
TUGAS KONSERVASI ARSITEKTUR
Irham Saleh Daulay 23315441
| 4TB03
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang
![]() |
Kota Tua Jakarta, juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia), adalah sebuah wilayah kecil diJakarta, Indonesia. Wilayah khusus ini memiliki luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat(Pinangsia, Taman Sari dan Roa Malaka). Dijuluki "Permata Asia" dan "Ratu dari Timur" pada abad ke-16 oleh pelayar Eropa, Jakarta Lama dianggap sebagai pusat perdagangan untuk benua Asia karena lokasinya yang strategis dan sumber daya melimpah.
Gambar 1.1 Kota Tua Jakarta (Sumber : http://anekatempatwisata.com)
Kota Tua memiliki beberapa zona,
salah satunya yaitu zona Kali Besar Barat dan Kali Besar Barat. Kedua zona ini
dipisahkan oleh sungai besar yang bernama Kali Besar, Oleh karena itu kawasan
tersebut dinamai Kali Besar. Pada zaman dulu Kali Besar sekitar tahun 1630-an
Kali Besar merupakan urat nadi lalu lintas kapal bongkar muat barang yang
dibawa dari pelabuhan Sunda Kelapa.
![]() |
Karenanya keramaian pasar tak luput menjadi pemandangan di sekitar kiri kanan Kali Besar.
Gambar 1.2 Kali
Besar Zaman Dulu (Sumber : http://luk.staff.ugm.ac.id)
Kali Besar kini pada tahun 2016
memiliki kondisi yang sangat mengkhawatirkan, bila dilihat Kali Besar kini
memiliki volume air yang sangat rendah dan banyak terdapatnya sampah pada kali
tersebut. Bila ditinjau dari kawasannya yaitu Kali Besar Barat dan Timur pada
saat ini seperti dua kawasan yang terpisah dan mati. Kondisi tersebut
memberikan efek pemandangan dan bau yang tidak baik terhadap lingkungan
disekitarnya. Kondisi air Kali Besar pada saat ini memiliki warna hitam dan
sangat dangkal seperti tidak ada gerakan air yang mengalir. Tidak adanya
penghubungpun mengakibatkan Kawasan Kali Besar Barat seperti terpisah dengan
kawasan Kota Tua Jakarta.
Perencanaan penghidupan kembali
kawasan bersejarah dirasa sangat perlu dilakukan, khususnya pada daerah Kali
Besar Kota Tua agar Kawasan tersebut memiliki “nilai”nya kembali.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1. Tindakan Pelestarian
Berdasarkan hasil penelusuran dan
pengamatan kawasan Jakarta utara memiliki banyak nilai sejarah historial hingga
arsitektural. Hai ini bisa dijadikan suatu nilai tambah khususnya dibidang
pariwisata. Maka dari itu pemerintah kota administrasi Jakarta utara bekerja
sama dengan dinas pariwisata bekerjasama membuat kawasan pelestarian cagar budaya,
yaitu kawasan sejarah kota tua. Untuk itu kawasan dan tempat tempat tersebut
mendapat perhatian lebih dari pemerintah.
2.2. Konservasi
Konservasi adalah upaya pelestarian
lingkungan, tetapi tetap memperhatikan, manfaat yang dapat di peroleh pada saat
itu dengan tetap mempertahankan keberadaan setiap komponen lingkungan untuk
pemanfaatan masa depan.
Namun menurut Adishakti (2007)
istilah konservasi yang biasa digunakan para arsitek mengacu pada Piagam dari
International Council of Monuments and Site (ICOMOS) tahun 1981, yaitu Charter
for the Conservation of Places of Cultural Significance, Burra, Australia, yang
lebih dikenal dengan Burra Charter.
Disini dinyatakan bahwa konsep
konservasi adalah semua kegiatan pelestarian sesuai dengan kesepakatan yang
telah dirumuskan dalam piagam tersebut. Konservasi adalah konsep proses
pengelolaan suatu tempat atau ruang atau obyek agar makna kultural yang
terkandung di dalamnya terpelihara dengan baik. Kegiatan konservasi meliputi
seluruh kegiatan pemeliharaan sesuai dengan kondisi dan situasi lokal maupun
upaya pengembangan untuk pemanfaatan lebih lanjut. Suatu program konservasi
sedapat mungkin tidak hanya dipertahankan keasliannya dan perawatannya namun
tidak mendatangkan nilai ekonomi atau manfaat lain bagi pemilik atau masyarakat
luas. Dalam hal ini peran arsitek
sangat penting dalam menentukan fungsi yang sesuai
karena tidak semua fungsi dapat dimasukkan. Kegiatan yang dilakukan ini
membutuhkan upaya lintas sektoral, multi dimensi dan disiplin, serta
berkelanjutan.
Tujuan dari
kegiatan konservasi, antara lain :
a.
Memelihara dan melindungi
tempat-tempat yang indah dan berharga, agar tidak hancur atau berubah sampai
batas-batas yang wajar.
b.
Menekankan pada penggunaan
kembali bangunan lama, agar tidak terlantar. Apakah dengan menghidupkan kembali
fungsi lama, ataukah dengan mengubah fungsi bangunan lama dengan fungsi baru
yang dibutuhkan.
c.
Melindungi benda-benda cagar
budaya yang dilakukan secara langsung dengan cara membersihkan, memelihara,
memperbaiki, baik secara fisik maupun khemis secara langsung dari pengaruh
berbagai faktor lingkungan yang merusak.
d.
Melindungi benda-benda (dalam
hal ini benda-benda peninggalan sejarah dan purbakala) dari kerusakan yang
diakibatkan oleh alam, kimiawi dan mikro organisme.
2.3. Kota Tua Jakarta
Kota Tua Jakarta, juga dikenal dengan
sebutan Batavia Lama (Oud Batavia),
adalah sebuah wilayah kecil diJakarta,
Indonesia. Wilayah khusus
ini memiliki luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat(Pinangsia,
Taman Sari dan
Roa Malaka).
Dijuluki "Permata Asia" dan "Ratu dari Timur" pada abad
ke-16 oleh pelayar Eropa, Jakarta Lama dianggap sebagai pusat perdagangan untuk
benua Asia karena lokasinya yang strategis dan sumber daya melimpah.
Tahun 1526, Fatahillah, dikirim oleh Kesultanan Demak, menyerang
pelabuhan Sunda Kelapa di
kerajaan Hindu Pajajaran,
kemudian dinamai Jayakarta.
Kota ini hanya seluas 15 hektare dan memiliki tata kota pelabuhan tradisional
Jawa. Tahun 1619,VOC menghancurkan
Jayakarta di bawah komando Jan Pieterszoon Coen. Satu tahun kemudian, VOC
membangun kota baru bernama Batavia untuk menghormati Batavieren, leluhur bangsa Belanda.
Kota ini terpusat di sekitar tepi timur Sungai Ciliwung,
saat ini Lapangan Fatahillah. Penduduk Batavia disebut "Batavianen",
kemudian dikenal sebagai suku "Betawi",
terdiri dari etnis kreol yang
merupakan keturunan dari berbagai etnis yang menghuni Batavia.
Tahun 1635, kota ini meluas hingga
tepi barat Sungai Ciliwung, di reruntuhan bekas Jayakarta. Kota ini dirancang
dengan gaya Belanda Eropa lengkap dengan benteng (Kasteel Batavia), dinding
kota, dan kanal. Kota ini diatur dalam beberapa blok yang dipisahkan oleh kanal
[1].
Kota Batavia selesai dibangun tahun 1650. Batavia kemudian menjadi kantor pusat
VOC di Hindia
Timur. Kanal-kanal diisi
karena munculnya wabah tropis di dalam dinding kota karena sanitasi buruk. Kota
ini mulai meluas ke selatan setelah epidemi tahun 1835 dan 1870 mendorong
banyak orang keluar dari kota sempit itu menuju wilayah Weltevreden (sekarang
daerah di sekitar Lapangan Merdeka). Batavia kemudian menjadi pusat
administratif Hindia Timur
Belanda. Tahun 1942, selama pendudukan Jepang, Batavia berganti nama
menjadi Jakarta dan
masih berperan sebagai ibu kota Indonesiasampai sekarang.
Tahun 1972, Gubernur Jakarta,
Ali Sadikin, mengeluarkan
dekrit yang resmi menjadikan Kota Tua sebagai situs warisan. Keputusan gubernur
ini ditujukan untuk melindungi sejarah arsitektur kota — atau setidaknya
bangunan yang masih tersisa di sana.
Meski dekrit Gubernur dikeluarkan, Kota Tua tetap
terabaikan. Banyak warga yang menyambut hangat dekrit ini, tetapi tidak banyak
yang dilakukan untuk melindungi warisan era kolonial Belanda.
BAB
III GAMBARAN KAWASAN

Gambar 3.1 Kali
Besar pada tahun 1900 (Sumber : alwishahab.wordpress.com)
Kali Besar di tepian
muara Ciliwung oleh Belanda disebut de Groote Rivier. Terlihat jembatan yang
dilewati oleh perahu-perahu yang menjadi salah satu transportasi utama saat
itu. Kali Besar yang terletak di dekat muara Ciliwung, hampir satu abad lalu
masih rimbun terlihat dari tanaman-tanaman yang mengelilinginya.
Gambar 3.2 Kali
Besar pada tahun 2016 (Sumber : Data Pribadi)

Gambar 3.3 Kali
Besar pada tahun 2016 (Sumber : Data Pribadi)
![]() |
Gambar 3.4 Kali
Besar pada tahun 2016 (Sumber : Data Pribadi)
Berdasarkan gambar-gambar diatas
gambaran kawasan Kali Besar pada saat ini tahun 2016, Pada zona Kali Besar
Timur sangat sepi dari pengunjung pada siang hari. Kawasan ini terdapat
bangunan bangunan yang masih sangat baik yang digunakan sebagai perkantoran,
bank, bangunan yang sedang dalam peremajaan hingga bangunan yang telah
dirobohkan yang berada pada Kali Besar Timur zona Utara.
![]() |
Gambar 3.4 Pagar
bangunan yang telah dirobohkan (Sumber : Data Pribadi)
Keadaan Sungai yang bernama Kali
Besar pada saat ini sangat mengkhawatirkan dan berbau tidak sedap. Dikarenakan
banyaknya sampah yang menepi dan mengambang disepanjang sungai. Volume air
sungai yang sangat rendah mengakibatkan aliran air sungai mengalir sangat
lambat dan air sungai pada saat ini memiliki warna gelap tidak jernih.
Pada Kawasan Kali Besar Barat, Kali
Besar barat bila diamati Kawasan ini seperti terpisah atau seperti bukan bagian
dari kawasan fatahillah bagi orang awam yang pertama kali mengetahuinya.
Dipisahkan oleh Kali Besar tanpa adanya penghubung atau Connection yang jelas antara Kali Besar Barat dengan Kali Besar
Timur yang terhubung langsung dengan Museum Fatahillah.

Gambar 3.5 Gambaran
Posisi Kawasan (Sumber : Data Pribadi)
![]() |
Gambar 3.6 Gambaran
Aksesbilitas Kawasan (Sumber : Data Pribadi)
BAB IV
USULAN
DAN PELESTARIAN KAWASAN
4.1. Usulan Pelestarian
Menurut saya, berdasarkan tinjauan
langsung terhadap kawasan pengamatan dan berdasarkan analisis masalah dan
potensi yang ada pada Kawasan Kali Besar Kota Tua Jakarta, yaitu :
1.
Perlu dilakukannya peremajaan
kawasan, mengembalikan suasana asri seperti tahun dimana Kali Besar menjadi
pusat kehidupan pada jaman dahulu sebelum menjadi hutan beton.
2.
Penghijauan kawasan dirasa
sangat perlu dilakukan mengingat kawasan Kali Besar memiliki suhu yang sangat
panas dan perlu diredam dengan melakukan penghijauan kawasan tersebut.
3.
Perlu dilakukannya upaya
revitalisasi bangunan bersejarah yang hampir rusak hingga yang telah rusak.
4.
Penambahan fungsi baru pada
kawasan Kali Besar yang nantinya akan menjadi daya tarik bagi para pengunjung
dan sebagai pemecah keramaian agar keramaian tidak terjadi pada kawasan
Fatahillah saja.
5.
Perlu dilakukannya penataan
ulang area parkir agar lebih tertib dan ter-zona dengan baik.
6.
Perlu dilakukannya peremajaan
Kali Besar (Sungai) atau mengubah muka Sungai menjadi lebih baik. Melakukan Water Treatment agar air menjadi lebih
bersih dan dapat dijadikan objek wisata air Kota Tua Jakarta.
7.
Perlu adanya penghubung atau Connection yang jelas dan menarik
sehingga terjadi kembali dialog antara kawasan Kali Besar Barat dan Timur yang
telah terputus, penghubung yang memiliki vokal point, memiliki fungsi lebih
dari sekedar penghubung dan dapat sebagai penghasil ekonomi bagi warga sekitar
sehingga lebih bermanfaat.
4.2. Kesimpulan
Kesimpulan dari Kawasan Kali Besar
Kota Tua Jakarta yaitu pada saat ini tahun
2016 memang banyak terjadi perubahan dan kerusakan pada Kawasan Kali Besar Kota
Tua Jakarta bila dibandingkan dengan sejarah gambaran kawasannya. Namun kawasan
ini sangat banyak memiliki potensi yang baik, yaitu salah satunya potensi dalam
bidang ekonomi, nilai sejarah dan potensi sebagai kawasan wisata yang baik bagi
para turis luar negeri maupun dalam negeri.
Sumber :
https://alwishahab.wordpress.com/2008/01/21/kali-besar-atau-de-groote-rivier-
1900/
https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Tua_Jakarta
https://id.wikipedia.org/wiki/Kali_Besar





Tidak ada komentar:
Posting Komentar