. Data
karakteristik bahan bangunan terhadap panas Sumber : Ilmu fisika bangunan
Terdapat beberapa cara dalam mengatasi permasalahan radiasi matahari pada
bangunan, yaitu : a. Sun shading Gambar IV.3.6.3. Variasi sun shading 98 Sumber
: Norbert Lechner – Heating, Cooling, Lighting b. Vertikal Garden atau
Pepohonan Untuk menghalangi radiasi matahari langsung dapat menggunakan tanaman
pohon atau tanaman rambat untuk bangunan tinggi. Gambar . Variasi tanaman
sebagai penahan radiasi matahari Sumber : Norbert Lechner – Heating, Cooling,
Lighting c. Teknologi Menggunakan bahan-bahan seperti Styrofoam dalam lapisan
dinding. Prosesnya adalah setelah pemasangan dinding maka dinding dilapisi
dengan bahan-bahan Styrofoam atau lapisan polystyrene. Penggunaan lapisan
polystyrene atau bahan Styrofoam dapat menahan radiasi matahari sehingga suhu
didalam ruangan dapat terjaga dengan baik. Gambar IV.3.6.5. Material dinding
yang dapat menahan radiasi matahari 99 Sumber : Web google Pada bangunan
tinggi, ruangan-ruangan pada bagian atas puncak bangunan sering kali terasa
panas dikarenakan cahaya matahari mengenai langsung bagian atas bangunan. Untuk
permasalahan tersebut dapat diatasi dengan roof garden atau green roof dan
kolam air. Gambar IV.3.6.6. Variasi atap sebagai penahan radiasi matahari
Sumber : Dasar-dasar arsitektur ekologis Penggunaan kolam air pada atap
bangunan memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah dapat menahan
radiasi matahari untuk masuk ke dalam ruangan. Kerugiaannya adalah berat air yang
mempengaruhi konstruksi bangunannya. b. Penghawaan Buatan Penghawaan buatan
adalah penggunaan Air Conditioner (AC). Penggunaan AC ini hanya digunakan pada
ruanganruangan pada wisma atlet. Penghawaan buatan pada wisma atlet hanya akan
digunakan 2 jenis AC yaitu AC split dan AC central. Penggunaan AC split pada
wisma atlet dimaksudkan untuk jangka panjang, seperti pada unit huniannya atau
kamar-kamar. Untuk penggunaan AC central relatif untuk waktu yang singkat.
Penggunaan AC split pada massa bangunan hunian dalam jangka waktu panjang
menghemat
ruang AHU, chiller dan 100 cooling tower. Sehingga bisa dioperasionalkan sesuai
dengan penghuni yang ada. AC split hanya digunakan pada ruang kamar tidur saja,
tidak untuk digunakan pada ruangan lain. Gambar IV.3.6.7. AC split Sumber :
Panduan sistem bangunan tinggi Penggunaan AC spilt harus memperhatikan
peletakan outdoor unit agar tidak merusak estetika fasad bangunan. Gambar
IV.3.6.8. Solusi penempatan outdoor unit AC Sumber : Panduan sistem bangunan
tinggi Penggunaan AC central digunakan pada ruang-ruang bersama yang
penggunaannya bersifat sementara atau dalam waktu singkat seperti ruang serba
guna. Hal ini dimaksudkan untuk penghematan penggunaan energi listrik yang
dikonsumsi oleh AC. Gambar IV.3.6.9. Pengoperasian AC central Sumber : Web
google 101 Pengukuran Suhu Pada Lokasi Tapak - Senayan. Berdasarkan hasil
pengukuran suhu dengan menggunakan thermometer digital pada ruangan wisma atlet
fajar (yang merupakan lokasi tapak), diperoleh suhu rata-rata pada ruangan
30.50 C dan 34.50 C pada luar bangunan. Posisi bangunan menghadap Utara dan
Selatan Dalam pengukuran suhu ruangan, penulis mengambil contoh satu ruangan
kamar pada wisma atlet untuk dilakukan pengukuran suhu ruangan dan suhu di luar
ruangan. Gambar IV.3.6.10. Suhu kamar wisma atlet di Senayan Sumber :
Dokumentasi pribadi Dalam penerapan rancangan wisma atlet harus dapat
menurunkan suhu yang ada pada ruangan sampai pada suhu ratarata inlet 28.50 C -
29.50 C dan outlet 300 C - 330 C. Untuk mencapai kenyamanan thermal penghuni
wisma atlet yaitu atlet. Hal ini dapat dicapai dengan menciptakan ventilasi
silang dalam ruangan, penggunaan sun shading, vertikal garden, material yang
tidak atau dapat meminimalkan radiasi matahari pada bangunan. In 30.60 C In
30.90 C Out 34.50 C In 30.90 C In 30.90 C In 30.90 C 102 Gambar IV.3.6.11.
Analisa suhu ruangan Sumber : Ilmu Fisika Bangunan 2. Analisa Pencahayaan Pada
iklim tropis, radiasi matahari cukup tinggi. Pemanfaatan cahaya matahari alami
harus dioptimalkan pada siang hari untuk menghemat penggunaan lampu yang dapat
memboroskan energi listrik. Pemanfaatan itu dapat berupa bukaan-bukaan jendela,
skylight. Pemanfaatan overstek dapat menghindari radiasi matahari langsung,
yang dapat meningkatan suhu dalam ruangan. Gambar IV.3.6.12. Cahaya matahari
yang masuk kedalam ruangan Sumber : Norbert Lechner – Heating, Cooling,
Lighting Jarak antar bangunan juga harus dipertimbangkan dengan baik agar
cahaya matahari yang masuk ke dalam bangunan tidak terhalang oleh bangunan yang
lain di sekitarnya. 3. Analisa Sistem Proteksi Kebakaran Bangunan dapat
menggunakan konstruksi yang tahan api untuk melindungi penghuninya jika terjadi
kebakaran minimal dalam waktu 2 jam. Setiap bagian bangunan dapat menggunakan
sistem ini dan biasanya sistem ini digunakan pada tangga dan lift. 103
Berdasarkan peraturan bangunan tinggi jarak jangkauan tangga tidak boleh lebih
dari 30 meter. Pada jalan buntu tangga harus di tempatkan pada jarak 12 meter
dari pintu paling ujung. Gambar IV.3.6.13. Tangga
darurat Sumber : Panduan sistem bangunan
tinggi Selain itu sistem deteksi asap seperti smoke detector dan sprinkler di
tempatkan pada setiap unit kamar dan koridor gedung untuk mengantisipasi
apabila terjadi kebakaran. Foto IV.3.6.1. Smoke detector dan sprinkler Sumber :
Dokumentasi pribadi hidran juga perlu disediakan pada setiap bangunan. Hidran
dalam biasanya ditempatkan di dekat atau di dalam tangga darurat, dan biasanya
dilengkapi dengan selang, katup, tabung pemadam, serta alarm atau tombol
panggil. Air yang digunakan diambil dari menara air, yang memang sebagian
isinya dicadangkan untuk keperluan darurat. Hidran luar berupa kepala hidran
dan selang. Sumber airnya dari sistem hidran kota. Foto IV.3.6.2. Hidran air di
sekitar bangunan Sumber : Dokumentasi pribadi 104 4. Analisa Instalasi Listrik
Instalasi listrik di salurkan dari PLN ke gardu dan dari gardu di salurkan lagi
ke panel-panel pada bangunan. Selain listrik dari PLN, pada bangunan juga
disiapkan generator yang berfungsi sebagai listrik cadangan apabila terjadi
pemadaman lampu dari PLN. Biasanya peletakan ruang panel dan generator atau
genset diletakan pada ruangan tertentu baik di basement maupun di ruangruang
yang jauh dari aktivitas manusia. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari
kebisingan yang terjadi akibat suara mesin genset. Gambar IV.3.6.14. Ruang
panel dan genset Sumber : Panduan sistem bangunan tinggi Jaringan listrik masuk
ke lokasi tapak melalui tiang listrik yang ada di sekeliling tapak. Foto
IV.3.6.3. Lokasi tiang listrik Sumber : Dokumentasi pribadi Pada perancangan
bangunan wisma atlet, genset akan diletakan di semi basement agar tidak
menggangu kegiatan manusia di sekitar bangunan wisma atlet di Senayan. 5.
Analisa Pengolahan air bersih dan Pembuangan Limbah Pipa pada bangunan atau gedung
terdiri dari 2 pipa yaitu air bersih dan air kotor. Sistem air bersih dapat
berasal dari PAM dan air Tiang listrik 105 tanah. Air yang dialiri dari PAM
akan di tampun di reservoir bawah yang kemudian akan di tarik/sedot ke
reservoir atas atau di tangki penampungan yang berada pada dak atas bangunan.
Setelah di tamping di reservoir atas air kemudian dialirkan ke setiap kamar
mandi, dapur/pantry. Pipa buangan limbah kamar mandi harus di letakan pada
tempat yang mudah di akses. Biasanya pipa tersebut di letakkan dekat dinding
koridor yang telah dipersiapkan shaft-shaftnya agar mudah untuk memperbaiki
apabila terjadi kerusakan. Gambar
IV.3.6.15. Alternatif perletakan
shaft kamar mandi Sumber : Panduan sistem bangunan tinggi Limbah padat pada
kamar mandi dapat di salurkan dari pipa kamar mandi menuju SPT sehingga dapat
diolah dengan baik tanpa mencemari lingkungan. Limbah cair dapat di salurkan ke
sumur resapan, kemudian diolah kembali dan di tampung di bak penampungan bawah
yang kemudian dapat digunakan kembali untuk menyirami tanaman. Gambar
IV.3.6.16. Skematik sumur resapan dan biopori aliran air Sumber : Panduan
sistem bangunan tinggi dan web google 106 Air hujan sebaiknya di tampung ke
dalam tangki-tangki atau bak yang dibuat untuk menampung air hujan rainwater
harvesting. Hasil tampungan dapat dimanfaatkan untuk menyiram tanaman, dan
kebutuhan air kamar mandi. Gambar IV.3.6.17. Tangki penampungan air hujan
Sumber : Web google 6. Analisa Pengolahan dan Pembuangan Sampah Sistem
pengolahan sampah pada bangunan tinggi dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu cara
door to door, Petugas kebersihan mangambil sampah pada setiap unit-unit ruangan
yang kemudian akan di tampung di TPS. Cara yang ke dua yaitu dapat dilakukan
dengan shaft pembuangan sampah yang di sediakan pada setiap unit kamar. Tabel
IV.3.6.3. Sistem pembuangan sampah Sistem Pembuangan Sampah Kelebihan
Kekurangan Door to door Tidak perlu menciptakan shaft khusus sampah,
Pemeriksaan sampah lebih teliti pada setiap unit kamar Tidak praktis,
Membutuhkan petugas kebersihan yang banyak Shaft pembuangan Praktis, Petugas
kebersihan tidak perlu terlalu banyak Perlu menciptakan shaft khusus, Tidak
bersih Sumber : Dokumentasi pribadi 107 Gambar IV.3.6.18. Sistem pembuangan
sampah Sumber : Panduan sistem bangunan tinggi 7. Analisa Penangkal Petir
Bangunan yang memiliki fungsi publik, harus memiliki sistem keamanan gedung.
Tidak hanya di dalam gedung saja, bagian luar gedung juga harus memiliki sistem
keamanan bagi orang-orang yang berada di luar gedung. Salah satu sistem
keamanan luar gedung adalah penangkal petir. Sistem penangkal petir yang
digunakan adalah sistem Thomas. Sistem ini mempunyai jangkauan perlindungan
yang luas, daerah bangunan yang terlindungi dalam radius 60 m dan luas lahan
yang terlindungi dalam kerucut perlindungannya dalam radius 125 m. sistem ini
sangat cocok untuk digunakan pada bangunan tinggi karena dapat melindungi area
publik pada bangunan itu sendiri, bangunan-bangunan di sekitarnya dan pepohonan
pada area sekitar gedung. Gambar IV.3.6.19. Sistem penangkal petir Sumber :
Panduan sistem bangunan tinggi Sampah Shaft Sampah TPS TPA 108 IV.4. Analisa
Sustainable – Green Design IV.4.1. Analisa Green Design Green design adalah
topik yang saya ambil untuk perancangan Wisma Atlet ini. Prinsip-prinsip green
design yang diambil adalah hemat energi listrik. Beberapa analisa sebelumnya,
diketahui bahwa penggunaan energi listrik yang paling besar adalah penggunaan
AC untuk penghawaan. Oleh karena itulah diperlukan beberapa solusi yang dapat
digunakan untuk menghemat penggunaan energi listrik untuk penghawaan yaitu : •
Dengan mengoptimalkan penghawaan alami misalnya pada koridor, tangga darurat,
ruang bersama, dan kamar mandi bila asumsi koridor dari sebuah lantai adalah
30% maka berarti sudah bisa menghemat di atas 30% dari penggunaan penghawaan
buatan. • Pencahayaan alami pada unit-unit
yang
menggunakan single loaded. Selain itu penggunaan cahaya alami pada double
louded juga dapat diterapkan dengan memberikan bukaan-bukaan berupa jendela dan
objek transparan agar cahaya dapat masuk ke dalam gedung. • Pemanfaatan
vertikal garden dapat mereduksi radiasi matahari pada bangunan. Penggunaan
tanaman pada fasad bangunan dapat menciptakan oksigen pada ruangan dan
lingkungan sekitar bangunan wisma atlet. Menurut penelitian Aep Syaepul Rohman
menyatakan bahwa dalam sejam satu lembar daun memproduksi oksigen sebanyak 5
ml. Bila rata-rata jumlah daun per pohon 200 lembar dan terdapat 10 pohon, maka
pohon-pohon yang ada di wisma atlet dan sekitarnya akan menyumbang oksigen
sebanyak 10 x 100 x 200 x 5 ml = 1.000 liter per jam. Angka ini setara dengan
jumlah kebutuhan oksigen untuk pernapasan sebanyak 18 orang (kebutuhan oksigen
untuk satu orang bernapas adalah 53 liter per jam). • Penggunaan Overhang, sun
shading pada bangunan terutama pada bagian jendela memiliki fungsi sebagai
penghalang atau lebih 109 tepatnya untuk mengurangi jumlah sinar/radiasi
matahari yang masuk melalui jendela. Overhang dan sun shading ini juga
berfungsi untuk menghalangi percikan air masuk pada saat hujan Gambar IV.4.1.1.
Overhang untuk menahan radiasi dan air hujan Sumber : Web google • Penggunaan
skylight merupakan salah satu cara untuk memasukan cahaya matahari ke dalam
bangunan. Penggunaan skylight biasanya diletakan pada bagian paling atas bangunan,
agar cahaya matahari dapat masuk ke dalam bangunan. Penggunaan skylight harus
mempertimbangkan berapa intensitas cahaya matahari yang masuk ke dalam bangunan
karena apabila intensitas yang masuk terlalu banyak maka dapat menyebabkan
naiknya suhu dalam bangunan. Gambar IV.4.1.2. Alternatif skylight Sumber : Web
google • Bukaan Pada Bangunan Bukaan pada bangunan dapat diartikan sebagai
bagian bangunan yang dapat memasukan aliran udara ke dalam bangunan, seperti
jendela, jalusi, selain itu jarak antar bangunan juga dapat 110 menciptakan
aliran udara di antara jarak bangunan. Memasukan aliran udara ke dalam bangunan
bertujuan untuk memenuhi kenyamanan thermal penghuni sehingga kerja AC dapat
diminimalkan dan dapat menghemat konsumsi energi listrik. Gambar IV.4.1.3.
Aliran udara yang masuk melalui bukaan pada bangunan Sumber : Dasar-dasar
arsitektur ekologis Penerapan green design pada perancangan bangunan wisma
atlet diharapkan dapat mengatasi konsumsi energi listrik yang besar untuk
penggunaan AC sebagai salah satu penunjang kenyamanan thermal bagi penghuni
wisma atlet. Meskipun pada dasarnya penggunaan AC tetap diterapkan dalam
bangunan wisma atlet. Dengan menerapkan kenyamanan thermal dengan ventilasi
alami diharapkan dapat meringankan kerja AC sehingga konsumsi energi listrik
tidak terlalu besar.
(pusat perbelanjaan) Posisi Timur - Hotel Atlet
Century merupakan tempat penginapan bagi
atlet - Lapangan baseball senayan - Lapangan golf Posisi Barat - Gedung Koni
Pusat kantor pengelola Gelora Bung Karno
55 - Senayan golf .1. Kegiatan di sekitar tapak Dari hasil tinjauan Sisi Utara dan Selatan
tapak memiliki sudut pandang yang cukup menarik untuk menonjolkan keistimewaan
pada bentuk bangunan. Hal ini didukung oleh jalan utama yaitu Jl. Pintu Satu
Senayan yang sering dilalui oleh kendaraan. 2. Akses Transportasi dan Lalu
Lintas Sekitar Tapak Lokasi tapak berada di jalan Pintu Satu Senayan yang
mengarah ke stadion utama GBK. Jalan ini merupakan jalur yang cukup ramai
dilalui oleh kendaraan-kendaraan (kendaraan pribadi dan bus trans) Jalan Pintu
Satu Senayan terhubung ke jalan Jenderal Sudirman (Barat) dan jalan Asia Afrika
(Timur). Perkantoran, Apartemen dan Bank Panin Perkantoran, high rise building
Gedung DIKTI, Hotel Atlet Century, Plaza FX Stadion utama GBK, Mesjid
Perkantoran koni Lokasi tapak 56 Peta IV.1.1.1. Sirkulasi kendaraan di sekitar tapak
keramaian terjadi hampir pada setiap saat karena lokasi ini berdekatan dengan
jalan utama. Puncak keramaian dapat terjadi pada saat terdapat event-event
tertentu seperti adanya pertan
dinganpertandingan sepak bola, dll.
3. Ketinggian Bangunan Sekitar Tapak Jumlah lapis atau ketinggian di sekitar
tapak cukup bervariasi. Ketinggian bangunan KONI pusat yang ada di sebelah
timur tapak mencapai +/- 12 lantai dan bangunan hotel Atlet Century yang berada
di sebelah timur tapak mencapai +/- 17 lantai. Gambar IV.1.1.2. Jumlah lapis
bangunan di sekitar tapak Sumber Google maps Ketinggian bangunan di sekitar
tapak sangat mempengaruhi beberapa faktor seperti pengaruh view bangunan,
datangnya angin, dan bayangan cahaya matahari. Aliran angin akan berbelok jika
Jl.Pintu Satu Senayan Jl.ManilaKebayoran lama +/-20 Lt +/-20 Lt +/-12 Lt Hotel
Century Diknas 1 Wisma atlet yang akan dirancang Koni pusat 57 terdapat objek
di depannya. Oleh sebab itulah diperlukan pertimbangan matang dalam perancangan
wisma atlet. Simulasi pembayangan pada bangunan yang akan dirancang menggunakan
software sketchup, dimana posisi Jakarta terletak pada 6o – 7o LS dan 107o –
108o BT adalah seperti dibawah ini ; Tabel IV.1.1.2. Analisa pembayangan pada
wisma atlet di Senayan Pembayangan Tapak Waktu Jam 06.00 WIB Kondisi
pembayangan masih belum tampak di lokasi tapak. Jam 09.00 Matahari pagi
menyebabkan pembayangan pada bangunan di lokasi tapak Jam 12.00 WIB Posisi
matahari berada di atas gedung, menyebabkan pembayangan di sekeliling bangunan
Jam 15.00 WIB Posisi matahari berada di Barat menyebabkan posisi bangunan yang
menghadap Utara terjadi
pembayangan 58 Jam 18.00 WIB
Pembayangan hanya sedikit terjadi pada bagian Barat. Sumber: Dokumentasi pribadi Kesimpulan dari
analisa pembayangan yang terjadi di lokasi wisma atlet – Senayan adalah cahaya
matahari yang mengenai tapak tidak terhalang oleh bangunan tinggi di sekitarnya
karena pengaruh jarak antar bangunan yang relatif cukup jauh. Pembayangan
terjadi hanya karena terdapat objek di atas tapak itu sendiri. Perencanaan dan
perancangan jumlah lapis pada wisma atlet di perkirakan mencapai +/- 20 lapis.
Pertimbangan ini diambil karena lokasi tapak berada di area bangunan medium rise
– high rise. Gambar. Analisa ketinggian wisma atlet Sumber Google maps IV.1.2. Analisa View 1.
View Dari Tapak View dari tapak ke sebelah Utara berupa jalan utama yaitu Jl.
Pintu Satu Senayan dan di seberang jalan terdapat view kearah pepohonan hijau
yang di sekitarnya terdapat bangunan mesjid Mezquita Geloran, dan view utama
dari tapak ke sebelah Utara adalah stadion utama Gelora Bung Karno. 20 lt 59 View ke pintu masuk senayan dan ke stadion
utama GBK Sumber : Dokumentasi pribadi dan web googles Perletakan massa
bangunan disesuaikan dengan potensi view yang ada. Bangunan wisma atlet diletakkan pada posisi bangunan yang menghadap
ke Utara dan Selatan tapak. Sementara untuk area servis di
sebelah Barat atau Timur. Gambar IV.1.2.1. Respon desain ke view sekitar tapak
Sumber : Google maps Pertimbangan (+) dan (-) pada view bangunan di lokasi
tapak ditentukan oleh potensi-potensi view yang ada disekeliling tapak. Apakah
bangunan yang ada di sekeliling tapak terlalu tinggi sehingga menghalangi view
dari dalam ke luar tapak. 2. View Dalam Tapak Dilihat dari bentuk tapak yang
hampir membentuk segiempat, maka pertimbangan pada beberapa bagian tapak akan
ditanami penghijauan yang mengelilingi tapak, dengan maksud untuk menciptakan
penghijauan didalam area tapak. View ke bangunan tinggi View ke beberapa
bangunan tinggi View ke lapangan olahraga & RTH View ke stadion utama GBK
60 Gambar IV.1.2.2. Penghijauan di sekeliling tapak .sumber Google maps Selain
menciptakan penghijauan, pada area tapak dirancang sebuah plaza dan area publik
tempat orang-orang berkumpul, sehingga terdapat aktivitas yang berlangsung di
dalam tapak. 3. View Ke Tapak View ke tapak pada saat ini terdapat bangunan
wisma atlet fajar. Bangunan ini merupakan bangunan lama yang di redesain atau
dibangun kembali. Lokasi tapak berada di tempat yang cukup strategis. Hal ini
dikarenakan jalur utama kendaraan yang melalui tapak tersebut. Sehingga dari
arah jalan dapat melihat ke dalam tapak. Gambar IV.1.2.3. View ke tapak dari
Jl. Pintu Satu Senayan. Kesimpulan dari analisa view ke tapak adalah
penerapan perancangan lingkungan di lokasi
tapak, adalah dengan pembuatan plaza, tempat komunal seperti ruang terbuka
hijau dengan tempat duduk. Hal Bangunan lama wisma atlet fajar yang aka
dibangun kembali 61 ini dimaksudkan agar view tercipta didalam tapak menjadi
lebih menarik dan hidup secara kegiatan. Gambar IV.1.2.4. Perencanaan taman di
dalam tapak . Analisa Kebisingan Lokasi tapak yang berdekatan dengan jalan
utama menyebabkan kebisingan didalam tapak tidak dapat dihindari. Oleh karena
itulah diperlukan solusi dalam mengatasi kebisingan tersebut seperti pengolahan
zona ruang pada bangunan. Lantai bawah akan dimanfaatkan sebagai ruang publik. Ruang-ruang
diatasnya difungsikan sebagai tempat hunian dan berbagai fasilitasnya. Selain
itu dapat juga dengan pemanfaatan barrel pada bagian depan tapak serta
penanaman tanaman untuk mereduksi kebisingan yang berasal dari jalan utama.
Solusi lainnya dapat menggunakan material bangunan yang dapat mereduksi suara
seperti double glazing dan dinding yang lebih masif. Gambar IV.1.3.1.
Penempatan fungsi dan lansekap untuk menghindari kebisingan Sumber : Google
maps Unit kamar Ruang aktivitas dan publik Area servis Barrel pepohonan Sumber
kebisingan 62 Berdasarkan analisa kebisingan, sumber kebisingan lebih di
dominasi dari arah jalan utama yaitu Jl. Pintu Satu Senayan yang banyak dilalui
oleh kendaraan. Oleh sebab itulah diperlukan langkah-langkah dalam mengatasi
kebisingan tersebut agar tidak menggangu bangunan wisma atlet. Tabel IV.1.3.1.
Analisa mengatasi kebisingan Penggunaan tanaman sebagai pemecah kebisingan
Memundurkan massa bangunan agar jarak bising tidak sampai ke bangunan Pembagian
zoning yang tepat Sumber : Dokumentasi pribadi Berdasarkan dari analisa
kebisingan, penentuan peletakan massa bangunan, pengaturan zoning dan pemilihan
tanaman pada bagian tapak yang dekat dengan kebisingan, sangat diperlukan
sekali agar tidak merusak view bangunan yang tercipta pada lokasi tapak.
IV.1.4. Analisa Iklim Menurut analisis dan penelitian menggunakan thermometer
di lokasi serta menurut data dari badan Meteorologi dan
Geofisika, hasil yang didapat
adalah suhu rata-rata mencapai 30 - 340 C. Kondisi lingkungan tersebut terasa
sejuk apabila cuaca sedang mendung dan juga dikarenakan terdapat pepohonan di
sekitarnya, jika kondisi cuaca sedang panas kondisi suhu baik di dalam ruangan
maupun di luar bangunan akan terasa cukup panas. Foto, Pepohonan pada sekeliling tapak Sumber :
Dokumentasi pribadi privat Semi privat Publik Tanaman 63 Di butuhkan
penghijauan untuk menciptakan suhu udara yang nyaman di lokasi tersebut. Selain
penghijauan pada tapak, penghijauan pada bangunan juga dapat dilakukan seperti
roof garden, green roof, vertical garden dan pembuatan air mancur atau kolam
untuk menurunkan suhu panas lingkungan. IV.1.5. Analisa Vegetasi Di sekitar
lokasi tapak terdapat cukup banyak penghijauan, karena lokasi Senayan ini
selain direncanakan untuk pembangunan juga sebagai paru-paru jakart. Hampir
setiap area dipenuhi oleh pepohonan yang sudah cukup lama berada di lokasi
tersebut. Di lokasi tapak terdapat beberapa pohon eksisting yang ada di
sekeliling tapak. Perancangan pembangunan gedung akn diusahakan tidak menggangu
pepohonan yang ada. Jika memang ada yang menggangu view atau struktur maka
pepohonan akan di pindahkan. Gambar IV.1.5.1. Pohon eksisting yang ada di tapak
Sumber : Google maps Foto IV.1.5.1. Pohon-pohon eksisting yang ada di tapak
Sumber : Dokumentasi pribadi 64 IV.1.6. Analisa Sirkulasi Ruang Luar 1.
Sirkulasi Manusia Dilihat dari kondisi tapak yang berbentuk memanjang dan
pertimbangan-pertimbangan mengenai tapak yang berdekatan dengan jalan Pintu
Satu Senayan maka jalur sirkulasi manusia direncanakan dan dirancang
mengelilingi tapak. Untuk menjaga keamanan dan privasi dari penghuni wisma
atlet ini maka akan dibuat sebuah pemisah antara luar tapak dan dalam tapak.
Gambar IV.1.6.1. Sirkulasi manusia Sumber : Google maps Gambar IV.1.6.2.
Pemisah atau pembatas kegiatan tapak Sumber : Architectural Graphic Standard
Sirkulasi manusia 65 Pemisahan juga dapat berfungsi untuk membatasi dua
kegiatan yang berbeda, sehingga tidak menggangu kegiatan orang lain. 2.
Sirkulasi Kendaraan Bermotor Sirkulasi kendaraan bermotor dibatasi dengan
luasan seminimal mungkin atau sesuai dengan fungsinya. Hal ini dimaksudkan
untuk memaksimalkan area pejalan kaki dan ruang terbuka hijau. Penerapannya
dapat berupa area-area pedestrian pada tapak yang dipisahkan dengan
kendaraan-kendaraan bermotor agar tidak terjadi cross
antara
pejalan kaki dan kendaraan bermotor. Sirkulasi kendaraan bermotor didalam tapak
di batasi dengan penyediaan fasilitas tempat parkir dan akses sirkulasi di
dalam tapak. hal ini dimaksudkan agar tapak terbebas dari kegiatan kendaraan
yang berlebihan sehingga terhindar dari polusi udara. Gambar IV.1.6.3.
Pedestrian eksisting pada lokasi tapak Sumber : Dokumentasi pribadi 3.
Sirkulasi Matahari Posisi tapak memanjang ke arah Barat dan Timur sehingga
orientasi massa bangunan lebih mengarah ke arah Utara dan Selatan. Hal ini
memberikan keuntungan tersendiri bagi massa bangunan. Panas matahari tidak akan
mengenai langsung ruang-ruang yang ada pada bangunan. Perencanaan ruang pada
posisi Barat dan Timur, dimanfaatkan untuk area servis. Hal ini dimaksudkan
untuk tidak menggangu para penghuni wisma atlet tersebut. Area parkir ME SE 66
Gambar IV.1.6.4. Sirkulasi matahari pada lokasi tapak Sumber : Google maps
Tabel IV.1.6.1. Analisa matahari Bagian Bangunan Yang Terkena matahari Waktu
Jam 06.00 WIB Sisi bagian pendek bangunan yang terkena cahaya matahari Jam
09.00 WIB Sisi bagian bangunan yang menghadap Timur yang terkena cahaya
matahari Jam 12.00 WIB Posisi matahari berada di posisi atas bangunan dan
mengenai atap bangunan Jam 15.00 WIB Cahaya matahari mengenai bangunan yang
cenderung lebih menghadap ke arah Selatan T B Bangunan wisma atlet lama yang
akan dibangun kembali peran cahay secon
beber skin perm 4. Angi maka berad knot sebag T Kec 2 m/detik Kesehatan
penghuni terpengaruh oleh kecepatan angin yang tinggi 2.3 – 4.20 C Sumber :
Ilmu fisika bangunan Berdasarkan
data diatas maka kecepatan angin yang paling nyaman bagi manusia adalah 0.25 –
0.5m/detik. Untuk lokasi tapak di Senayan berdasarkan data BMKG yang mengambil
lokasi Pondok Betung sebagai lokasi yang paling dekat dengan lokasi Senayan
menyatakan bahwa kecepatan angin rata-rata mencapai 0.8 – 1.5m/detik dengan
suhu udara tertinggi 350 C dan suhu udara terendah mencapai 250 C - 280 C.
Gambar IV.1.6.6. Data BMKG kecepatan angin Sumber : Web BMKG Gambar IV.1.6.7.
Data BMKG rata-rata suhu udara Sumber : Web BMKG Kecepatan Masih maksimal
nyaman Suhu dapat mencapai 350 C Suhu dapat mencapai 25- 280 C 69 Dari data
tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kecepatan angin di Senayan khususnya di
lokasi tapak cukup kencang pada saat bulan-bulan tertentu dengan suhu udara yang
cukup tinggi, sehingga diperlukan solusi pada saat perancangan bangunan wisma
atlet, seperti ukuran bukaan jendela dan penanaman pohon untuk membelokan
aliran angin serta menciptakan sirkulasi udara yang baik. IV.1.7. Analisa
Pencapaian ke Tapak Terdapat dua jalan utama menuju ke lokasi tapak yaitu Jl.
Pintu Satu Senayan dan Jl. Manila – Kebayoran Lama. Tabel IV.1.7.1. Analisa
pencapaian ke tapak Kelebihan alternatif 1: - Posisi main entrance berada di
jalan utama Pintu Satu Senayan. - Side entrance berada pada Jl. Manila –
Kemayoran Lama, sehingga dapat menghindari kemacetan jalan utama - Posisi tapak
lebih terlihat dari arah jalan utama, sehingga memudahkan sirkulasi keluar
masuk tapak. - Servis entrance di letakan pada bagian tapak yang menghadap ke Jl.
Manila – Kemayoran Lama. Jalur ini dipilih berdasarkan pertimbangan jalur
sirkulasi dari jalan ini yang dapat tembus ke arah Jl. Pintu Satu Senayan. Dan
juga untuk menghindari terganggunya kegiatan didalam tapak. Kekurangan
alternatif 1 : - Side entrance dan servis entrance berada pada satu jalur
keluar, sehingga membuat sirkulasinya lebih padat di ME SE SV ME SE SV 70 dalam
tapak. Kelebihan alternatif 2 : - Main entrance dan side entrance berada di Jl.
Pintu Satu Senayan yang merupakan jalur utama - Servis entrance berada di Jl.
Manila – Kemayoran Lama, sehingga tidak menganggu jalur sirkulasi di dalam
tapak. Kekurangan alternatif 2 : - Side entrance berada di jalan utama Pintu
Satu Senayan, dapat menyebabkan kemacetan pada jalan utama. - Sirkulasi servis entrance
tidak mengelilingi tapak, sehingga lokasi servis hanya ditentukan di beberapa
lokasi saja. Sumber : Dokumentasi pribadi dan web google Dari analisa
pencapaian ke tapak maka dipilihlah
alternatif
1, untuk di terapkan dalam perancangan wisma atlet di Senayan. Alternatif 1
dipilih karena pertimbangan jalur sirkulasi di dalam tapak yang memanfaatkan 2
sirkulasi jalan yang ada di Senayan yaitu Jl. Pintu Satu Senayan dan Jl. Manila
– Kemayoran Lama. IV.1.8. Analisa Orientasi Massa Bangunan Orientasi massa
bangunan sangat dipengaruhi oleh aspek matahari, arah angin, view, dan letak
pintu masuk. ME SV SE servis ME SV SE servis B B Tabel U S U S IV.1.8.1. Ana K
- - - - - K - - - K - - T T alisa orientasi m Kelebihan a Massa ba matahari B
Tampak terlihat de Senayan d Lama. Keadaan sejuk. View lebih Orientasi menerima
karena an arah Selat Kekurangan Posisi ba arah jalan Luasnya b yang terk dan
Selat khusus da Diperluka mengatasi menerpa l Kelebihan a Sirkulasi baik pada
Posisi terciptany cukup ba massa banguna alternatif 1 : angunan terh Barat dan
Ti depan b engan jelas dan Jl. Mani di dalam h menarik bangunan c a arah da
ngin bertiup tan ke Utara n alternatif angunan tam n. bidang perm kena cahaya
tan, sehing alam menagg an solusi i kecepatan langsung ke alternatif 2 udara
dapat a jalur kiri ka bangunan ya sirkulasi aik di dalam an : hindar dari imur.
angunan d di Jl. Pintu ila – Kemay ruangan ukup baik d atangnya a p cenderung 1
: mpak datar mukaan bang a matahari gga perlu s gapinya. khusus d n angin
bangunan. : t tercipta de anan bangun memungki i manusia tapak. 71 sinar dapat
Satu yoran lebih dalam angin dari dari gunan utara solusi dalam yang engan nan.
inkan yang 72 - Posisi massa bangunan cukup baik karena massa bangunan yang
memiliki penampang yang lebih kecil yang menghadap ke arah datangnya angin,
sehingga kecepatan angin yang menerpa massa bangunan dapat dibelokan.
Kekurangan alternatif 2 : - Bangunan akan cukup panas karena orientasi massa
bangunan menghadap ke
sebelah Barat dan Timur. -
Bangunan tidak terlalu terlihat dari arah jalan utama. - Posisi massa bangunan
dapat menciptakan tornado angin pada bagian area tapak dan juga dapat
menyebabkan tidak adanya sirkulasi udara diantara bangunan tersebut,
dikarenakan terhalang oleh 2 – 3 massa bangunan. Sumber : Dokumentasi pribadi
dan web google IV.2. Analisa Aspek Manusia IV.2.1. Analisa Pelaku Kegiatan
Pelaku kegiatan dibagi menjadi 4 kelompok yang memiliki karakteristik dan
kebutuhan yang berbeda : 1. Penyewa Wisma Atlet Pelaku kegiatan pada wisma atlet
ini adalah penghuni atau para atlet yang menyewa wisma atlet. Para atlet
menyewa wisma atlet untuk tinggal dan mempersiapkan pertandingan-pertandingan
yang akan dilaksanakan. Target pengunjung lainnya adalah pada saat 73 terdapat
event-event pertandingan seperti pertandingan sepak bola, karate, badminton dan
tenis. 2. Staf Pengelola - Administrasi Staf pengelola adalah orang yang
bertugas mengurus administrasi penyewaan unit hunian pada bangunan wisma atlet.
Staf pengelola administrasi meliputi orang-orang yang bekerja dalam kantor
pengelolaan, dan staf yang terlibat langsung dengan tamu. 3. Staf Pengelola –
Servis Staf pengelola – servis adalah meliputi koki, housekeeping, teknisi,
perawatan gedung, dan keamanan. Biasanya untuk housekeeping terdapat jalur
khusus untuk kesetiap lantai. 4. Pelaku bisnis Sedangkan pelaku bisnis adalah
orang-orang yang menjalankan usahanya seperti membuka toko-toko, retail shop,
dan kios-kios. Pelaku bisnis ini biasanya menyewa ruang-ruang yang ada di
lantai dasar untuk membuka usaha. Adapun syarat-syarat dan fasilitas-fasilitas
yang harus dimiliki wisma atlet agar para pengunjung merasa cukup nyaman dalam
melaksanakan aktivitasnya : 1. Wisma atlet harus dapat memberikan kenyamanan
thermal, verbal, visual, dan spasial. 2. Wisma atlet menyediakan fasilitas
untuk memenuhi kebutuhan dalam menjalankan aktivitasnya. 3. Wisma atlet
menyediakan cukup ruang untuk menampung atau mewadahi berbagai aktivitas
pengunjung. 4. Area servis harus diperhatikan persyaratan-persyaratannya
seperti kebersihan, agar tidak menganggu pengunjung atau penghuni kamar. 5.
Wisma atlet harus dapat memberikan atau menciptakan keamanan dan privasi bagi
penghuninya. IV.2.2. Analisa Penghuni (Atlet) Pengguna dari wisma atlet ini
adalah atlet-atlet baik nasional maupun internasional. Selain untuk atlet,
wisma atlet ini juga di sewa 74 untuk pelajar maupun masyarakat umum untuk
menunjang produktivitas jangka panjang pada bangunan wisma atlet. Wisma
atlet akan diperuntukan bagi atlet-atlet
yang akan mengikuti pertandingan. Berikut adalah kegiatan atlet sepanjang hari.
Tabel IV.2.2.1. Jadwal kegiatan atlet Pukul Kegiatan Pukul Kegiatan 04.00-05.30
Bangun, Gosok Gigi, Mandi, BersihBersih, sarapan 14.00-18.00 Latihan fisik
(barbel, skipping, sit up, push up, benchpress, legpress, shoulder rising, dll)
05.30-07.00 Latihan fisik 18.00-19.00 Istirahat, Duduk 07.00-11.00 Sekolah
19.00-21.00 Sekolah 11.00-14.00 Istirahat, Makan, Tidur 21.00-04.00 Istirahat,
Tidur, Duduk Sumber : Analisa aktivitas atlet dari jadwal kegiatan pada wisma
atlet ragunan. IV.2.3. Analisa Jenis dan Kebutuhan Ruang 1. Rencana Program
Ruang Wisma Atlet Gambar IV.2.3.1. Skema program ruang Sumber : Dokumentasi
pribadi 2. Kegiatan Tamu Khusus Penghuni Wisma Atlet Plaza/lobby Parkir Hunian
R.Penunjang K.Pengelol Taman Servis Main entrance securit 75 Gambar IV.2.3.2.
Skema kegiatan tamu Sumber : Dokumentasi pribadi 3. Kegiatan Tamu Khusus Staf
Pengelola Wisma Atlet Gambar IV.2.3.3. Skema kegiatan staff pengelola Sumber :
Dokumentasi pribadi 4. Analisa kebutuhan ruang/unit hunian untuk 2 orang Tabel
IV.2.3.1. Kebutuhan ruang untuk 2 orang No Kebutuhan Ruang Elemen Ruang Dimensi
Ruang Sumber 1 Kamar tidur 1 Tempat tidur, Lemari pakaian, meja 17 m2 Survey 2
Kamar mandi Shower, kloset, wastafel 4 m2 Survey Berkunjung ke unit hunian yang
dituju Parkir security Keluar masuk hunian melalui main & side entrance
Pengelola R.Pengelola Entrance Cek security Parkir Kegiatan lain 76 3 Balkon
Tempat duduk 3 m2 Survey TOTAL 24m2 Sumber : Dokumentasi pribadi a. Konfigurasi
ruang/unit hunian pada wisma atlet Gambar IV.2.3.4. Skema program ruang unit
hunian
Sumber : Dokumentasi pribadi b. Kegiatan
penghuni wisma atlet pada unit hunian Gambar IV.2.3.5. Skema kegiatan pada unit
hunian Sumber : Dokumentasi pribadi c. Kegiatan penghuni wisma atlet pada
bangunan K. Tidur Balkon Km. Mandi Tidur Bersantai, duduk, mengobrol,
Keluar/masuk Mck Balkon 77 Gambar IV.2.3.6. Skema kegiatan penghuni wisma atlet
Sumber : Dokumentasi pribadi Berikut adalah kegiatan-kegiatan yang ada pada
wisma atlet : a. Kegiatan penghuni wisma atlet Tabel IV.2.3.2. Kegiatan
penghuni wisma atlet Ruang Kegiatan Pengguna Sifat Ruang Kamar tidur
Beristirahat, Tidur Penghuni Privat, Tertutup Pantry/Dapur Masak, Cuci piring,
Makan Penghuni, Pengunjung Servis, Terbuka Ruang Jemur Menjemur Pakaian
Penghuni, Pengunjung Publik,Tertutup Kamar mandi Buang air besar & kecil,
Mandi Penghuni, Pengunjung Privat, Tertutup Ruang bersama Duduk, Nonton,
Bersosialisasi Penghuni, Pengunjung publik,Tertutup Taman Hijau Bermain,
bersosialisasi, relaksasi Penghuni, Pengunjung Publik, Terbuka Sumber :
Dokumentasi pribadi b. Kegiatan pengunjung wisma atlet Hunian Keluar masuk
melalui main & side entrance Parkir security Toko, kios/retail Fasilitas
umum R. Pengelola Istirahat, mandi, tidur, bekerja, beraktivitas 78 Tabel
IV.2.3.3. Kegiatan pengunjung wisma atlet Ruang Kegiatan Pengguna Sifat Ruang
Plaza Sirkulasi manusia, bersosialisasi Penghuni, pengunjung, pengelola
Publik,Terbuka Ruang Komunal Bersosialisasi, berkumpul, penyelenggaraan acara
Penghuni, Pengunjung, Pengelola Publik,Terbuka Kamar mandi Buang air besar
& kecil, Mandi Penghuni, Pengunjung Privat, Tertutup Taman Hijau
Bersosialisasi, relaksasi Penghuni, Pengunjung, Pengelola Publik,Terbuka Sumber
: Dokumentasi pribadi c. Kegiatan pengelola wisma atlet Tabel IV.2.3.4.
Kegiatan pengelola wisma atlet Ruang Kegiatan Pengguna Sifat Ruang Ruang
Administrasi & Keuangan Pengurusan masalah administrasi dan keuangan Staff
administrasi & keuangan Publik, tertutup Ruang Bulding Management Mengelola
management gedung Staff Pengelola gedung Semi privat, tertutup Ruang unit
pelayanan dan utilitas Mengelola sistem pengoperasian, pemeliharaan rutin dan
preventif Staff pengelola teknis gedung Semi privat, Tertutup Ruang kepala
pengelola gedung Diskusi dan rapat laporan bulanan Staff pengelola Semi privat,
tertutup Kamar Mandi Buang air besar & kecil Staff pengelola Servis,
tertutup Sumber : Dokumentasi pribadi d. Kegiatan pengelola – servis pada wisma
atlet Tabel IV.2.3.5. Kegiatan pengelola – servis wisma atlet Ruang Kegiatan
Pengguna Sifat Ruang Pos Keamanan Menjaga Keamanan 24 Jam Staff Keamanan
Servis, Tertutup 79 Ruang ME & Genset Penempatan Mekanikal &
Elektrikal, genset Staff Servis, tertutup Gudang Penyimpanan barang barang
servis Staff Servis, Tertutup Sumber : Dokumentasi pribadi e. Kegiatan
penunjang wisma atlet Tabel IV.2.3.6. Kegiatan fasilitas penunjang wisma atlet
Ruang Kegiatan Pengguna Sifat Ruang Ruang serba guna Acara formal dan non
formal Penghuni, pengunjung dan pengelola Publik, tertutup Ruang Komersil/
Retail Kegiatan jual beli kebutuhan sehari hari Penghuni, pengunjung dan
pengelola Publik Musholla Beribadah Penghuni, pengunjung dan pengelola Publik,
Tertutup Lapangan Serba guna Berolahraga, beraktifitas sosial Penghuni,
pengunjung dan pengelola Publik, terbuka Ruang Terbuka Hijau Rekreasi, bermain,
bersosialisasi Penghuni, pengunjung, pengelola Publik, terbuka Ruang Komunal
Bersosialisasi, berkumpul santai Penghuni, pengunjung dan pengelola Publik,
terbuka Sumber : Dokumentasi pribadi IV.2.4. Program Ruang Tabel IV.2.4.1.
Program ruang wisma atlet di Senayan Jenis Kebutuhan Ruang Standart Sumber
Jumlah Ruang Luas Ruang Hunian Hall/Lobby 250 m2 AS 1 250 m2 R.Penjaga 13m2 AS
2 26 m2 Unit kamar 24 m2 - 1000 24.000m2 Ruang bersama 0.05 m2 / room NAD 1 /
lantai 0.05 x 500 x 20 = 500 m2 Total Luas Pelayanan Hunian 24.776 m2 80 Sumber
: Data arsitektur dan Amerika standar
Perhitungan regulasi jumlah kamar : Tapak proyek ini memiliki luas 10.891,18m2 . KDB = 20% Luas lantai
dasar yang boleh dibangun = 20% x 10.891,18 = 2.178.24m2 . Jenis Kebutuhan
Ruang Standart Sumber Kapasitas/ Jumlah Luas Ruang Kantor Pengelola
R.Administrasi 2 m2 /orang NAD 3 12 m2 R.Keuangan 2 m2 /orang NAD 2 8 m2
R.Maintenance 2 m2 /orang NAD 2 12 m2 Toilet 9 m2 AS 2 18 m2 R. Marketing 2 m2
/orang AS 2 8 m2 R. Meeting 1,5 m2 /orang AS 12 18 m2 Total Luas Pelayanan
Kantor Pengelola 76 m2 Jenis Kebutuhan Ruang Standart Sumber Kapasitas/ Jumlah
Luas Ruang Penunjang Retail Kios 0.2 m2 / room NAD 4 0.2x500 x5=500 m2 Ruang
Serba Guna 1 m2 /orang TS 175 175 m2 Mushola 11 m2 AS 8 88 m2 Toilet Umum 20 m2
NAD 5 100 m2 Gudang Perlengkapan 25 m2 AS 1 25 m2 Gymansium/fitnes 0.9 m2 /room
NAD 135 121.5m2 Restauran 0.6 m2 /room NAD 500 300 m2 Kolam renang 58 m2 NAD 20
1160 m2 Laundry dan linen 0.7 m2 / room NAD 500 350 m2 Total Luas Pelayanan
Ruang Penunjang 2819.5 m2 Jenis Kebutuhan Ruang Standart Sumber Kapasitas/
Jumlah Luas Ruang Servis R.Genset 100 m2 AS 1 100 m2 R.Panel 80 m2 AS 2 160 m2
R.Pompa 122 m2 AS 2 244 m2 Area Penampungan Shaft 36 m2 AS 4 144 m2 TPS 80 m2
AS 1 80 m2 Gudang 22 m2 AS 1 22 m2 Total Luas Pelayanan Ruang Servis 750m2 81 Perencanaan jumlah lantai = 20 lapis.
KLB = 2,5. Luas total bangunan yang boleh
dibangun=2,5 x 10.891,18= 27.227,95 m2 Sirkulasi
30% = 27.227,95 x 30% = 8168,385 m2 Luas total
– sirkulasi = 27.227,95 – 8168,385 = 19059,565 m2
Hasil luas total dan sirkulasi : luas kamar : jumlah lantai : jumlah bangunan =
19059,565 : 24 : 20 : 2 = 20 unit kamar/lantai/bangunan. • Analisa jumlah
parkir : Kebutuhan luas 1 mobil + sirkulasi = 25 m² Kebutuhan luas 1 motor +
sirkulasi = 3 m² Kebutuhan parkir mobil service + sirkulasi = 35 m² • Mobil
Skala ratio 5:1 Jumlah kamar 617 Jumlah mobil = 617 : 5 = 123 mobil Kebutuhan
luas parkir mobil = 123 x 25 m² = 3.075 m² • Motor Kapasitas = 100 motor
Kebutuhan luas parkir motor = 100 x 3 m² = 300 m² Total luas parkir penghuni =
3.375 m² • Bus Asumsi 1 bus berisi 50 orang. Jumlah unit kamar = 800. Jumlah
bus = 800 : 50 = 16 bus. Di sediakan 8 tempat parkir bus yang sisanya akan
diparkir di GBK (Gelora Bung Karno). Total luas parkir bus = 8 x 35 m² = 280 m²
• Kendaraan servis Asumsi jumlah truck servis = 2 truck Total luas parkir truck
servis = 2 x 35 m² = 70 m² Perhitungan Plumbing : • Kebutuhan air bersih Unit
kamar 2 orang/unit = 135 x 1.234 orang = 166.590L Restaurant = 70 x 200 orang =
14.000L 82 Total =
166.590+14.000 = 180.590L •
Kebutuhan air panas Unit kamar 2 orang/unit = 135 x 1.234 orang = 166.590L
Kolam renang = 45 L x 20 orang = 900L Laundry = 20L x 617kmx 3 kg = 37.020L
Restaurant = 2,5L x 200orang = 5000L Total = 209.510L • Pencegahan kebakaran
Jumlah sprinkler = luas bangunan/25 = 27.227,95/25 = 1089 sprinkler Air
sprinkler = jumlah sprinkler x 18x30L = 1089 x 18 x 30L = 588.060L Jumlah
hidran = L. bangunan x2/800 = 27.227,95 x2/800 = 68 Jumlah air hidran = jumlah
hidran x 40 x 30 = 68 x 40 x 30 = 81.600L Total = 588.060L + 81.600L = 669.660L
Kebutuhan air bersih = volume air dingin + air hangat + air kebakaran =
180.590L+ 209.510L+ 669.660L= 1.059.760L Volume tangki bawah tanah = 40% x
volume total = 40% x 1.059.760L = 423.904L = 450 m3 = 10m x 9m x 5m Volume
reservoir atas = 15% x volume total = 15% x 1.059.760L = 158.964L = 160 m3 = 8m
x 5m x 4m Perkiraan volume STP = 9m x 9m x 9m. Dimensi pipa pembuangan air
hujan 5” dan volume sumur resapan min. 32m3 . IV.3. Analisa Aspek bangunan
IV.3.1. Analisa Pola Sirkulasi Bangunan Sistem sirkulasi dalam bangunan dapat
dibedakan menjadi sirkulasi horizontal dan sirkulasi vertikal. Sirkulasi
horizontal berguna untuk menghubungkan ruangan yang masih berada dalam satu
level sedangkan horzontal untuk menghubungkan ruangan antar level. 83 •
Sirkulasi Horizontal Tabel IV.3.1.1. Sirkulasi horizontal Jenis Sirkulasi
Kelebihan Kekurangan Linier • Menerus • Bertekuk • Berpotongan • Bercabang •
Berbelok • Melingkar • Radial • sesuai dengan bangunan Wisma Atlet dalam hal
efisiensi ruang • cocok untuk bangunan yang mengutamakan perjalanan arsitektur
• cocok untuk bangunan dengan banyak klasifikasi ruang • sesuai dengan bangunan
Wisma Atlet dengan banyak unit hunian dan fasilitas • cocok untuk bangunan yang
mengutamakan perjalanan arsitektur • cocok untuk bangunan pameran atau museum •
memusatkan kegiatan/ orientasi • mudah untuk mencapai ke titik tertentu •
cenderung statis • tidak efisien pada koridor wisma atlet • tidak cocok dengan
bentuk Wisma Atlet yang memanjang • perlunya penunjuk arah yang jelas •
membentuk suasana yang patah/terhenti • Sulit memberi aksen pada jenis ruang •
Cocok diterapkan pada bangunan fungsi ruang seragam Sumber : Dokumentasi
pribadi dan web google Pola sirkulasi yang akan digunakan pada bangunan wisma
atlet ini adalah pola sirkulasi menerus dan pola linear berbelok. Hal ini 84
dimaksudkan untuk memberi kemudahan bagi pengunjung untuk mengakses ke
tempat-tempat hunian serta ke beberapa fasilitas penunjangnya. Sedangkan untuk
sistem koridor yang digunakan adalah double loaded. Hal ini dimaksudkan untuk
memudahkan pengaturan jumlah tempat hunian dan pengaturan view ke pemandangan luar
lebih maksimal. Dalam hal ini bangunan akan cenderung lebih memipih dan
memanjang ke samping. • Sirkulasi Vertikal Berikut tabel perbandingan beberapa
sistem sirkulasi vertikal : Tabel IV.3.1.2. Analisa sirkulasi vertikal Jenis
sirkulasi Kelebihan Kekurangan Tangga Eskalator Lift Ramp • tidak menggunakan
listrik • fleksibel dan murah, sesuai dengan bangunan wisma atlet • dapat
dipakai setiap saat • berguna di saat kebakaran • fleksibel diletakkan di mana
saja • perjalanan arsitektur lebih baik • efisien • daya angkut yang besar •
tidak
melelahkan • cocok untuk wisma
atlet saat mengangkut perabotan besar ke lantai atas • bernilai estetika •
efisien bagi trolley • melelahkan bagi pengguna • butuh listrik dan space
besar, tidak efisien bagi wisma atlet • butuh listrik dan waktu tunggu • butuh
space besar, tidak efisien bagi wisma atlet Sumber : Panduan sistem bangunan
tinggi Menginat bangunan ini berfungsi sebagai wisma atlet, maka sirkulasi
vertikal yang digunakan adalah tangga dan lift. Penggunaan tangga dianggap
lebih baik untuk menghemat penggunaan energi listrik. Sedangkan penggunaan lift
dikarenakan bangunan wisma atlet ini IV.3 tergolong berupa k bangunan seterusny
konsums pa tangga d gempa bu .2. Analisa B Variasi B g medium r ombinasi an n
wisma atle ya akan men i energi listr ada sirkulas arurat sebag umi, dll.
Bentuk Ban Bentuk Ban Su rise. Sirkula ntara penggu et akan meng nggunakan li
rik. i vertikal, b gai akses ev ngunan Tabel IV.3.2 ngunan - - - - - - - -
umber : F.C.K. si vertikal p unaan tangga ggunakan tan ift. Hal ini b bangunan
wi vakuasi peng 2.1. Analisa va Kelebiha Lebih fung Layout lebih mud baik Dapat
memaksim ruang Bentuk dinamis Layout lebih mud baik Bangunan secara konstruksi
gempa Bentuk bangunan kaku Relatif indah estetik . Ching. Bentu pada bangu a
dan lift. L ngga, sedang bertujuan unt isma atlet ju ghuni bila te ariasi
bentuk ba an gsional ruang dah & malkan - lebih ruang dah & - - n
stabil i/ tahan - - tidak lebih secara - - uk, ruang dan ta nan wisma Lantai 1
– 4 gkan lantai 4 tuk penghem uga menyedi erjadi kebak angunan Kekuranga Bentuk
cenderung statis Layout r cenderung s Sulit dipad dengan be lain Layout w atlet
ku efisien Sulit dipad dengan be lain Sulit d penataan la Sulit dipad dengan be
lain atanan 85 atlet pada 4 dan matan iakan karan, an ruang sulit dukan entuk
wisma urang dukan entuk dalam ayout dukan entuk 86 Dari keempat bentuk dasar
massa bangunan yang akan diterapkan dalam bangunan wisma atlet adalah bentuk
segiempat dan bentuk lengkung. Hal ini berdasarkan pertimbangan fungsi, efisien
dan estetika dalam pengolahan suatu bangunan agar dapat berfungsi secara
maksimal. Tabel IV.3.2.2. Analisa bentuk bangunan berdasarkan arah datang angin
Bentuk Massa keterangan Bentuk Massa Persegi Bangunan yang bermassa kotak atau persegi
cenderung terkena terpaan angin yang lebih kencang. Hal ini dikarenakan posisi
bangunan yang lebih lurus dan memanjang sehingga bidang permukaan yang terkena
terpaan angin lebih banyak. Bentuk Massa Lengkung Bentuk massa lengkung lebih
memiliki kemampuan dalam membelokan arah datang angin sehingga kondisi terpaan
angin ke massa bangunan relatif lebih baik dibandingkan dengan bentuk kotak.
Sumber : Dokumentasi pribadi Tabel IV.3.2.3. Analisa bentuk bangunan
berdasarkan Pembayangan Matahari Bulan Jam Januari 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00
WIB Massa kotak Massa lengkung Udara tidak dapat dibelokan karena pengaruh
massa bangunan. Arah datang angin Arah datang angin Proses pembelokan angin 87
Februari 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00 WIB Massa kotak Massa lengkung Maret 09.00
WIB 12.00 WIB 15.00 WIB Massa kotak Massa lengkung April 09.00 WIB 12.00 WIB
15.00 WIB Massa kotak Massa lengkung Mei 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00 WIB Massa
kotak 88 Massa lengkung Juni 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00 WIB Massa kotak Massa
lengkung Juli 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00 WIB Massa kotak Massa lengkung Agustus
09.00 WIB 12.00 WIB 15.00 WIB Massa kotak Massa lengkung September 09.00 WIB
12.00 WIB 15.00 WIB 89 Massa kotak Massa lengkung Oktober 09.00 WIB 12.00 WIB
15.00 WIB Massa kotak Massa
lengkung November 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00
WIB Massa kotak Massa lengkung Desember 09.00 WIB 12.00 WIB 15.00 WIB Massa
kotak 90 Massa lengkung Sumber : Dokumentasi pribadi Berdasarkan analisa
perbandingan antara bentuk persegi dengan bentuk lengkung, dilihat dari segi
arah datangnya angin menunjukkan bahwa bentuk lengkung lebih memiliki kemampuan
dalam membelokan arah datangnya angin sehingga terpaan angin yang terjadi pada
massa bangunan lengkung lebih baik dibandingkan dengan bentuk persegi.
Sedangkan analisa perbandingan antara bentuk massa persegi dan bentuk massa
lengkung dengan menggunakan software sketchup memberikan hasil bahwa bentuk
massa lengkung dapat menciptakan pembayangan yang lebih banyak pada area tapak
dibandingkan dengan bentuk massa persegi ( penelitian berdasarkan software
sketchup dari bulan Januari – Desember). Berdasarkan analisa bentuk bangunan
maka dipilihlah bentuk massa lengkung sebagai konsep dalam mendesain massa
bangunan wisma atlet fajar di Senayan. IV.3.3. Analisa Zoning Bangunan 1.
Zoning Vertikal Tabel IV.3.3.1. Alternatif zoning vertikal Variasi Zoning
Kelebihan Kekurangan Area servis mudah dijangkau dari setiap unit ruangan,
Susunan zoning lebih terarah. Terdapat sebagian area publik yang dekat dengan
area servis Area publik yang cukup banyak Setiap area publik dan privat
berdekatan dengan area servis Privat Publik Servis Sumber : Dokumentasi pribadi
Berdasarkan penentuan zoning vertikal yang dikaitakan dengan fungsi, kegiatan
yang ada didalamnya maka dipilihlah alternatif 1. Hal 91 ini juga ditentukan
dari orientasi massa bangunan yang menghadap ke Utara dan Selatan sehingga sisi
Timur dan Barat baik untuk area servis. 2. Zoning Horizontal a. Analisa zoning
lantai 1 – 4 Gambar IV.3.3.1. Analisa zoning horizontal Lt 1 - 4 Sumber : Dokumentasi
pribadi b. Analisa zoning lantai 5 – 20 Gambar IV.3.3.2. Analisa zoning
horizontal Lt 5 - 20 Sumber : Dokumentasi pribadi IV.3.4. Analisa Sistem
Struktur Bangunan Sistem struktur dapat mempengaruhi ketahanan dan lamanya
massa bangunan dan ketahanannya terhadap elemen-elemen perusak bangunan seperti
gempa bumi, bencana angin topan, faktor biologis (hewan perusak), dan
sebagainya. Sistem struktur bangunan dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu : •
Sub Structure (Struktur bawah) Merupakan bagian struktur bawah yang menahan
beban yang bekerja dari atas kebawah. Berikut tabel perbandingan beberapa jenis
pondasi : Tabel IV.3.4.1. Analisa sub structure Jenis Pondasi Kelebihan
Kekurangan Tiang Pancang • waktu pelaksanaan cepat • Relatif murah • cocok untuk
menahan beban vertikal • memerlukan banyak sambungan dan ketelitian yang
tinggi, kurang ekonomis bagi Publik Publik Unit Hunian servis R.ber sama Unit
Hunian servis R.ber sama Area penunj ang Area penunj ang Servis Servis 92 wisma
atlet tapi bagi hotel ekonomis • menimbulkan bising dan getaran Bored Pile •
pemasangan tidak berdampak buruk bagi lingkungan, cocok dengan konsep wisma
atlet • memiliki kekuatan yang cukup untuk bangunan bertingkat tinggi • cocok
untuk segala jenis tanah • waktu pelaksanaan lebih lama • jika kadar air tinggi
pengecoran akan beresiko Pondasi Rakit
(basement) • tahan gempa • ruang pada pondasi
dapat difungsikan sebagai basement/efisiensi lahan • kedalaman sebesar volume
yang dipindahkan • boros dalam pemakaian bahan, kurang efisien bagi Wisma Atlet
• pelaksanaan sulit Sumber : Panduan sistem bangunan tinggi Berdasarkan analisa
sub structure pada tabel diatas, maka Wisma Atlet ini menggunakan kombinasi
pondasi tiang pancang dan bored pile. Pondasi tiang pancang dan bored pile dipilih
karena relatif murah, pengerjaan cepat, dan bersih, juga karena kemampuannya
untuk menahan beban yang cukup besar dan juga dalam tahap pengerjaannya tidak
mengganggu keadaan sekitar atau gangguan relatif kecil. • Upper Structure
(Struktur atas) Upper-structure merupakan struktur utama yang bertugas untuk
menerima seluruh beban hidup atau beban lateral yang diterimanya untuk
diterukan pada pondasi. Berikut tabel perbandingan beberapa jenis sistem upper
structure : 93 Tabel IV.3.4.2. Analisa upper structure Jenis Struktur Kelebihan
Kekurangan Portal (kolom dan balok) • kekakuan cukup • fleksibel dalam penataan
interior unit wisma atlet • struktur sederhana dan ringan • dimensi relatif
besar untuk bentang lebar • trafe kolom relatif kecil Dinding pemikul • kekakuan
tinggi • material beton pada bidang datar dapat mereduksi suara • Memipih
sesuai ruang (efisiensi) • Waktu pemasangan cepat • Biaya yang cukup besar •
Harus terjadi banyak penyesuaian dengan barang dari pabrik Struktur baja
(balok, rangka, grid, dan slab) • pemakaian bahan sedikit dan berupa prefab •
waktu pengerjaan cepat • dapat digunakan untuk bentang lebar • bahan baja kuat
tarik relatif kurang ekonomis bagi wisma atlet • korosi Sumber : Panduan sistem
bangunan tinggi Untuk struktur atas, penggunaan sistem struktur portal dan baja
(truss). Struktur portal dipilih karena bentangan pada wisma atlet relatif
pendek, mengingat fungsi dari bangunan ini adalah hunian. Struktur portal juga
tergolong sederhana dan mudah pengerjaannya. Sedangkan baja dipilih karena
kemampuan bentangannya yang dapat mencapai 18 – 24m. terdapat beberapa bagian
yang membutuhkan sistem struktur baja untuk memperoleh bentangan yang lebar
tanpa terhalang kolom, seperti hall/ruang serba guna. 94 IV.3.5. Analisa
Material Bangunan Tabel IV.3.5.1. Analisa material bangunan Lantai Kelebihan
Kekurangan Keramik - harga ekonomis - Mudah didapat - Pilihan banyak - Mudah
pecah Marmer - Kuat/keras - Elegant - Harga relatif mahal - Pemasangan
cenderung sulit Granit - Kuat/keras - Elegant - Pilihan banyak - Harga relatif
mahal - Pemasangan cenderung sulit Dinding Kelebihan Kekurangan Batu bata -
Tahan panas - Kuat - Harga ekonomis - Pemasangan lama - Boros bahan baku
seperti semen Batako - harga ekonomis - Mudah didapat - Ringan - Kurang kuat -
Mudah rusak Bata ringan - Mudah didapat - Hemat bahan baku - Pemasangan cepat -
Harga relatif mahal Pelapis Dinding Kelebihan Kekurangan Cat - harga ekonomis -
Mudah didapat - Banyak pilihan warna - Mudah pudar/rontok - Tidak tahan lama
Wallpaper - Banyak corak - Sulit diperbaiki jika 95 - Pemasangan cepat rusak -
Harga relatif mahal Softboard - harga ekonomis - Pemasangan cepat & mudah -
Perawatan sulit - Tidak tahan cuaca Plafond Kelebihan Kekurangan Triplek -
Pemasangan cepat - Ringan - Mudah didapat - Tidak tahan cuaca - Bahaya rayap -
Kurang menarik Gypsum - Kedap suara - Lebih hemat bahan - Elegant - Harga mahal
- Pemasangan lama GRC Board - harga ekonomis - Kedap suara - Tahan cuaca -
Berat - Kurang menarik Sumber : Dokumentasi pribadi dan web google Kesimpulan
dari analisa material yang ada maka material yang dipakai pada perancangan
wisma atlet adalah : Tabel IV.3.5.2. Penggunaan material bangunan Lantai
Dinding Pelapis Dinding Plafond Granit Hebel Cat Gypsum Sumber : Dokumentasi
pribadi IV.3.6. Analisa Sistem Utilitas Sistem utilitas merupakan sistem
penunjang suatu bangunan dalam beroperasional. Sistem utilitas pada bangunan
terdiri dari : 1. Analisa Penghawaan Konsumsi energi terbesar pada bangunan
atau gedung-gedung di Indonesia adalah penggunaan AC untuk mencapai
kenyamanan thermal pada manusia 24.50 C – 270
C. Penggunaan energi listrik tersebut dapat mencapai 60% - 70% dari seluruh
konsumsi energi listrik pada bangunan. Penghawaan terbagi menjadi 2 macam yaitu
penghawaan alami dan penghawaan buatan. 96 a. Penghawaan Alami Penghawaan
dengan mengandalkan sirkulasi udara pada ruangan dalam bangunan. Sirkulasi
udara itu dapat terjadi jika terdapat bukaan-bukaan yang mendukung terciptanya
ventilasi silang dalam ruangan, seperti jendela, pintu, jalusi. Gambar
IV.3.6.1. Variasi inlet – outlet Sumber : Climate Responsive Architecture,
Arvand Krishan Tabel IV.3.6.1. Variasi inlet - outlet Variasi Kelebihan
Kekurangan 1 aliran udara lebih bebas didalam ruangan. Aliran udara sulit
mencapai area sudut ruangan 2 Penempatan furniture dapat dimaksimalkan dengan
baik Terdapat sisi bidang yang menghalangi aliran udara ke sebagian ruangan 3
Sirkulasi udara dapat mengalir dengan bebas Posisi inlet – outlet harus berada
pada posisi silang tidak boleh sejajar dengan inlet udara 4 Sirkulasi udara
dapat terjadi dengan baik karena terdapat ventilasi yang cukup banyak Sulit
dalam penempatan furniture ruangan Sumber : Dokumentasi pribadi Aliran udara
dipengaruhi selain dari bukaan-bukaan juga dipengaruhi oleh penempatan tanaman-tanaman
di sekitarnya. 1 2 3 4 97 Udara akan berbelok jika mengenai tanaman-tanaman
yang menghalangi sirkulasi udara. Gambar IV.3.6.2. Pembelokan aliran udara
Sumber : Bangunan tropis Kenyamanan thermal pada ruangan dipengaruhi oleh
peningkatan suhu ruangan yang diakibatkan oleh radiasi matahari yang mengenai
dinding bangunan. Oleh sebab itulah pemilihan bahan material dan orientasi
massa bangunan perlu untuk dipertimbangkan dengan baik. Tabel IV.3.6.2. Data
karakteristik bahan bangunan terhadap panas Sumber : Ilmu fisika bangunan
Terdapat beberapa cara dalam mengatasi permasalahan radiasi matahari pada
bangunan, yaitu : a. Sun shading Gambar IV.3.6.3. Variasi sun shading 98 Sumber
: Norbert Lechner – Heating, Cooling, Lighting b. Vertikal Garden atau
Pepohonan Untuk menghalangi radiasi matahari langsung dapat menggunakan tanaman
pohon atau tanaman rambat untuk bangunan tinggi. Gambar . Variasi tanaman
sebagai penahan radiasi matahari Sumber : Norbert Lechner – Heating, Cooling,
Lighting c. Teknologi Menggunakan bahan-bahan seperti Styrofoam dalam lapisan
dinding. Prosesnya adalah setelah pemasangan dinding maka dinding dilapisi
dengan bahan-bahan Styrofoam atau lapisan polystyrene. Penggunaan lapisan
polystyrene atau bahan Styrofoam dapat menahan radiasi matahari sehingga suhu
didalam ruangan dapat terjaga dengan baik. Gambar IV.3.6.5. Material dinding
yang dapat menahan radiasi matahari 99 Sumber : Web google Pada bangunan
tinggi, ruangan-ruangan pada bagian atas puncak bangunan sering kali terasa
panas dikarenakan cahaya matahari mengenai langsung bagian atas bangunan. Untuk
permasalahan tersebut dapat diatasi dengan roof garden atau green roof dan
kolam air. Gambar IV.3.6.6. Variasi atap sebagai penahan radiasi matahari
Sumber : Dasar-dasar arsitektur ekologis Penggunaan kolam air pada atap
bangunan memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah dapat menahan
radiasi matahari untuk masuk ke dalam ruangan. Kerugiaannya adalah berat air yang
mempengaruhi konstruksi bangunannya. b. Penghawaan Buatan Penghawaan buatan
adalah penggunaan Air Conditioner (AC). Penggunaan AC ini hanya digunakan pada
ruanganruangan pada wisma atlet. Penghawaan buatan pada wisma atlet hanya akan
digunakan 2 jenis AC yaitu AC split dan AC central. Penggunaan AC split pada
wisma atlet dimaksudkan untuk jangka panjang, seperti pada unit huniannya atau
kamar-kamar. Untuk penggunaan AC central relatif untuk waktu yang singkat.
Penggunaan AC split pada massa bangunan hunian dalam jangka waktu panjang
menghemat
ruang AHU, chiller dan 100 cooling tower. Sehingga bisa dioperasionalkan sesuai
dengan penghuni yang ada. AC split hanya digunakan pada ruang kamar tidur saja,
tidak untuk digunakan pada ruangan lain. Gambar IV.3.6.7. AC split Sumber :
Panduan sistem bangunan tinggi Penggunaan AC spilt harus memperhatikan
peletakan outdoor unit agar tidak merusak estetika fasad bangunan. Gambar
IV.3.6.8. Solusi penempatan outdoor unit AC Sumber : Panduan sistem bangunan
tinggi Penggunaan AC central digunakan pada ruang-ruang bersama yang
penggunaannya bersifat sementara atau dalam waktu singkat seperti ruang serba
guna. Hal ini dimaksudkan untuk penghematan penggunaan energi listrik yang
dikonsumsi oleh AC. Gambar IV.3.6.9. Pengoperasian AC central Sumber : Web
google 101 Pengukuran Suhu Pada Lokasi Tapak - Senayan. Berdasarkan hasil
pengukuran suhu dengan menggunakan thermometer digital pada ruangan wisma atlet
fajar (yang merupakan lokasi tapak), diperoleh suhu rata-rata pada ruangan
30.50 C dan 34.50 C pada luar bangunan. Posisi bangunan menghadap Utara dan
Selatan Dalam pengukuran suhu ruangan, penulis mengambil contoh satu ruangan
kamar pada wisma atlet untuk dilakukan pengukuran suhu ruangan dan suhu di luar
ruangan. Gambar IV.3.6.10. Suhu kamar wisma atlet di Senayan Sumber :
Dokumentasi pribadi Dalam penerapan rancangan wisma atlet harus dapat
menurunkan suhu yang ada pada ruangan sampai pada suhu ratarata inlet 28.50 C -
29.50 C dan outlet 300 C - 330 C. Untuk mencapai kenyamanan thermal penghuni
wisma atlet yaitu atlet. Hal ini dapat dicapai dengan menciptakan ventilasi
silang dalam ruangan, penggunaan sun shading, vertikal garden, material yang
tidak atau dapat meminimalkan radiasi matahari pada bangunan. In 30.60 C In
30.90 C Out 34.50 C In 30.90 C In 30.90 C In 30.90 C 102 Gambar IV.3.6.11.
Analisa suhu ruangan Sumber : Ilmu Fisika Bangunan 2. Analisa Pencahayaan Pada
iklim tropis, radiasi matahari cukup tinggi. Pemanfaatan cahaya matahari alami
harus dioptimalkan pada siang hari untuk menghemat penggunaan lampu yang dapat
memboroskan energi listrik. Pemanfaatan itu dapat berupa bukaan-bukaan jendela,
skylight. Pemanfaatan overstek dapat menghindari radiasi matahari langsung,
yang dapat meningkatan suhu dalam ruangan. Gambar IV.3.6.12. Cahaya matahari
yang masuk kedalam ruangan Sumber : Norbert Lechner – Heating, Cooling,
Lighting Jarak antar bangunan juga harus dipertimbangkan dengan baik agar
cahaya matahari yang masuk ke dalam bangunan tidak terhalang oleh bangunan yang
lain di sekitarnya. 3. Analisa Sistem Proteksi Kebakaran Bangunan dapat
menggunakan konstruksi yang tahan api untuk melindungi penghuninya jika terjadi
kebakaran minimal dalam waktu 2 jam. Setiap bagian bangunan dapat menggunakan
sistem ini dan biasanya sistem ini digunakan pada tangga dan lift. 103
Berdasarkan peraturan bangunan tinggi jarak jangkauan tangga tidak boleh lebih
dari 30 meter. Pada jalan buntu tangga harus di tempatkan pada jarak 12 meter
dari pintu paling ujung. Gambar IV.3.6.13. Tangga
darurat Sumber : Panduan sistem bangunan
tinggi Selain itu sistem deteksi asap seperti smoke detector dan sprinkler di
tempatkan pada setiap unit kamar dan koridor gedung untuk mengantisipasi
apabila terjadi kebakaran. Foto IV.3.6.1. Smoke detector dan sprinkler Sumber :
Dokumentasi pribadi hidran juga perlu disediakan pada setiap bangunan. Hidran
dalam biasanya ditempatkan di dekat atau di dalam tangga darurat, dan biasanya
dilengkapi dengan selang, katup, tabung pemadam, serta alarm atau tombol
panggil. Air yang digunakan diambil dari menara air, yang memang sebagian
isinya dicadangkan untuk keperluan darurat. Hidran luar berupa kepala hidran
dan selang. Sumber airnya dari sistem hidran kota. Foto IV.3.6.2. Hidran air di
sekitar bangunan Sumber : Dokumentasi pribadi 104 4. Analisa Instalasi Listrik
Instalasi listrik di salurkan dari PLN ke gardu dan dari gardu di salurkan lagi
ke panel-panel pada bangunan. Selain listrik dari PLN, pada bangunan juga
disiapkan generator yang berfungsi sebagai listrik cadangan apabila terjadi
pemadaman lampu dari PLN. Biasanya peletakan ruang panel dan generator atau
genset diletakan pada ruangan tertentu baik di basement maupun di ruangruang
yang jauh dari aktivitas manusia. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari
kebisingan yang terjadi akibat suara mesin genset. Gambar IV.3.6.14. Ruang
panel dan genset Sumber : Panduan sistem bangunan tinggi Jaringan listrik masuk
ke lokasi tapak melalui tiang listrik yang ada di sekeliling tapak. Foto
IV.3.6.3. Lokasi tiang listrik Sumber : Dokumentasi pribadi Pada perancangan
bangunan wisma atlet, genset akan diletakan di semi basement agar tidak
menggangu kegiatan manusia di sekitar bangunan wisma atlet di Senayan. 5.
Analisa Pengolahan air bersih dan Pembuangan Limbah Pipa pada bangunan atau gedung
terdiri dari 2 pipa yaitu air bersih dan air kotor. Sistem air bersih dapat
berasal dari PAM dan air Tiang listrik 105 tanah. Air yang dialiri dari PAM
akan di tampun di reservoir bawah yang kemudian akan di tarik/sedot ke
reservoir atas atau di tangki penampungan yang berada pada dak atas bangunan.
Setelah di tamping di reservoir atas air kemudian dialirkan ke setiap kamar
mandi, dapur/pantry. Pipa buangan limbah kamar mandi harus di letakan pada
tempat yang mudah di akses. Biasanya pipa tersebut di letakkan dekat dinding
koridor yang telah dipersiapkan shaft-shaftnya agar mudah untuk memperbaiki
apabila terjadi kerusakan. Gambar
IV.3.6.15. Alternatif perletakan
shaft kamar mandi Sumber : Panduan sistem bangunan tinggi Limbah padat pada
kamar mandi dapat di salurkan dari pipa kamar mandi menuju SPT sehingga dapat
diolah dengan baik tanpa mencemari lingkungan. Limbah cair dapat di salurkan ke
sumur resapan, kemudian diolah kembali dan di tampung di bak penampungan bawah
yang kemudian dapat digunakan kembali untuk menyirami tanaman. Gambar
IV.3.6.16. Skematik sumur resapan dan biopori aliran air Sumber : Panduan
sistem bangunan tinggi dan web google 106 Air hujan sebaiknya di tampung ke
dalam tangki-tangki atau bak yang dibuat untuk menampung air hujan rainwater
harvesting. Hasil tampungan dapat dimanfaatkan untuk menyiram tanaman, dan
kebutuhan air kamar mandi. Gambar IV.3.6.17. Tangki penampungan air hujan
Sumber : Web google 6. Analisa Pengolahan dan Pembuangan Sampah Sistem
pengolahan sampah pada bangunan tinggi dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu cara
door to door, Petugas kebersihan mangambil sampah pada setiap unit-unit ruangan
yang kemudian akan di tampung di TPS. Cara yang ke dua yaitu dapat dilakukan
dengan shaft pembuangan sampah yang di sediakan pada setiap unit kamar. Tabel
IV.3.6.3. Sistem pembuangan sampah Sistem Pembuangan Sampah Kelebihan
Kekurangan Door to door Tidak perlu menciptakan shaft khusus sampah,
Pemeriksaan sampah lebih teliti pada setiap unit kamar Tidak praktis,
Membutuhkan petugas kebersihan yang banyak Shaft pembuangan Praktis, Petugas
kebersihan tidak perlu terlalu banyak Perlu menciptakan shaft khusus, Tidak
bersih Sumber : Dokumentasi pribadi 107 Gambar IV.3.6.18. Sistem pembuangan
sampah Sumber : Panduan sistem bangunan tinggi 7. Analisa Penangkal Petir
Bangunan yang memiliki fungsi publik, harus memiliki sistem keamanan gedung.
Tidak hanya di dalam gedung saja, bagian luar gedung juga harus memiliki sistem
keamanan bagi orang-orang yang berada di luar gedung. Salah satu sistem
keamanan luar gedung adalah penangkal petir. Sistem penangkal petir yang
digunakan adalah sistem Thomas. Sistem ini mempunyai jangkauan perlindungan
yang luas, daerah bangunan yang terlindungi dalam radius 60 m dan luas lahan
yang terlindungi dalam kerucut perlindungannya dalam radius 125 m. sistem ini
sangat cocok untuk digunakan pada bangunan tinggi karena dapat melindungi area
publik pada bangunan itu sendiri, bangunan-bangunan di sekitarnya dan pepohonan
pada area sekitar gedung. Gambar IV.3.6.19. Sistem penangkal petir Sumber :
Panduan sistem bangunan tinggi Sampah Shaft Sampah TPS TPA 108 IV.4. Analisa
Sustainable – Green Design IV.4.1. Analisa Green Design Green design adalah
topik yang saya ambil untuk perancangan Wisma Atlet ini. Prinsip-prinsip green
design yang diambil adalah hemat energi listrik. Beberapa analisa sebelumnya,
diketahui bahwa penggunaan energi listrik yang paling besar adalah penggunaan
AC untuk penghawaan. Oleh karena itulah diperlukan beberapa solusi yang dapat
digunakan untuk menghemat penggunaan energi listrik untuk penghawaan yaitu : •
Dengan mengoptimalkan penghawaan alami misalnya pada koridor, tangga darurat,
ruang bersama, dan kamar mandi bila asumsi koridor dari sebuah lantai adalah
30% maka berarti sudah bisa menghemat di atas 30% dari penggunaan penghawaan
buatan. • Pencahayaan alami pada unit-unit
yang
menggunakan single loaded. Selain itu penggunaan cahaya alami pada double
louded juga dapat diterapkan dengan memberikan bukaan-bukaan berupa jendela dan
objek transparan agar cahaya dapat masuk ke dalam gedung. • Pemanfaatan
vertikal garden dapat mereduksi radiasi matahari pada bangunan. Penggunaan
tanaman pada fasad bangunan dapat menciptakan oksigen pada ruangan dan
lingkungan sekitar bangunan wisma atlet. Menurut penelitian Aep Syaepul Rohman
menyatakan bahwa dalam sejam satu lembar daun memproduksi oksigen sebanyak 5
ml. Bila rata-rata jumlah daun per pohon 200 lembar dan terdapat 10 pohon, maka
pohon-pohon yang ada di wisma atlet dan sekitarnya akan menyumbang oksigen
sebanyak 10 x 100 x 200 x 5 ml = 1.000 liter per jam. Angka ini setara dengan
jumlah kebutuhan oksigen untuk pernapasan sebanyak 18 orang (kebutuhan oksigen
untuk satu orang bernapas adalah 53 liter per jam). • Penggunaan Overhang, sun
shading pada bangunan terutama pada bagian jendela memiliki fungsi sebagai
penghalang atau lebih 109 tepatnya untuk mengurangi jumlah sinar/radiasi
matahari yang masuk melalui jendela. Overhang dan sun shading ini juga
berfungsi untuk menghalangi percikan air masuk pada saat hujan Gambar IV.4.1.1.
Overhang untuk menahan radiasi dan air hujan Sumber : Web google • Penggunaan
skylight merupakan salah satu cara untuk memasukan cahaya matahari ke dalam
bangunan. Penggunaan skylight biasanya diletakan pada bagian paling atas bangunan,
agar cahaya matahari dapat masuk ke dalam bangunan. Penggunaan skylight harus
mempertimbangkan berapa intensitas cahaya matahari yang masuk ke dalam bangunan
karena apabila intensitas yang masuk terlalu banyak maka dapat menyebabkan
naiknya suhu dalam bangunan. Gambar IV.4.1.2. Alternatif skylight Sumber : Web
google • Bukaan Pada Bangunan Bukaan pada bangunan dapat diartikan sebagai
bagian bangunan yang dapat memasukan aliran udara ke dalam bangunan, seperti
jendela, jalusi, selain itu jarak antar bangunan juga dapat 110 menciptakan
aliran udara di antara jarak bangunan. Memasukan aliran udara ke dalam bangunan
bertujuan untuk memenuhi kenyamanan thermal penghuni sehingga kerja AC dapat
diminimalkan dan dapat menghemat konsumsi energi listrik. Gambar IV.4.1.3.
Aliran udara yang masuk melalui bukaan pada bangunan Sumber : Dasar-dasar
arsitektur ekologis Penerapan green design pada perancangan bangunan wisma
atlet diharapkan dapat mengatasi konsumsi energi listrik yang besar untuk
penggunaan AC sebagai salah satu penunjang kenyamanan thermal bagi penghuni
wisma atlet. Meskipun pada dasarnya penggunaan AC tetap diterapkan dalam
bangunan wisma atlet. Dengan menerapkan kenyamanan thermal dengan ventilasi
alami diharapkan dapat meringankan kerja AC sehingga konsumsi energi listrik
tidak terlalu besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar